Jurus 6: Gantilah Gelar dan Jabatan

Cara gila meraih gelar
Orang Indonesia ini gila gelar. Ah, apa ia hanya orang Indonesia? Ternyata sindrom ini juga merasuk dan merusak segenap penjuru bumi, termasuk negara adidaya layaknya Amerika Serikat. oleh karena memang banyak peminatnya, walhasil penjaja gelar secara illegal pun berkembang-biak bak hewan ternak. By the way, gelar mereka, mulai dari akademisi, professional, hingga birokrat. Bahkan gelar “haji” pun turut jadi incaran (padahal Nabi Muhammad saja tidak pernah memamerkan gelar tersebut meskipun beliaulah manusia yang paling sempurna melaksanakannya).
Terlepas dari itu semua, MBA temasuk gelar yang favorit, ngalah-ngalahin gelar MM. Padahal kedua-duanya setara. Kesannya gimana gitu. Pokoknya lebih apik, lebih menarik! Terus, bagaimana dengan PhD? Wah, ini mantap juga! Terkadang lebih digandrungi ketimbang Dr.
Cuma ada satu hal yang mengganjal pikiran saya, kok malah pihal lain-seperti kampus, agama, pemerintah, dan masyarakat-yang selalu memberikan gelar kepada diri kita? Mbok ya sekali-kali kita yang memberikan gelar kepada diri kita sendiri. Dan inilah cara yang paling gila untuk meraih gelar!
Tahun 2005 yang lalu saya menganugerahkan kelar PhG kepada diri saya sendiri. Lengkapnya Ippho Santosa, PhG. Wah, nyaingin gelar PhD dan MM, ya? Salah besar! PhG tidak lain adalah Pengusaha Gila. Namun, jangan buru-buru menuding saya orang sableng dan gendeng lho! Toh, saya tidak sendiri. Buktinya, motivator Andrie Wongso juga punya predikat SDTT TBS alias Sekolah Dasar Tidak Tamat Tetapi Bisa Sukses.
Cara gila memilih jabatan
Seorang penjual produk perbankan akan memanggil dirinya Account Executive. Seorang penjual produk perumahan akan menyebut dirinya Property Agent. Seorang penjual produk kedokteran akan mengklaim dirinya Medical Representative. Seorang penjual produk kecantikan akan mengaku dirinya Beauty Consu;tant.
Dan masih banyak lagi gelar-gelar yang lain. Padahal jelas-jelas mereka semua adalah salesman atau salesforce- tanpa terkecuali! Akan tetapi, pernahkan anda mendengar mereka menyapa, “Selamat siang, Pak! Perkenalkan, saya Anton, salesman dari perusahaan asuransi.” Mustahil sapaan itu terdengar di planet ini. Dan tahukah anda, biang masalahnya adalah malu! Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, boleh-boleh saja job tittle Anda otak atik. Mungkin karena latar belakang organisasi, keluwesan tanggung jawab, persepsi masyarakat dan lain-lain. Namun, satu hal yang pasti, jangan pernah anda merasa enggan-apa lagi malu-mengaku sebagai seorang salesman. Malah, mestinya anda bangga. Karena salesman itu menyandang keunggulan-keunggulan tersendiri.
Bukankah salesman itu kaya akan relasi? Bukankah salesman itu terlatih menangani ketidakpastian? Bukankah salesman itu mengantongi income berdasarkan transaksi, bukan berdasarkan gaji semata? Semua keunggulan tersebut tidak akan dirasakan oleh mereka yang berkutat di bidang lainnya.
Cara gila menyapa pelanggan
Bagian penutup untuk bab ini, saya buat di atas pesawat Singapore Airlines. Ketika dalam perjalanan menuju Hong Kong, cuaca sagak buruk. Untunglah SQ menyediakan TV pribadi, handuk hangat, selimut,dan bantal, sehingga kegelisahan dan keresahan penumpang pun sedikit diredam karenanya.
Sejenak saya teringat pada saat check-in di bandara Changi beberapa jam sebelumnya. Kala itu saya disapa oleh seorang staf dari SQ di konter, “Pak, bagasinya ada nggak?” perhatikan kalimat barusan baik-baik. Apakah nmungkin seorang Melayu Singapura melontarkan kalimat khas Insonesia sedemikian rupa? Rasa-rasanya sih tidak mungkin. Pasti ada alasan di balik kitu. Ya, apa lagi kalau bukan untuk membuat si pelanggan merasa homy dan cozy. Ya akrab, ya hangat!
Konon, sabuah call centre di Bangalore India yang karyawannya juga orang-orang India, mampu menyapa dan menjawab pertanyaan pelanggan-pelanggan dari seluruh penjuru bumi dengan beragam aksen, mulai dari aksen Amerika, kanada, inggris, dan lain sebagainya. Dan asal tahu saja, mereka sungguh-sungguh dilatih untuk itu.
Nah, jadi, kesimpulannya sapaan itu krusial. Amat krusial malah. Namun, bukan sembarang sapaan. Selain penuh hospitality dan customization, sapaan juga harus mamatuhi ketepatan nama. Pokoknya, error-free setiap abjadnya!

sumber : Ipho santoso, 10 Jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: