Jurus 10: Matilah dengan Tenang

Compassion
Untuk menggapai sukses,seorang individu hendaklah menyandang dua bekal yang saling bertolak belakang. Yaitu compassion dan passion. Passion berkaitan dengan tingginya cita-cita, bulatnya tekad, nomor-satunya ikhtiar, dan militannya aktivitas. Sebaliknya, compassion erat hubungannya dengan kerendahan hati, keikhlasan untuk berbagi, keengganan untuk menyakiti, dan kerelaan untuk mengalah .
Dari segi kepribadian dan perilaku, barangkalil sosok yang passionate akan tampak begitu koleris. Manakala sosok yang compassionate akan terlihat begitu plegmatis. Bukankah Tuhan memang sengaja menciptakan segala sesuatunya saling berlawanan, namun saling berpasangan? Jadi, nothing’s wrong with contradiction! Tidak ada yang salah dengan Passion dan compassion. Namun, ironisnya, hanya 10% figur yang dilengkapi dengan Passion dan compassion sekaligus, semisal Konosuke Matsushita (pendiri panasonic), Sudhamek (CEO Garuda Food), dan Bung Hatta (Proklamator republic ini).

Charity
Puspo Wardoyo, ppendiri Wong Solo pernah mengatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan bisnisnya terletak pada kesediaannya untuk berderma (charity) dan jumlahnya tidak tanggung-tanggung, 30% dari laba. Padahal, agama saja menganjurkan dan mengajarkan 2,5% hingga 10%.
Mungkin anda akan bertanya-tanya, apa sebenarnya korelasi antar berderma dengan keberhasilan berbisnis? Pertama, melalui pendekatan spiritual. Pendekatan ini lebih menekankan pada keberadaan hidden stakeholder. Siapa itu hidden stakeholder? jawabannya tidak lain adalah Yang Maha Kuasa. Umat beragama mana pun percaya, hidden stakeholder inilah yang membalas setiap amalan, termasuk balasan bagi mereka yang menyumbang.
Kedua, memalui pendekatan rasional. Begini, sebenarnya setiap kali kita memberi, maka pada waktu yang sama kita akan membuang “energy negatif” keluar dari diri kita, sekaligus menghimpun “energy positif” ke dalam diri kita. Anda tidak percaya? Coba saja perhatikan, selepas menyumbang, ada semacam perasaan plong kemudiaan akumulasi “energi positif” itu membuat kita feel good dan feel good itu pun memancar. Dengan demikian, ketika kita berhubungan dengan pelanggan, pemasok,atau siapa pun, mereka juga merasakan hal yang sama, yaitu feel good.
Conscience
Sebenarnya tampa kita sadari, selama ini persepsi kita terhadap bisnis dan agama sering kali salah kaprah. Setidak-tidaknya itulah persepsi kebanyakan orang. Korelasi antara bisnis dan agama tersebut akan dipaparkan melalui tiga sudut pandang.
Pertama, separation. Mereka yang menganut paradigm ini secara fulgar mengganggap bisnis itu kiri dan agama itu kanan. Maka, terjadilah pemisahan antara bisnis dan agama. Tidak heran jika pada akhirnya mereka mengeruk keuntungan tanpa mengindahkan etika-etika bisnis.
Kedua, Concession. Berpegang pada paradigm ini, maka praktik-praktik bisnis yang jelas-jelas melanggar hukum coba diimbangi dengan amalan-amalan agama. Misalnya, laba dari hasil kolusi didermakan kepada anak yatim piatu dan tempat ibadah. Di sini giliran nalar yang berbicara.
Pastilah anda berpendapat bahwa kedua paradigm tersebut adalah keliru. Terus, apa jalan keluarnya? Paradigma yang ideal adalah unification. Dalam paradigm ini, prinsip-prinsip bisnis melebur dengan nilai-nilai agama. Pokoknya, mesti legal, mesti halal. Di sini mulailah nurani (conscience) yang angkat bicara. Membahas soal nurani, rasa-rasanya kita tidak boleh melewatkan temuan V.S. Ramachandran dari California University. Yaitu eksistensi got spot di setiap otak manusia. Banyak ahli yang meyakini di situlah nurani bersemayam. Belakangan ini kepekaan nurani dan kecerdasan spiritual (SQ) diakui sebagai factor penentu kesuksesan, mengimbangi bahkan mengungguli EQ, IQ dan AQ. Hal ini dikarenakan nurani berhubungan langsung dengan Yang Maha Menentukan Segalanya. Dan dengan nurani manusia bisa tetap saling menjaga hati sesamanya. Bukankah sifat manusia memang begitu? Nah, jadi, bersyukurlah anda menjadi manusia yang memiliki hati nurani.

sumber : Ipho santoso, 10 Jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: