Jurus 9: Waspadai Zaman Edan

Positivity di Tengah Persaingan
Pada bab ini anda akan menjadi saksi perseteruan antara tiga besar, yakni Scott Paper, Kimberly-Clark, dan Procter & Gamble (P&G). Begini ceritanya. Pada awalnya, Scott menguasai produk berbasis kertas, pemain lainnya adalah Kimberly. Nah, pada akhir tahun 1960-an, P&G mulai merambah produk berbasis kertas. Kemudian, bagaimana reaksi Scott? Melihat reputasi P&G yang tak terkalahkan, mereka malah merasa kalah dan menyerah. Tanpa perlawanan, mereka pun mundur teratur dari posisi nomor satu.
Bagaimana pula dengan Kimberly? Dalam satu rapat internal, direktur Kimberly pernah berkata, “Marilah kita berdiri, menundukkan kepala dan diam sejenak.” Menghadapi suasana mengheningkan cipta seperti itu, hadirin pun bertanya-tanya dalam hatinya, “Oh, siapa yang meninggal, ya?” setelah hening beberapa saat, sang direktur mengangkat kepalanya dan berujar dengan nada sedih, “rekan-rekan sekalian, itu adalah untuk P&G!” suasana di ruangan itu pun langsung heboh! Secepat angin, optimism dan rasa percaya diri si direktur membakat semangat bawahannya. Memang, mindset first, then strategy berlaku dalam segala aspek.
Positivity itu pun menggelora terus menerus. Terbukti, 25 tahun kemudian Kimberly berhasil mengambil alih Scott sepenuhnya dan mengalahkan P&G dalam enam dari delapan produk. Sungguh mengagumkan!
Padahal sebelumnya, di pasar, Scott adalah jawara dan Kimberly tidak ada apa-apanya. Namun, tatkala diusik oleh raksasa seperkasa P&G, Scott malah berpikir negative. Sebaliknya, Kimberly justru berpikir positif-dalam artian lebih optimis serta lebih percaya diri.
Untuk dapat berpikir dalam kerangka yang positif secara total, ada tiga tahapan yang mesti dilalui. Pertama-tama, cobalah berpikir positif kepada Yang Maha Kuasa. Artinya, kita sungguh-sungguh percaya bahwa apa saja yang kita alami adalah pemberian Tuhan yang terbaik bagi kita. Langkah kedua, cobalah berpikir secara positif terhadap diri sendiri. Di tangan-Nya, tak diragukan lagi, segala sesuatu adalah mungkin. Dan yang terakhir, sepenuh hati saya berharap, sebagai pelaku bisnis, jangan pernah sekalipun ande meremehkan visi dan potensi anda. Jika terlintas di benak anda sekali saja bahwa sesuatu itu tidak mungin, maka percayalah sesuatu itu akan benar-benar tidak mungkin terealisasi.
Positivity di Tengah Zaman Edan
Mungkin anda merasa heran, kenapa saya sebut dangan zaman edan? Karena semua berjalan dengan berbalik arah. Dalam zaman edan ini, ada setidaknya lima tren bisnis yang dapat ditelusuri.
Pursuit for Spirituality, itulah tren bisnis yang pertama. Konon pada zaman nabi, spesies manusia adalah makhluk spiritual. Namun, sepeninggal nabi, perlahan-;ahan spesies ini menjelma menjadi makhluk rasional. Tidak cukup sampai di situ! Seiring perjalanan waktu, spesies manusia berubah lagi, dari makhluk rasional menjadi makhluk emosional. Proses inmi masih terus berlanjut. Anehnya, memasuki mileniium kedua prosesnya seolah-olah berbalik arah. Spesies manusia malah kembali menjadi makhluk spiritual. Setidak-tidaknya, spesies manusia mulai kangen sentuhan-sentuhan spiritual, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbisnis.
Tren bisnis yang kedua tidak lain ialah Societal Marketing, yang merupakan turunan dari Pursuit for Spirituality. Dahulu, sembari menjalankan usahanya, seorang pedagang amat peka dengan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Piker si pedagang, “jangan sampai saya mengotori lingkungan, jangan sampai saya mengganggu masyarakat.” Begitulah kira-kira. Kemudian, tibalah Revolusi Industri. Lalu, gampang ditebak, perkara-perkara tersebut pun terabaikan. Nah, bagaimana dengan lima tahun terakhir? Tanpa disangka-sangka, semuanya malah berjalan berbalik arah! Atas nama Social Marketing, di samping dituntut untuk menjaga integritasnya, kini pelaku bisnis juga didesak untuk melek akan lingkungan dan masyarakat di sekelilingnya.
Tren bisnis yang ketiga adalah People Power. Sebelum Revolusi Industri, missal seorang konsumen membutuhkan sebuah kemeja. Apa yang perlu ia lakukan adalah mendatangi penjahit kenalannya-nukan toko pakaian, karena belum lazim kala itu. Si penjahit pun dengan senang hati menyambut dan melakukan tawar-menawar harga. Kemeja pun jadi dengan ukuran, rancangan, dan warna yang dikehendaki konsumen. Ada empat kata kunci di sana, yaitu layanan perorangan, kesepakatan harga, produk kkhusus, dan cerita dari mulut ke mulut. Kemudian, setelah Revolusi Industri mulai datang, semua fenomena tersebut lenyap! Dan tidak ada lagi layanan perorangan. Semuanya serba ditentukan secara sepihak oleh pabrik demi setu-satunya tujuan, yakni produksi secara masal, tidak memikirkan apakah konsumen suka atau tidak suka. Lha, dewasa ini apa yang terjadi? Segalanya justru berjalan berbalik arah. Inilah masa ketika konsumen dianugerahi kekuatan yang luar biasa. Lantaran tumpah ruahnya informasi dan pilihan.
Tren bisnis yang ke empat adalah Pursuit for Simplicity. Dulu, waktu luang yang tersedia amatlah banyak. Barang yang tersedia sangatlah sedikit. Walhasil, konsumen memilih sesuatu yang sederhana karena mwmang hanya itulah yang ada. Lima tahun belakangan ini, yang terjaadi justru sebaliknya, waktu luang yang tersedia amatlah sedikit. Barang yang tersedia sangatlah banyak. Terus, apa yang menjadi preference konsumen? Ternyata, konsumen tetap menyukai sesuatu yang sederhana. Dengan perilaku konsumen seperti itu, maka tantangan bagi pelaku bisnis adalah bagaimana menjadikan kesederhanaan itu sebagai suatu keunikan.
Tren bisnis ke lima adalah Positivity Insurrection. Indicator-indikator ekonomi nasional, layaknya pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat investasi, tingkat pengangguran, dan lain-lain, tidak satu pun menunjukkan digit yang terlalu stimewa. Lalu, apakah itu semua mampu melunturkan semangat pelaku bisnis? Akhir 90-an itulah yang menghantui masyarakat Indonesia. Akan tetapi, belakangan ini yang terjadi justru sebaliknya, pelakubisnis tidak lagi memusingkan apa-apa yang tidak bisa ia kendalikan. Mereka malah memusatkan perhatian pada apa-apa yang bisa ia kendalikan. Sebenarnya pola piker mereka sederhana saja, positifkan yang negative! Ujung-ujungnya, roda bisnis pun kembali berputar.

sumber : Ipho santoso, 10 Jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: