Jurus 5: Duduklah Sama Rendah

Indahnya Cinta
Selama ini jamak diketahui, kekuatan cinta itu teramat dahsyat. Dengan cinta, orang rela berbagi bahkan berkorban apa saja. Akan tetapi dengan cinta pula, orang dapat membenci, bahkan membunuh. Cinta juga dapat mengelabui. Coba saja telisik kisah Romeo dan Juliet. Hampir seluruh penjuru bumi menobatkannya sebagai kisah cinta yang sejati. Orang hamper-hampir tidak percaya bahwa cerita itu sebenarnya tidak pernah terjadi! Itu hanya fiksi, buah pena dari sastrawan Inggris William Shakespeare. Namun hal tersebut sekaligus mengisyaratkan betapa universalnya cinta itu sendiri.
Ketika anda sudah mencintai bisnis anda, maka anda tidak akan kepikiran lagi untuk menyia-nyiakan, apalagi meninggalkan bisnis tersebut. Alih-alih menelantarkan, malah anda akan bersikap penuh hormat, penuh perhatian dan penuh tanggung jawab atas bisnis anda. Teringin pula Anda mengetahui lebih banyak lagi.
Kesimpulannya, cinta itu memang indah. Mencintai itu memang lumrah. Akan tetepi tidaklah boleh anda semata-mata mengatasnemakan cinta untuk melegalkan atau menghalalkan segalanya. Tak pelak lagi, kuncinya adalah kepekaan nurani. Bahkan, tanyakan terlebih dahulu kepada Yang Maha Menaburkan Cinta di hati setiap manusia. Apa kata-Nya? Apa pula kehendak-Nya?
Indahnya kebersamaan
Pernah dengar team in love? Team in love tidak lain adalah sebuah yang kaya akan unsur-unsur cinta. Yaitu hormat, perhatian, tanggung jawab, dan pengetahuan. Kisah tentang team in love konon berasal dari seekor kuda yang mampu menarik beban seberat dua ton. Sekali lagi, hanya dua ton. Kemudian berapa ton yang mungkin diangkut oleh dua ekor kuda? Empat ton? Enam ton? Atau sepuluh ton? Percaya atau tidak, ternyata dua ekor kuda sanggup menyeret beban seberat 23 ton! Di situlah letak keampuhan sebuah tim.
Lihatlah angsa! Mereka adalah makhluk yang lemah. Namun, dengan membentuk formasi ‘V’ dan terbang mengelompok, mereka bahkan sanggup menembus badai sekalipun. Ternyata, suara-suara yang mereka keluarkan menjadi seruan pembangkit semangat di antara mereka. Nah, di sinilah letak kedahsyatan suatu tim. Namun, kebanyakan tim penjualan adalah kumpulan individu yang saling sikut, saling menelikung, dan saling menjelekkan. Pokoknya tidak ada kekom[akkan sama sekali!
Coba bayangkan yang sebaliknya! Salesman Andi berbicara sesuatu yang positif tentang rekannya di depan prospek, “saya salut dengan Bobby, pak! Setiap kali bertemu dengan pelanggan, ia senantiasa menunjukkan sikap empati. ” sementara salesman Bobby berbicara sesuatu yang positif pula soal Andi di depan prospek yang lain, “Wah, saya kagum pada andi, Bu! Dia memiliki komitmen yang total terhadap pelanggan.” Lalu, apa yang terjadi? Saya jamin catatan penjualan mereka berdua akan melambung gila-gilaan melampaui kolega-kolega mereka yang saling menjelek-jelekkan. Kok bisa? Jawabannya tentu bumbu penyedap yang mereka sebarkan. Tak ayal lagi, itu menjadi promosi silang di antara mereka.
sumber : Ippho Santosa, 10 jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: