The Inovation Killer

Bagi sebuah perusahaan, inovasi merupakan pengalaman yang didapatkan dengan susah payah. Inovasi merupakan faktor penentu sebuah perusahaan berhasil.  sayangnya banyak  perusahaan inovatif justru harus tersandung dan akhirnya jatuh akibat merasa telah melakukan inovasi. Sederet perusahaan inovatif seperti Siemens, Nokia,  Sony, Research In Motion harus terjungkal dari pasar akibat inovasi.

Ahli ekonomi ternama, William J Baumaol, menulis makalah yang berjudul pendidikan untuk inovasi. Ia menggambarkan dampak negatif pendidikan formal pada kemampuan inovatif. Menurutnya pendidikan formal akan mendoktrin individu untuk menjadi ahli satu bidang saja. Sedangkan inovasi adalah terobosan hasil individu yang relatif memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah seperti karya Wilbur wright dan Orville Wright (penemu pesawat terbang hanya dengan ijazah SMA), Steve Jobs, Bill Gates, Michael Dell, Mark Zukerberg (Droupt Out dari universitas).

Cynthia Barton Rabe,  dalam bukunya The Inovation Killer (2014) menyatakan Paradoks keahlian dan pemikiran kelompok yang menghancurkan  inovasi.  Kebiasan untuk membuat keputusan berdasarkan pemikiran kelompok atau pendapat ahli seringkali mengakibatkan mandulnya ide-ide baru. Orang yang kurang pintar akan merasa takut mengeluarkan pendapatnya atau akan merasa sia-sia jika mengeluarkan pendapat. Akibatnya secara perlahan-lahan organisasi mengubah orang-orang cerdas menjadi sekolompok orang-orang penurut. Contoh kasus jatuhnya enron adalah dewan direksi mengabaikan banyak praktek meragukan yang dilakukan oleh manajemen enron pada pemegang saham, rekan bisnis dan pegawai.

Publikasi hasil penelitian California Management Review mencatat bahwa 7 dari 10 karyawan dalam bisnis Amerika berkata bahwa mereka tidak bicara saat pendapat mereka bertentangan dengan Atasan. Bhakan saat kita tahu kita benar, sebagian dari kita hanya diam saja.  Harvard Communication Letter memperkenalkan istilah “Captainitis” untuk menjelaskan kecenderungan yang dimiliki oleh orang-orang untuk tidak mempertanyakan otoritas

Point pentingnya adalah pemikiran kelompok atau pemikiran ahli seringkali merusak sehingga membuat orang  untuk ikut setuju saja dengan keputusan mayoritas, meskipun ada kesadaran bahwa pemikiran ini akan menggangu. Tetapi demi menjaga hubungan baik, ketidaksetujuan hanya disimpan diam-diam. Sedangkan organisasi yang suskes rentan terhadap pemikiran ahli dan efek merusak dan dapat ditimbulkan pada inovasi

Pernah Dengar Kisah Marion Obrien Donovan ? karena tidak ada popok bayi yang tidak bocor, ibu ini mengembangkan popok anti bocor, ia mencoba menjual idenya ke pabrik-pabrik besar pembuat produk bayi. Namun pabrik-pabrik itu menolak dengan alasan tidak ada orang yang menginginkan produknya. Penemuan Marion didiamkan hampir selama 10, hingga seorang bernama Victor Mills membeli paten tersebut dan menciptakan Pampers

Contoh Apple lainnya tidak akan sukses besar jika mengikuti pendapat ahli yang menyatakan dalam Personal Computer fungsionalitas adalah raja. Padahal para marketer menyatakan bahwa desain yang gaya disertai fungsionalitas yang baik dapat menjadi perbedaan faktor kompetitif.

Kisah Marion Obrien Donovan dan Apple menunjukkan bahwa mereka tidak akan sukses jika mengikuti pemikiran kelompok atau pemikiran ahli. Paul Arden pengarang buku laris “What you think, think in Opposite” menyatakan jangan selalu mengikuti orang lain, beranilah berbeda.

Masalah ini dimulai ketika perusahaan selalu mencari yang terbaik dan tercemerlang dibidangnya. Akhirnya perusahaan selalu terfokus pada pendapat ahli.  Dalam diskusi anggota akan selalu menuruti pendapat sang ahli. Pada situasi ini inovasi akan sulit tercapai. Padahal menurut Tom Kelley, GM IDEO,  yang menulis The Ten Faces Of Inovation  mengatakan inovasi optimal akan tercapai jika kelompok kerja dibangun berdasarkan disiplin ilmu dan latar belakang yang berbeda-beda. Pendapat yang sama dari Robert Sutton, akademisi dari stanford University, dalam bukunya Weird Ideas That Work bahwa membangun sebuah budaya manajemen inovasi sebaiknya melibatkan sumber saran-saran dari banyak fihak.  Kombinasi yang tidak biasa akan membongkar pola fikir tradisional, ujar Albert Rothenberg.

Adanya dominasi pemikiran kelompok atau pemikiran ahli, membuat orang didalam kelompok menjadi malas berfikir atau malas mencari tahu. Arthur Scawlow, Ahli Fisika Pemenang Nobel menyimpulkan ilmuwan yang paling sukses seringkali bukanlah yang paling berbakat, namun yang terdorong rasa ingin tahu.  Lewis Teman, Psikologis Stanford University meneliti lebih dari 1000 anak berbakat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang berbakat secara intelektual adalah anak yang dibesarkan dalam keluarga yang memberi pelajaran dalam banyak hal. Rumah mereka  penuh dengan buku dan majalah, mereka berpergian ke berbagai museum, konser atau pameran budaya sehingga mereka mengekspos ide-ide yang berbeda.

Studi yang dilakukan oleh Merton Reznikoff, George Dinamo, Carolyn Bridges dan Merto Honeymoon terhadap 117 anak kembar identik menyimpulkan bahwa kreativitas bukanlah karena faktor genetis.  Pola Asuhlah yang memmainkan peran utama pada berkembangnya kreativitas.

Agar Inovasi berhasil

Proses inovasi haruslah diawali oleh tahapan yang disebut identifikasi problem. Perusahaan perlu melihat program inovasi sebagai program untuk menjawab problem yang ada di pasar. Dan, problem tersebut harus diidentifikasikan dengan tepat. Tujuannya adalah solving the right problem right! Open mindset dan Keberanian mengambil risiko berperan penting di sini, karena sesuatu yang baru pasti rentan kegagalan. karakter yang kreatif dan daya imajinasinya yang tinggi adalah dasar eksplorasi ide, cikal bakal sebuah inovasi.

Selanjutya Penentuan Visi. Dalam menjalankan kreativitas dan menciptakan solusi baru, seorang inovator harus memiliki kemampuan melihat the big picture atau yang sering disebut visi. Ini penting untuk memfokuskan perjalanan inovasi kepada suatu objek sasaran yang jelas dan nyata. (Lihat books 7 dosa mematikan). Berikutnya adalah Komitmen. Komitmen adalah janji pada diri sendiri. Jika memiliki komitmen tinggi terhadap visi, maka proses inovasi akan terus berjalan walaupun mengalami banyak tantangan dan hambatan.

Robert Shelton dan Tony Davilla (2005) dalam bukunya Making Innovation Work, agar inovasi perusahaan berhasil, sangatlah penting untuk mengerti elemen kunci inovasi perusahaan.  Elemen tersebut adalah Masukan : berupa dukungan strategi,struktur, proses, komitmen karyawan dalam inovasi, akses kepada karyawan berbakat; Proses : Portfolio inovasi berimbang, eksekusi efektif proyek, nilai tambah kemitraan, jalur kualitas inovasi; Keluaran : kinerja produk, kepemimpinan teknologi, perbaikan proses, pelanggan baru, pertumbuhan penjualan pelanggan tetap. Ketiga elemen tersebut akan memberikan Hasil yakni : pertumbuhan penjualan, pertumbuhan keuntungan dan nilai pasar perusahaan. Jika dilihat lebih lanjut, terlihat adanya dua dimensi pendukung yang mesti dipenuhi yakni dari sisi Sistem (struktur, teknologi, proses ) serta Budaya (komitmen karyawan, akses karyawan berbakat). Kedua dimensi yang kuat ini akan memberi dukungan penuh lahirnya inovasi sebagai sumber nilai bagi perusahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: