Jurus 4: Berdamailah dengan Badai

Menikmati penyakit
Tidak lama lagi anda akan menjajal jurus ke empat, yang merupakan jurus paling langka. Untuk itu kita ke Filipina sejenak. Akhir November 2006, ketika berada di sana, saya bersama rekan-rekan diundang untuk dinner oleh pengusaha setempat Oliver Laparal (87) dan abangnya (91) di rumah pribadinya. By the way, pada zaman Marcos berkuasa, Oliver sempat menjadi seorang konglomerat yang sangat jaya di negaranya.
Di mata saya, yang paling menggelitik justru kesehatannya, bukan kekayaannya. Mereka berdua tampak sehat-sehat saja-tanpa tongkat, tanpa kaca mata-meski terhitung sudah S3 alias Sudah Sangat Sepuh! Yah, siapapun maklum, panjang umur dan bugar sekaligus sungguh bukan perkara yang gampang. Memang, Oliver dan abangnya menyimpan “sakit tua”, tetapi tampaknya mereka berhasil me-manage-nya.
Keesokan hari, diprediksi Filipina akan dihantam badai. Repotnya, saya harus berada di Manila selama seminggu. Was-was juga! Bayangkan saja, meskipun malam hari, namun saya saksikan sendiri langit sempat berona merah! Itu pertanda bahwa badai akan segera melanda. Untunglah, badai yang diperkirakan melewati Manila ternyata melintasi kota lain. Akibat bencana tersebut, kerugian materi dan jiwa pun tak terelakkan di daerah tertentu. Musibah itu terjadi pada awal desember 2006.
Anehnya, menjelang badai, masyarakat Filipina malah kalem dan adem-ayem. Tidak panic. Aneh? Hm, tidak juga. Inilah yang saya meksud berdamai dengan badai. Setidak-tidaknya dengan teknologi saat ini, yah, badai adalah suatu fenomena alam yang rutin terjadi di wilayah subtropics seperti Filipina.
Jadi, mau tidak mau, apa yang dapat dilakukan ialah hidup bersama badai. Dalam artian lebih jauh, meminimalkan dampak dari badai tersebut. Persis seperti jepang dengan gempa buminya. Istilah yang sering saya pakai dalam seminar-seminar saya, “not avoid the problem, but live with the problem.” Percaya atau tidak, inilah jurus sakti mandraguna untuk survive dan sustain. Baik dalam bisnis, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi orang-orang yang berusia di atas 50 tahun, penyakit pada beberapa oargan tubuh adalah sesuatu yang lumrah dan alamiah. Katakanlah, sakit jantung, asam urat, diabetes dan lain-lain. Mau dihilangkan, ah, mana mungkin? Adalah masuk akal hidup bersama penyakit tersebut. Realistis sajalah! Maksudnya, me-manage penyakit itu agar tidak bertambah parah dan tidak memengaruhi organ lain. Bayangkan jika mereka khawatir sepanjang hari. Bisa jadi, kesehatan mereka malah memburuk. Pasti itu!
Perusahaan juga tidak jauh beda, terutama perusahaan besar. Berdasarkan pengalaman karier saya di dalam dan di luar negeri, juga pengalaman saya yang memberikan monsultasi di berbagai perusahaan, ada orang-orang tertentu yang jelas-jelas bermasalah. Parahnya, karena satu dan lain hal, orang-orang ini tidak dapat disingkirkan dari posisinya seketika. (idealnya, tentu saja disingkirkan. Ibaratnya, mereka adalah apel busuk dalam keranjang.) Lha, mau diapain lagi? Ya sudah, terima saja! Hanya, pastikanlah orang-orang ini tidak menambah masalah bagi organisasi. Cuma itu!
Menikmati kelemahan
Sebuah harian ibu kota dalam sebuah edisinya memasang foto irawan, seorang pemuda berumur 21 tahun, sedang berdiri di pinggiran jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di dadanya terpampang sebuah karton bertuliskan, “ibu sakit, butuh biaya. Siapa yang butuh ginjal, saya bersedia donor.”rencananya, hasil penjualan ginjal itu akan digunakan untuk membiayai operasi ibunya yang sedang dirawat di RSCM karena menderita kanker payudara. Pemuda ini rela kehilangan ginjal demi sang Ibu.
Ahmad Junaidi, beritanya dimuat di sebuah media massa, adalah seorang polisi pengatur lalulintas yang sangat rajin. Ia turun ke jalan setiap pagi dan sore hari. Pada saal lalulintas tengah padat-padatnya. Ia dengan ikhlas mengatur lalulintas tanpa meminta imbalan dari para pengemudi. Ia menikmati hidupnya. Ternyata Ahmad Junaidi bukanlah seorang polisi sungguhan, melainkan hanya seorang pemuda yang mengenakan seragam mirip polisi dan bergerak dengan kursi rodanya. Dia memang sudah cacat sejak lahir.
Terlihat jelas bagaimana mereka berdua sempat didera dengan cobaan-cobaan yang berat. Sangat berat malah! Apakah itu cacat tubuh maupun musibah kehidupan. Namun, toh mereka masih mampu berbuat sesuatu yang berarti bagi diri sendiri atau untuk sesama. Jangan pernah mengeluhkan apa yang tidak kita miliki, lebih baik kita mengerahkan apa saja yang kita miliki!
Lantas, bagaimana dengan anda, yang kebanyakan memiliki tubuh yang normal dan kehidupan yang normal pula? Pernahkan anda berbuat sesuatu yang signifikan untuk diri Anda sendiri atau untuk orang-orang di sekitar anda? Apabila anda menggelengkan kepala, kembali saya bertanya kepada anda, “kok anda tidak mampu, sementara mereka mampu?” mungkin jawabannya Cuma satu, Anda tidak mempunyai passion, sedangkan mereka punya.

sumber : Ippho Santosa, 10 jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: