Si Cerdas yang Logis dan Si Cerdik yang Imajinatif

Seorang yang kreatif memang selalu banyak ide, cenderung berani mengambil risiko, peka terhadap keadaan sekitar, mampu mengutarakan imajinasi, dan terbuka terhadap pendapat orang lain. Namun, orang yang kreatif sering kali sulit untuk dibatasi dengan peraturan. Misalnya, seorang seniman atau pelukis. Seniman biasanya bekerja dengan waktu yang bebas karena menunggu datangnya inspirasi. Akan sulit bagi para seniman untuk bekerja terjadwal! Ketat dan dipaksa mendatangkan inspirasi.

Ciri-ciri si kreatif

  • Imajinatif
  • Rasa ingin tahu yang tinggi
  • Kritis
  • Berani ambil risiko
  • Peka terhadap situasi lingkungan
  • Terbuka terhadap kritik
  • Mampu mengartikulasikan ide
  • Umumnya sulit kerja terjadwal

 

Seorang yang analitis memiliki kecenderungan untuk hidup terjadwal, penuh kendali terhadap dirinya sendiri, disiplin, sistematis, penuh logika, dan konvensional. Contoh profesi yang membutuhkan sifat analitis pada diri pekerjanya adalah akuntan publik. Tugas seorang akuntan publik adalah mencari keganjilan-keganjilan pada laporan keuangan suatu perusahaan. Biasanya, pekerjaan mereka memiliki deadline yang tegas, membutuhkan pola berpikir yang sistematis, dan pola kerja disiplin. Akan sulit apabila seorang akuntan publik memiliki pola kerja yang bebas dari deadline dan menunggu inspirasi atau mood kerja layaknya seorang seniman.

 

ciri-ciri si analitis     :

v  berpikir sistematis

v  disiplin tinggi

v  menghargai fakta yang disampaikan secara logis

v  menyukai orang –orang yang terorganisasi

v  teliti dan focus pada detail masalah

v  cenderung by book

v  lama dalam mengambil

 

Pembentukan karakter dipengaruhi oleh :

  • Karakter dasar/bakat alam
  • Pola didikan orangtua
  • Pola didikan institusi/sekolah

Selain didasari faktor “bakat alam” yang merupakan pemberian Tuhan, pembentukan karakter seseorang menjadi kreatif atau analitis juga dipengaruhi oleh pola pendidikan di rumah. Anak yang kreatif harus diberikan kebebasan berekpresi, namun tetap perlu diawasi agar imajinasinya terarah. Anak kreatif memang sulit melakukan kegiatan yang terjadwal. Oleh karena itu, Ibu Cerdi selalu membiasakan anaknya untuk bertanggung jawab agar mampu berkegiatan dengan  lebih terstruktur.

 

Menjebatani perbedaan karakter dalam bekerja ternyata tidak mudah. Apalagi dalam masa remaja. Dari kisah Cerdi dan Cerda tersebut, kita bisa mempelajari sumber-sumber perselisihan antara keduanya. Orang kreatif memang tidak mudah berhadapan dengan deadline. Tapi, ini harus diperbaiki. Bayangkan jika Anda suatu saat bekerja sebagai desainer grafis dalam suatu majalah. Pekerjaan itu memang membutuhkan inspirasi dan kreativitas, tapi kalau terus menerus menunggu ilham datang, semua majalah bulanan bisa terbit enam bulan sekali. Sebaliknya remaja analitis cenderung kaku terhadap rencana-rencana dasar dan kurang menghadapi stres.

            Gabungan antara sifat analitis dan kreatif dibutuhkan dalam memecahkan masalah secara efektif. Cerdi dan Cerda sebenarnya tim yang sempurna. Ide selalu lancar dari Si Cerdi dan sistematika bekerja dilaksanakan oleh Cerda. Cerda

 

mampu berpikir sistematis dalam mencari akar masalah dan Cerdi mampu menggunakan imajinasinya dalam mencari solusi. Asyik banget jika Anda punya teman kerja sama yang saling mengisi seperti Cerdi dan Cerda.

            Untuk memecahkan masalah secara efektif, pertama Anda harus mengidentifikasi akar permasalahan yang ada. Diperlukan analisis dan sistem berpikir yang terstruktur seperti Cerda untuk dapat mengenali akar suatu masalah.

            Pemecahan masalah efektif yaitu :

  • Menidentifikasi akar masalah, pola pikir sistematis dan analitis
  • Mencari solusi kreatif
  • Implementasi solusi kreatif

Pada saat Cerdas terus menerus mengingatkan Cerdik perihal deadline desain kostum, Cerdik malah kesal karena Cerdik bawel dan “nggak ngerti kerja kreatif” sehingga terus menerus mengejar Cerdik akan deadline. Peringatan-peringatan dan ocehan Cerdas sebenarnya hanya gejala dari akar masalah. Tanpa Cerdik sadari, akar permasalahan sebenarnya ada pada dirinya sendiri, tidak bisa mengontrol waku dan inspirasi dalam bekerja harus dikejar-kejar terus oleh Cerda.

Setelah kita mengetahui akar dari suatu masalah, sekarang saatnya kita mengeluarkan “ke-Cerdikan” kita! Kreativitas sangat dibutuhkan dalam mencari solusi sebuah permasalahan. Kreativitas juga bisa dikombinasikan dengan riset informasi guna menmabah inspirasi solusi kita. Riset bila dilakukan melalui berbagai cara dan media: buku, majalag, internet,bertanya kepada orang lain yang telah berhasil menghadapi masalah serupa, sampai observasi.

Setelah melakukan riset, baru kita kembangkan penemuan sesuai dengan gaya dan kreativitas yang kita miliki. Akar masalah Cerdik adalah, tidak bisa mengontrol waktu dan inspirasinya dalam bekerja. Setelah tahu akar permasalahannya, Cerdik bisa melakukan riset dengan mencoba buku atau artikel yang membahas kerja kreatif berdeadline. Setelah kita tahu akar permasalahan dan solusi kreatif, sekarang saatnya untuk implementasi. Mungkin ini yang paling sulit dan membutuhkan disiplin tinggi. Tapi, ketika solusi yang tepat sudah bisa diimplementasikan, penyelesaian masalah sudah ada di tangan kita.

Sumber : Breakthrough Thingking, bagaimana cara para innovator berpikir


One Response to “Si Cerdas yang Logis dan Si Cerdik yang Imajinatif”

  1. Terima kasih atas artikel bapak sehIngga saya dapat berpikir sistematis dalam mengatasi masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: