Jurus 7: Masuklah ke Surga Paling Dulu

Jadilah penjual
Mengawali bab ini, saya ajak Anda mengingat-ingat kembali hukum kekekalan energy yang pernah diajarkan di bangku sekolah. Tahu tidak, uang juga bekerja seperti itu? Maksudnya, uang tidak pernah musnah! Uang hanya berpindah! Apakah ke kantong orang lain, ke bank yang lain, atau ke negara yang lain.
Dalam kitab saja dituliskan bahwa 90% rejeki itu berasal dari berjualan. Nah, jika kita sudah mulai berjualan sejak lama, maka dari penjual maka akan naik level menjadi pengusaha. Tetapi, tahukah anda, ada beberapa persamaan antara penjual dengan pengusaha. Apa itu? Pertama, baik penjual maupun pengusaha sering ber-networking dan deal langsung denga pasar. Sesuatu yang jarang dialami oleh mereka yang tidak terjun dalam bidang penjualan. Selain itu, penawaran produk kepada konsumen pun tidak asing lagi bagi penjual dan pengusaha.
Berikutnya, mari kita amati risikonya. Penjual mana yang tidak pernah ditolak? Pengusaha mana yang tidak pernah jatuh? Dengan kata lain, ketidakpastian sudah menjadi makanan sehari-hari penjual dan pengusaha. Persamaan yang terakhir, baik penjual maupun pengusaha dikondisikan untuk memperoleh income berdasarkan transaksi, bukan berdasarkan gaji semata.
Apakah anda melihat apa yang saya lihat? Batapa salesmanship itu berkorelasi positif dengan entrepreneurship! Nah, dengan adanya persamaan-persamaan tersebut, mestinya tidaklah ruwet bagi seorang penjual berpindah kuadran, dari kuadran kiri ke kuadran kanan. Dari pekerja menjadi pengusaha. Satu-satunya yang dibutuhkan oleh penjual adalah kenekatan untuk mengundurkan diri dan merintis bisnis sendiri. Hanya itu!
Jadilah pengusaha
Lagi pula, menurut saya, menjadi pengusaha itu hamper-hampir wajib hukumnya! Sebenarnya terdapat segudang manfaat di balik entrepreneurship. Pertama, alih-alih mencari lowongan pekerjaan, pngusahan malah membuka lapangan kerja bagi khalayak. Asal tahu saja, seorang pengusaha yang berpengalaman mampu mengaryakan belasan hungga puluhan orang. Yah, paling tidak, ia membuka kesempatan kerja untuk dirinya sendiri. Bagi Anda yang berkarier, begitu anda mengundurkan diri dan menjadi pengusaha, maka posisi yang anda tinggalkan bisa diisi oleh orang lain. Dengan kata lain, anda telah memberikan peluang kerja kepada sesame. Mulia bukan?
Manfaat kedua, dengan menjadi pengusaha, pendapatan kita tidak lagi dipatok. Pendek kata, pendapatan kita akan lebih besar. Lazimnya semakin besar pendapatan seseorang, semakin besr pula sumbangannya. Lihatlah di sekitar anda. Tidak terkira jumlah sekolah, kampus, rumah sakit, dan tempat ibadah yang dirintis oleh pengusaha. Itu bukan Cuma mulia, tetapi sangat mulia!
Manfaat selanjutnya, dengan menjadi pengusaha, kita memiliki keleluasaan waktu. Berkumpul dengan keluarga? Bisa. Jalan bareng teman? Bisa. Termasuk keleluasaan beribadah. Itu artinya, tuhan pun turut melihat kita menjadi pengusaha. Selain itu, dangan adanya keleluasaan waktu, kita juga bisa menggali dan mengasah potensi diri. Tidak sedikit orang yang dianugerahi kelebihan yang menakjubkan dan mengejutkan, namun ia tidak pernah menyadarinya bahkan sengaja melupakannya, lantaran ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sayang ‘kan? Siapa tahu anda menyimpan bakat sebagai penulis buku, perancang busana, pencipta lagu, dan masih banyak lagi.
Pokoknya begitu banyak menfaat dari entrepreneurship. Itulah perbedaan nyata antara kuadran kanan dengan kuadran kiri. Makanya saya berani mengemukakan, menjadi pengusaha itu hamper-hampir wajib hukumnya!
Jadilah Pemimpin
Dalam usia yang masih 20-an, John Schnatter sudah mulai berwiraswasta dengan membuka toko pizza. Ketika harus memilih merek, ia lebih suka mengusung namanya sendiri, yakni John. Jadilah Papa John’s pada tahun 1984. Saking tenar dan terkenalnya, di Indonesia merek ini ditiru menjadi Papa Ron’s. berkat ngeyel dan ngengkel, ia berhasil membuka cabang menjadi 46 outlet pada tujuh tahun petama. mangagumkan? Namun itu belum seberapa. Justru yang paling mengesankan adalah apa yang terjadi pada tujuh tahun berikutnya, ketika jumlah outletnya melonjak secara eksponensial menjadi lebih dari 1600 unit! Wow, luar biasa!
Selain itu, rata-rata penjualan per outletnya bahkan sanggup mengalahkan nama-nama besar layaknya Pizza Hut, Domino’s, dan Litlle Caesar’s. kok bisa sehebat dan sedahsyat itu, ya? Ternyata John Schnatter cukup lihai dan piawai dalam memimpin. Hanya itukah? Tidak juga, dia tidak sembarang memimpin. Dia memimpin para pemimpin. Tidak kurangk figure-figur kelas satu seperti Wade Oney, Blaine Hurst, Robert Waddell, dan lain-lain yang digandengnya.
Lantas, bagaimana caranya? Pertama-tama, bentuklah sebuah tim. Kedua, lantiklah anggota tertentu sebagai leader untuk menggerakkan anggota yang lainnya. Bukankah leader yang bijak adalah leader yang bisa menciptakan para leder di bawahnya? Idealnya begitu. Inilah yang disebut dengan Hukum Reproduksi Kepemimpinan. Ketiga, berdayakanlah mereka semua. Dengan demikian, pada akhirnya, kendali tidak lagi terpusat pada diri anda. Di sini nama permainannya adalah empowerment, di mana wewenang telah anda percayakan dan titipkan pada mereka.
Sekali lagi, untuk tumbuh secara dramatis dan fantastis, seorang leader harus sanggup memimpin para leader. Ingatlah, a great business needs a great leader. dengan One-man show, anda sebagai pelaku bisnis hanya akan mencetak skor penjualan-katakanlah-10 unit. Padahal, dengann menjadi seorang leader, anda bisa mengumpulkan skor 100 unit.
Kembangkan usaha
Tidak perlu bertele-tele. Selama ini, ada dua scenario dalam pengembangan usaha. Pertama, bisnis anda laku terlebih dahulu, kemudian barulah anda membuka cabang di mana-mana. Kedua, anda langsung membuka cabang di mana-mana, tanpa menghiraukan apakah bisnis laku atau tidak. Gila tuh! Sama sekali tidak. Dengan adanya cabang di mana-mana, bisnis anda akan terkesan laku.
Nah, scenario pertama sering ditulis di buku-buku bisnis dan-tentu saja-sering pula dijalani oleh pelaku-pelaku bisnis. Bagaimana dengan yang kedua? Anehnya, kendati sangat jarang dibahas di buku-buku bisnis, namun scenario yang kedua cukup sering ditetapkan oleh pelaku-pelaku bisnis.
Katakanlah, vbisnis restoran. Semestinya, hidangan yang lezat yang membuat orang-orang berkunjung dan mobil-mobil berjejer-jejer. Namun, tidak ada salahnya jika skenarionya dibalik. Missal, usahakanlah restoran anda tampak penuh dengan orang-orang yang antre dan mobil-mobil yang parker. Sehingga masyarakat beranggapan, “Wah, pastinya masakan di restoran itu enak sekali. Buktinya, banyak yang datang ke sana.” Pada akhirnya, restoran anda akan ramai dengan sendirinya. Yah, setidak-tidaknya untuk permulaan.

sumber : Ipho santoso, 10 Jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: