Archive for the entrepreneur Category

1. Konsep dan Wawasan Entrepreneurship

Posted in entrepreneur on April 16, 2010 by shelmi

1. Konsep dan Wawasan Entrepreneurship
1.1 Enterpreneur
Enterpreneur didefenisikan sebagai orang yang berani memulai, menjalankan, dan mengembangkan usaha dengan cara memanfaatkan segala kemampuan dalam hal membeli baha baku dan sumber daya yang diperlukan, membuat produk dengan nilai tambah yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan menjual produk sehingga bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para karyawan, dia sendiri, perusahaan, dan maasyarakat sekitarnya. Entrepeneur bukanlah sekedar pedagang, namun bermakna jauh lebih dalam , yaitu berkenaan dengan mental manusia, rasa percaya diri, efisiensi waktu, kreativitas, ketabahan, keuletan, kesungguha dan moralitas dalam menjalankan usaha mandiri. Tujuan akhirnya adalah untuk mempersiapkan setiap individu ataupun masyarakat agar hidup layak sebagai manusia.
Enterpreneurship adalah segala hal yang berkaitan dengan sikap, tindakan, dan proses yang dilakukan oleh para entrepreneur dalam merintis, menjalankan, dan mengembangkan usaha mereka. Entrepreneurship tidak dimulai dengan menjual produk dan jasa, tetapi dimulai dengan adnya kesempatan atau peluang yag berasal dari lingkungan yaitu faktor-faktor sosial, ekonomi, politik, hukum dll.

1.2 Karakeristik Entrepreneur
McClelland mangajukan konsep need for achievement ( selanjutnya disingkat N-Ach ). McClelland merinci karakeristik mereka sebagai berikut :
 Lebih menyukai pekerjaan dengan resiko yang realistis
 Bekerja lebih giat dalam tugas-tugas yang memerlukan kemampuan mental
 Tidak bekerja lebih giat karena adanya imbalan uang
 Ingin bekerja pada situasi dimana dapat diperoleh pencapaian pribadi ( Personal Achievement )
 Menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam kondisi yag memberikan umpan-balik yang jelas positif
 Cenderung berpikir ke masa depan serta memiliki pemikiran yang panjang
1.3 Orientasi Entrepreneur
Terdapat 3 pendekatan untuk mengukur orientasi entrepreneurial, yaitu persepsi manajerial, perilaku perusahaan, dan alokasi sumber daya. Orientasi entrepreneurial lebih mengarah pada proses, yaitu bagaimana entrepreneurship tersebut dijalankan yang mencakup metode, praktek, dan gaya pengambilan keputusan untuk bertindak secara entrepreneurial. Orientasi entrepreneurial sangat dipengaruhi oleh faktor budaya. Kemampuan entrepreneurship suatui negara tergantung pada kombinasi yang sangat istimewa dai faktor-faktor budaya, misalnya nilai, sikap, perilaku, norma, serta pranata lainnya yang dapat memperkuat orientasi entrepreneurial.

Kecerdasan Finansial

Posted in entrepreneur on March 28, 2010 by shelmi

APakah kecerdasan finansial lebih menyerupai bakat atau pembawaan sejak lahir? Kecerdasan finansial bukanlah bakat. Kecerdasan finansila bisa dipelajari,bisa diasah, disempurnakan, dipertajam terus- menerus. Jika tidakdiasaah terus,iaakan cepat usang. Apakah kecerdasan finansial semata-mata hanya berfokus pada uang? Tidak. Kecerdasan finansial sesungguhnya berfokus pada manusia.

Fokus pada Tujuan yang Jelas
Sebelum menempa diri menjadi cerdas secara finansial, anda harus memiliki tujuan yang jelas. Berikut ini daftar tujuan wajar yang anda bisa gunakan:
1. Ingin menikmati masa tua yang mudah, dan tidak membebani cucu-cucu.
2. Ingin bebas secara finansial. (bisa memenuhi kebutuhan hidup normal tmpa harus bekerja secara fisik).
3. Menjadi kaya (memiliki banyak aset yang produktif).
4. Bisa menolong orang lain.
5. Ingin membahagiakan keluarga.
Semua itu adalah contoh-contoh tujuan yang jelas dan cukup spesifik. Yang perlu dicatat, kecerdasan finansial adalah senjata yang akan sangat merusak jika berada ditangan orang salah. Jadi anda tidak boleh memilikitujuan yang buruk. Tema finansial bukan semata-mata dunia rasional, melainkan normatif. Kekayaan akan menjadi mulia kalau ditujukan untuk sesuatu yang positif bagi umat manusia.

PersepsiMengenai Uang
Perbaharuilah persepsi mengenai uang. Uang bukan segalanya. Kita bekerja bukan semata-mata demimendapatkan uang. Kita bekerja untuk melayani sesama. Kitabekerja, berfikir, bertindak, untuk kebaikan bersama. Uang adalah konsekuensi. Kalau kita bekerja dengan baik, berdasarkan tujuan yang baik, maka hasilnya akan yang baik pula.
Uang bukan tujuan . uang adalh sarana mencapai tujuan. Yang trpenting adalah apakah anda memiliki Rp 1 milyar saat ini, melainkan apa yang akan anda lakukan dengan uang Rp 1 milyar saat ini (kalau uang itu sudah benar-benar ada ditanga anda).
90% orang merencanakanhal-hal konsumtif begitu mendapatkan Rp 1 milyar tunai. Mereka berfikir tentang liburan mewah ke Eropa, naik kapal pesiar, mobil mewah, busana rancangan desainer, pesta, dll.jarang yangpunya rencana untuk membagi dua uang tersebut: separuh untuk beramal dan separuh untuk modal kerja.
Persepsi Mengenai Bekerja
Anda juga harus mengubah persepsi mengenai bekerja. Sekali lagi, bekerja jangan untuk cari uang. Uang addalah konsekuensi. Bekerjaadalah menciptakan nilai tambah yang bermamfaat bagi semua pihak. Bagi diri anda sendiri, bekerja adalahbelajar. Dimanapun anda bekerja, pasti ada sistem dimana uang diciptakan. Nah, pelajarilah sistem itu. Jadi, kelak anda bekerja tidak untuk mencari uang, tetapi menciptakan uang.

Antusiasme
Menjadi kaya dan bebas secara finansial merupakan perjalanan panjang yang tak kenal henti. Ibarat seorang pelari merathon, anda memerlukan langkah-langkah konsisten dalam jangka panjang. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya.
Disinilah antusiasme berperan penting. Anda harus memelihara antusiasme tersebut dalam jangka panjang. Jangan pernah kehilangan gairah. Hanya dengan rasa ketertrikan yang tinggi, rasa ingin tahu yang begitu besar, anda bisamenemukansuatu cara mengakumulasikan aset yang efektif.

Kesenangan Belajar
Mengasah kecerdasan finansial membutuhkan kesenanga belajar terus-menerus. Jagalah agar kesenangaitu tidak menguap. Selalu menggali hal-hal baru, cara baru, mencari tentang fenomena baru, adalah hal-hal yang bisa mengasah terus kecerdasan anda. Teruslahberfikir mengenai caraanda berfikir.
Dunia berubah perilaku manusia juga berubah. Kalau kita percaya bahwa kecerdasan finansial adalah sesuatu yang menyangkut perilaku manusia, maka tidak ada ruang sedikitpun untuk mengistirahatkan otak.
Kecerdasan finansial bukanlah berapa aset yang telah anda akumulasi. Melainkan seberapa canggih carayang anda temukan, sistem yang anda bangun, dan pola berfikiryang anda terapkan.

Pendidikan skolastikdan profesional tidak mengajari kita cerdas secara finansial. Kita belajar kita belajar akunting disana. Namun kita disiapkan untuk jadi book- keeper bagi aset-aset orang lain. Kita tidak belajar untuk mengembangbiakkan aset sendiri. Para guru dan dosen mengajari kita bekerja untuk mencari uang, bukan menciptakan uang.
Disekolah kita belajar menjadi pegawai yang baik, taat, loyal, dan produktif. Dikampus, kita dipersiapkan menjadi skrup-skrup dari mesin uang milik orang lain. Diberbagai kursus terang-terangan kita dilatih bekerja untuk orang lain. Tak satupun yang mengajari kita bebas secara finansial. Itulah kelemahan sistem pendidikan kita sekarang.
Tapi, hanya karena sekolah tidak menyediakan tempat bagi kecerdasan finansial didalam kurikulum, apakah lantas kita tidak mempelajarinya?kita tetap harus mempelajarinya. Mungkin secara langsung didunia nyata. Mungkin juga kita mempelajarinya secara empirik, dengan pengalaman kongkrit. Atau, mungkin kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman orang lain, entah pengalaman gagal atau sukses.

Belajar dari Dunia Nyata
Banyak orang cerdas secara finansial seelah bertahun-tahun berkecimpung dialam nyata. Mereka tahunikmatnya passive income, lantas terus mencoba meningkatkan aset produktif untuk memperbesar pipa saluran kekayaan. Mungkin awalnya tidak sengaja, tetapi setelah berhasil menemukan polanya, mereka menjadi ketagihan.
Memang, tidak semua pengalaman itu manis. Ada pulayang harus lebih dulu jatuh bangun dan babak belur, sebelum akhirnya bisa membalik kegagaln menjadi kesuksesan. Walaupun harus jatuh bangun terlbih dahulu, mereka masih lebih mendingan dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Para pemilik bisnis dari berbagai perusahaan yang arus kasnya positif, pemilikproperti yang disewakan, pemilik mobil ataubarang-barang lain yang disewakan ;mungkin saja merupakan orang-orangyang mempelajari kecerdasan finansial dari tindakan nyata mereka sehari-hari. Mereka bertransaksi, menjual, membeli, dan melakukan dealing setiap saat. Kadang-kadang rugi. itu biasa. Asalkansaja secarakeseluruhan arus kasnya masih positif. Merekapun akhirnya mampu mengompensasi kerugian disatu transaksi dengankeuntungan pada transaksi lain.
Mereka menggunakan trial and error, learning by doing untuk membangun kecerdasan finansial mereka. Nilai plusnya, mereka benar-benar bisa merasakan dan menghayati proses yang sedang dilakukan. Negatifnya, tentu saja, harusmenanggung learning cost yang tidak kecil.

Belajar dari Menthor
Kelompokyang kedua ini secara konseptual sudah memahami prinsip-prinsip kecerdasan finansial. Mereka hanya membutuhkan contoh nyata, yaitu seseorang yang mereka kenal, yang bisa berinteraksi langsung. Belajar dari menthor memang bisa mengeleminasi kemungkinan gagal.setidaknya, ada yang bisa diajak ngomong kalau mau bermanuver kalau mau menjual atau membeli aset. Ada yang memberi petunjuk-petunjuk berdasarkan pengalaman nyata.
Namun disisi lain, belajarlangsung dari menthor jugaada ruginya. Yang paling riskan adalah besar kemungkinan murid yang meng-copy sang guru. Entah strateginya, way of life, maupun nilai-nilai dalam berbisnis. Kalau yang ditiru merupakan sosokyang sempurna luar dalam (cerdas sekaligus eis). Tapi bagaimana kalausang guru ternyata suka berprilaku tidak etis dalam berbisnis, walaupun dia cerdas luar biasa?.
Hal lain yang harus diperhitungkan adalah besarnya kemungkinan untuk menjadi follower seumur hidup. Sehingga tidak berani untuk menerapkan ide-ide orisinal sendiri, atau kurang percaya diri untuk bersikap kreatif. Padahal, perubahan yang kian cepat menuntut kita untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi.

Belajar dari Ahlinya
Anda bisa belajar dari kursus-kursus singkat mengenai kecerdasan finansial. Anda bisa mengikuti short course, training atau seminar mengenai bagaimana meraih kebebasan finansial dalam waktu dingkat. Anda bisa berinteraksi langsung dengan sang pembicara, yang mungkin saja pemotivasi terkenal atau pakar dibidang ilmu menjadi kaya.
Keuntungannya, anda bisa berdialog langsung dengan mereka. Anda bisa menyerap ilmunya. Anda bisa tertular motivasinya yang meledak-ledak. Anda akan tergerak untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang disarankan oleh pembicara. Bukanlah semanga adalah satu jenis “virus” yang menular?.
Ruginya sang pembicara tidak berfokus pada diri anda. Ada ratusan peserta seminar lainnya. Sang ahli hanya mencoba merumuskan resep yang bersifat generik. Padahal, penerapan berbagai strategi finansial harusmempertimbangkan karakter khusus masing-masing orang. Jadi belum tentu apa yang dibicarakan sang pembicara secara berapi-api itu bisa anda lakukan secara sempurna.
Kelemahan lainnya, tidak semua pakar benar-benar mampu menerapkan teori dalam praktiknya. Banyakpakar atau pengamat bisnis yang tak becus mengelolaperusahaan banyak pula penasihat financial yang hidupnya justru terbelit hutang. Jadi, berhati-hatilah.

Belajar dari Buku
Anda juga bias belajar dari buku.belakangan inibanyak buku beredar mengenai kecerdasan financial parapenulis menyajikan berbagai resep, rumus, dan kiat praktis. Baik dengan gaya bahasa simple praktis dan mudah dicerna, sampai kalimat-kalimat akademis yang sulit dimengerti. Dari uraian dengan kosa kata sehari-hari yang gampang dikunyah, sampai rumus-rumus dan angka yang rumit seperti bikin bom nuklir.
Seperti halnya ikut training atau seminar tentang pengelolaan kekayaan pribadi, belajar dari buku juga banyak kelemahannya. Teori dan trik yang ada di buku, kadang-kadang tidak realistis. Apalagi jika ditulis oleh penulis asing, yang memiliki pengalaman nyata diluar negri. Sebabdunia bisnis dan perekonomian di indonesiamemiliki corak yang berbedadengan amerika serikat. Policyekonominya berbeda, inflasi dan suku bunganya beda, dan prilaku manyarakatnya ( konsumen ) jelas sangat berbeda.

Lakukan Sekarang
Cermati bagaimana uang diciptakan. Amati bagaimana asset berpindah tangan. Seraplah ilmu mengenai kecerdasan financial. Entah melalui pengalaman nyata, pola menthoring, menyerap ilmu sang guru, atau membaca buku, yang jelas ada banyak cara untuk mengasah kecerdasan financial anda.

Ragu-ragu dalam berbisnis

Posted in entrepreneur on August 19, 2008 by shelmi

Kalimat yang hampir selalu muncul dan sering kita dengar pada acara seminar atau pelatihan wirausaha, khususnya untuk pemula adalah,

“ saya sudah lama berdagang tapi kok belum berhasil, Usaha Tidak Maju-maju

Sering Orang-orang yang merasa pintar sebagai pedagang, ternyata tidak selalu sukses menjadi seorang business owner. Ini sama halnya dengan para salesman perusahaan yang tidak sukses ketika mengelola bisnis sendiri. Banyak orang mengira bahwa bisnis hanya berkutat soal berjualan saja. Yang sebenarnya, jika Anda ingin menjadi entrepneur, yang harus Anda lakukan adalah bagaimana membuat tim Anda berjualan produk. Sementara Anda sendiri menjadi pemimpin bagi mereka yang berjualan.

“saya ingin mulai usaha, tetapi saya tidak punya modal”,

Tak sedikit orang, bisa jadi Anda diantaranya, yang selalu berpikir bahwa memulai usaha yang harus disiapkan adalah dana sekian puluh juta. Sepuluh juta untuk sewa kantor, sekian juta untuk beli meja kursi, sekian juta untuk komputer dan alat kantor, serta sekian juta untuk gaji karayawan. Apabila demikian yang harus Anda siapkan anda akan sulit jadi pengusaha.

Kewirausahaan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk terus melangkah dengan modal seadanya. Wirausahawan bisa menggali modal dari pihak lain secara langsung maupun tidak langsung. Jiwa kewirausahaan adalah jiwa yang mampu menciptakan nilai tambah dari keterbatasan. Hakekatnya modal tidak harus dalam bentuk uang otak Anda yang kreatif adalah modal utama untuk memulai usaha.

Selain akal pikiran, ada modal lain yang tak kalah pentingnya yakni 3K, Keberanian, Keyakinan, dan Ketekunan.

Keberanian, Jika ingin memulai usaha baru, modal pertama dan utama bukanlah uang, tetapi keberanian; Keberanian berubah, keberanian untuk bermimpi, keberanian untuk sukses, segunung ide dan segudang uang tak ada artinya tanpa keberanian.

Keyakinan. Selain keberanian, kita juga perlu memiliki keyakinan sukses. Keyakinan ini hanya bisa didapatkan jika kita memiliki mimpi sukses yang jelas. Semakin jelas gambaran kita mengenai mimpi kita, semakin tinggi derajat keyakinan untuk meraih sukses.

Ketekunan. Membangun sebuah bisnis memang tidak mudah. Upaya ini memerlukan perjuangan yang tekun sebelum sukses dapat diwujudkan. Orang yang sukses adalah orang yang tidak menyerah sebelum sukses itu dapat diraih. Mungkin saja ia harus mengalami banyak kegagalan, tetapi ia bangkit kembali dan memiliki keuletan untuk mencoba lagi.

“saya ingin punya usaha tapi takut resiko

Yakinlah Setiap melangkah, Anda pasti akan menghadapi risiko. Tidak melangkah juga menghadapi risiko. Sungguh, banyak orang takut memulai usaha karena ketakutan dengan berbagai macam risiko. Padahal para wirausahawan beranggapan bahwa risiko adalah rejeki, semakin tinggi risiko berarti semakin tinggi peluang untuk mendapatkan rejeki. High risk high gain

Biasanya Keragu-raguan atau ketakutan selalu muncul ketika kita mau memutuskan sesuatu. Orang yang berani muncul bukanlah orang yang tidak punya rasa takut. Orang yang berani adalah mereka yang mampu mengatasi rasa takut. Ketakutan bukan hanya karena kehilangan uang akibat bangkrut, mungkin juga khawatir karena seandainya gagal bisa menjadi cemoohan teman atau tetangga.

Atau Keragu-raguan atau ketakutan selalu muncul ketika anda Trauma karena bisnis anda pernah ditipu karyawan/orang lain. Percayalah, Tuhan akan memberi hadiah yang pantas terhadap setiap usaha keras Anda. Jika usaha Anda belum membuahkan hasil, ketahuilah bahwa Anda punya tabungan kelak dapat Anda nikmati hasilnya. Jika uang Anda dibawa kabur karyawan, dan Anda sudah berusaha mencarinya tapi tak ketemu juga, tak perlu berlarut-larut meratapi musibah tersebut. Tuhan tentu akan mencari ganti dari kehilangan yang Anda alami.

Banyak sekali pebisnis yang ditipu mitra ataupun karyawannya, sedangkan mereka meneruskan bisnisnya hingga terus maju. Sementara itu, orang yang menipunya malah bangkrut. Jangan berhenti berbisnis hanya karena ditipu orang. Teruslah sekuat Anda, niscaya Anda akan lebih cerdas menangani masalah berikutnya.

Ada juga orang yang ingin menjadi wirausaha dengan menabungkan uangnya sedikit demi sedikit lalu setelah terkumpul malah jadi ragu karena takut bisnisnya gagal dan uangnya hilang akhirnya tidak jadi berusaha. Yakinlah jika Anda punya uang dan Anda gunakan untuk membeli makanan serta pakaian, sebenarnya secara bisnis, Anda justru sudah kehilangan uang, ingat, prinsip wirausahawan adalah mengeluarkan uang agar bisa kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Jika Anda bangkrut dalam menjalankan bisnis, carilah penyebab kebangkrutan tersebut. Kelak Anda akan tahu cara-cara yang salah dalam mengelola bisnis untuk Anda hindari.

Untuk menghindari keraguan ada beberapa tips dibawah ini :

1. Pengalaman. Jika mau memilih bisnis, jangan terjebak pada pernyataan pakar ekonomi. Lihatlah kenyataan bahwa di dalam situasi ekonomi seperti apapun, banyak orang yang mampu mengembangkan bisnis. Pengalaman diri sendiri dan juga orang lain, selain merupakan guru yang baik, juga merupakan sumber ide bisnis yang kaya. Pengalaman, terutama yang buruk, memberikan kesan yang mendalam bagi kita, yang tidak mudah untuk dilupakan. Jika pengalaman tersebut adalah pengalaman buruk, kita tentu tidak ingin pengalaman tersebut terulang lagi. Kita akan berusaha mencari jalan “baru” untuk menghindari kesulitan dan masalah yang pernah kita alami. Jalan baru inilah yang memacu munculnya ide-ide bisnis yang brilian.

2. pilihlah bisnis berdasarkan pekerjaan dan keterampilan. Pengalaman kerja dapat menjadi ide bisnis. Banyak mantan eksekutif mendirikan bisnis yang sama atau mirip dengan bisnis yang dijalankan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Tentunya jika ini akan Anda lakukan, Anda harus terlebih dahulu keluar dari pekerjaan agar tidak terjadi conflict of interest.

3. pilihlah bisnis berdasarkan minat dan hobi. minat dan hobi merupakan sumber yang memiliki kekuatan yang ampuh dalam membangun keyakinan serta motivasi bagi kita untuk memulai usaha. Umumnya, orang tidak merasa terbebani untuk melakukan sesuatu yang ia senangi (misalnya minat dan hobi), ini merupakan modal kuat bagi seorang entrepreneur yang menekuni dunia yang memang ia cintai.

4. pengamatan. Pengamatan ternyata juga adalah sumber ide yang tak habis-habisnya. Dari pengamatan akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, kita bisa menemukan kebutuhan-kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, yang bisa kita jadikan peluang bisnis. Pengamatan merupakan keterampilan yang harus dimiliki seorang wirausahawan.

Lokasi Bagus, tetapi bisnis Tidak Laku

Posted in entrepreneur on August 19, 2008 by shelmi

Nah, bagi yang punya tempat bisnis yang strategis, tetapi kurang laku, Anda perlu mengevaluasi dari sisi pelayanan maupun kualitas produk yang Anda jual. Kelemahan-kelemahan umum yang membuat pembeli tidak mau membeli lagi di antaranya sebagai berikut:

1. Pelayan sedang terkantuk-kantuk ketika pembeli datang. Bahkan, kadang-kadang saat pembeli datang, pelayan atau pemilik sedang kebelakang dan tidak ada penggantinya.

2. Pelayan melayani pembeli sambil makan. Biasanya ini terjadi pada jam makan siang. Siapa pun pasti tidak suka masuk ke toko yang pelayannya sedang makan siang, meskipun pelayan tersebut bilang “maaf ya saya sambil makan.”

3. Ketika pembeli ramai, pelayan tidak melayani pembeli sesuai urutam pembeli yang datang.

4. Pelayan tidak ramah. Di toko tradisional, beberapa kali saya ditemui seorang pelayan toko yang judes. Ketika barang yang ia jual saya tawar, ia bilang dengan nada tidak ramah,”tidak bisa pak, kalau tidak mau ya sudah.”

5. Pelayan tidak tahu harga. Setiap ada pertanyaan pembeli, pelayan bertanya dulu ke pimpinannya.

6. Pelayan juga tidak dapat memutuskan apa-apa jika ada pembeli menawar yang harga. Hampir setiap ada pertanyaan pembeli, langsung diteruskan ke pemilik

7. Lokasi strategis, tapi tidak ada tempat parkir.

8. Harga tidak bersaing, ini berlaku khususnya untuk produk-produk seperti sembako atau produk lain yang sasaran konsumennya sensitif terhadap perbedaan harga.

9. Tidak ada program promosi melalui bonus pembelian atau undian.

memulai bisnis tanpa uang tunai

Posted in entrepreneur on August 19, 2008 by shelmi

Ada beberapa langkah yang bisa diambil bila akan memulai bisnis tanpa uang tunai.

Pertama, menjadi ‘makelar’. Kerja makelar atau lebih tepatnya “perantara” adalah menjadi penghubung antara penjual dan pembeli. Contoh dari teknik ini adalah makelar motor, rumah atau lainnya. Syarat utama yang harus dimiliki adalah memahami barang yang menjadi objek jual beli tersebut.

Kedua, menggunakan sistem bagi hasil. Pada sistem ini kita mengandalkan kuatnya relasi dan kepercayaan. Biasanya, bisnis model ini diawali dari pertemanan atau hubungan baik. Berapa bagi hasil yang harus dilakukan tergantung pada kesepakatan. Biasanya fifty-fifty. Bentuk usaha bisa diwujudkan dalam berbagai hal, usaha warung makan, kios, photocopy, dan lain sebagainya.

Ketiga, meminjam dengan sistem menggaji. Model ini hampir mirip dengan model bisnis kedua. Lagi-lagi pertemanan dan hubungan baik memegang peran penting. Relasi meminjamkan modal dalam jumlah tertentu. Setiap bulan kita menggaji sesuai dengan kesepakatan. Biasanya, 7-8 % setiap bulan. Dan dalam tempo yang sudah ditentukan, modal yang dipinjamkan itu dikembalikan sepenuhnya pada relasi.

Keempat, pembayaran di muka. Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran di muka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis dimana konsumen yang menjadi sasaran bisnis kita itu mau membayar atau mengeluarkan uang lebih dulu sebelum proses bisnis, baik jasa maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri jasa pendidikan. Di mana, siswa diwajibkan membayar dulu di depan sebelum proses pendidikan itu terjadi.

Kelima, sistem barter, contohnya, kita bisa melakukan dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian tertentu, mengapa tidak saja menjadi seseorang konsultasi.

Keenam, mengambil produk dulu. Selain itu, bisa saja dengan cara kita mengambil dulu produk yang akan diperdagangkan lebih dulu, hanya untuk pembayarannya bisa kita lakukan setelah produk tersebut terjual pada konsumen. Tentu, masih banyak cara lain untuk kita memulai bisnis tanpa uang tunai.

Strategic Entrepreneurship

Posted in entrepreneur on March 31, 2008 by shelmi

Saat ini perubahan dalam dunia bisnis terjadi begitu cepat, hal ini dipicu oleh ledakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Produsen terus berlomba-lomba untuk menyenangkan konsumennya melalui terobosan baru, inovasi-inovasi, dan berbagai kemudahan lainnya, pendeknya consumen is not the king , but beyond the king. Akibatnya siklus umur produk juga semakin pendek bahkan tak jarang produsen melakukan  pembunuhan terhadap produk sendiri (product obscelence) yang penting usahanya /bisnisnya tetap menjadi leader bagi produk sejenis. Kondisi ini menyebabkan tingkat persaingan menjadi semakin ketat. Tiap perusahaan ingin tetap hidup (survive), berkembang dan mencapai tujuannya. Untuk dapat maju dan tumbuh tiap  perusahaan harus mampu bersaing. Oleh karena itu perusahaan mesti mempunyai strategi bersaing.  Persaingan tidak dapat dihindari, oleh karena itu mesti dihadapi. Di samping harus bersaing dengan perusahaan sejenis dan pemain lama, perusahaan juga harus menghadapi para pemain dan pendatang baru (new entrant), serta serbuan barang substitusi. Masih segar dibenak sebelum tahun 1998, pasar industri sepeda motor dikuasai oleh beberapa pemain saja, seperti Honda, Yamaha, Suzuki , Kawasaki dan Vespa. Namun sekarang ini, dengan masuknya pendatang baru dari Korea maupun Cina, maka jumlah merk sepeda motor menjadi sulit untuk dihapal, karena saking banyaknya. Demikian pula halnya dengan bisnis minuman dalam kemasan, Aqua menjadi merk generic, disusul dengan munculnya banyak merk lain yang mirip dengan Aqua.          Salah cara untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan melakukan perencanaan stratejik yang matang, yakni melakukan  aktivitas formulasi rencana jangka panjang bagi efektivitas pengelolaan peluang (opportunity) dan  tantangan lingkungan bisnis  sesuai dengan kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) , pendeknya adalah bagaimana suatu perusahaan mampu memprediksi,  mengantisipasi dan memanage masa depan yang turbulence and uncertainty.            Setidaknya ada 4 langkah  agar proses perencanaan stratejik yang dilakukan bisa berhasil.1.       Diagnosing the  organization. Pepatah Suntzu mengatakan bila kita dapat mengenali kekuatan dan kelemahan lawan niscaya peperangan akan kita menangkan.  Melakukan analisis SWOT berarti kita  bisa menentukan posisi perusahan,  apakah posisi bisnis kita leader atau follower.  2.       Analysing the industri.  menganalisa dampak industri terhadap pengembangan usaha . Porter mencatat banyak entrepreneur yang mengangap bahwa industri yang menarik adalah yang berkembang pesat atau menggunakan teknologi baru. Hal ini tentu saja keliru,  sesuai dengan hukum ekonomi semakin banyak pesaing tentu saja kemungkinan profit akan semakin kecil.3.       Creating a Vision. cara pandang jauh ke depan kemana perusahaan  harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif, dan inovatif. Visi yang baik setidaknya memenuhi tiga syarat utama yang tidak boleh tertinggal satupun. Pertama, harus berorientasi pada kegiatan. Kedua, harus terukur (measurable). Dan ketiga, harus mampu mengubah basis kompetisi. 4.       Developing strategies. memformulasikan strategi perusahan baik jangka panjang dan jangka pendek (tujuan, sasaran , kebijakan dan prioritas program). Menurut Higgins and Vinece  dalam setiap perusahaan ada tiga tingkatan strategi yakni Coorporate strategy, Business strategy, and Financial strategy”.  Entrepreneur dan inovasi           Schumpeter melihat entrepreneur adalah sebuah proses “destruktif yang kreatif” , dimana produk-produk  atau metode produksi yang sudah ada dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Oleh karena itu entrepreneuship berkaitan dengan penemuan, pendayagunaan peluang-peluang yang menguntungkan. Dengan kata lain fungsi spesifik dari entreprenur adalah inovasi. Inovasi berarti penciptaan nilai sebagai sumber keunggulan kompetitif. Tanpa inovasi cara/metode baru tidak akan pernah ditemukan.  Melalui inovasi, para entrepreneur akan terus melakukan ekspansi  memperluas daerah pemasaran, menambah jumlah pelanggan meningkatkan penjualan dan laba . Dalam perspektif strategic management , research and development (R&D) adalah bentuk lain dari inovasi.  Kenyataan ini diterima secara luas oleh perusahaan di Jepang, walaupun perekonomian menurun namun divisi R&D tidak akan pernah berhenti. Hal inilah yang menyebabkan Jepang menjadi salah satu pemain kunci dalam bidang pengembangan produk yang berbasiskan teknology.  Perusahaan –perusahaan terbaik di dunia saat ini seperti, Samsung Electronic , Sony, Xerox, Hewlet Packard, General Electric adalah perusahaan yang terus-menerus berkomitmen untuk memberikan solusi inovatif  bagi masalah-masalah pelanggan. Hal inilah yang menjadikan mereka terus mengembangkan riset demi keunggulan kompetitifnya Strategic entrepreneurship Sayangnya masih banyak yang menganggap bahwa perencanaan strategis hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar. Sebenarnya ini tidak terlalu benar, sebab perusahaan kecil juga dapat melakukan perencanaan strategic. karena kunci sukses suatu perusahaan tergantung pada kemampuan entrepreneur mengadakan adaptasi yang tepat terhadap lingkungan yang kompleks dan selalu berubah-ubah sehingga diperlukan suatu kerangka pengembangan strategi. Dalam pengembangan strategi ini setiap entrepreneur perlu menganalisis faktor- faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kinerjanya agar dapat digunakan sebagai pedoman strategi pengembangan industri. Porter menyatakan ada lima hal yang harus dikenali dan diperhitungkan dalam menentukan intensitas persaingan dan kemampulabaan dalam industri. yaitu : (1) ancaman dari para pendatang baru, (2) faktor pemasok, (3) faktor pembeli, (4) faktor produk substitusi, dan (5) faktor persaingan. Kekuatan yang paling besar akan menentukan dan menjadi sangat penting dari sudut pandang perumusan strategi          Oleh karena itu, seorang entrepreneur harus bisa menunjukkan atau menggali keunggulan-keunggulan strategis yang dimilikinya agar mempunyai inovasi untuk menghadapai persaingan sehingga keberhasilan yang menjadi tujuan perusahaan