Jurus 3: terjunlah seperti Rollercoaster

Menikmati kemerosotan
Anda pernah naik rollercoaster ‘kan? Saya pernah sewaktu kecil. Semantara itu, grup music Bon Jovi semapt berpesan di salah satu tembangnya, “life is like a Rollercoaster.” Hidup itu bagaikan Rollercoaster. Bermakna, ada kalanya naik, ada kalanya turun. Saya piker-pikir perumpamaan itu ada benarnya, terutama dalam bisnis.
Bagi pelaku bisnis, maunya sih omzetnya dan astenya naik terus. Tidak usah diwawancarai, saya juga maunya begitu! Akan tetapi, tidak semuanya terjadi seperti yang kita kehendaki. Terkadang asset dan omzet kita merosot, bahkan meluncur sampai ke titik yang paling rendah. Jika sudah demikian, bangkrut pun bukan hal mustahil. Jadilah ini episode paling getir dalam perjalanan bisnis. Betul? Hm, tidak juga. Rupanya, layaknya setiap kejadian, ada hikmah di balik itu semua. Jadi, nikmati saja.
Pertama, kemerosotan itu akan menempa mental. Ketika kita mengalami kegagalan, pastilah orang-orang di sekitar kita akan menertawakan. Percayalah kepada saya, tidak akan ada yang bersedih, tidak aka nada pula yang menolong. Karena memang itulah peraturan tak tertulis di muka bumi ini. Nah, disinilah mental kita diuji! Apakah kita masih sanggup bertemu mereka dengan tetap menegakkan kepala? Kebanyakan sih tidak sanggup. Tetepi, bagi mereka yang bermental baja, ia akan tetap menegakkan kepala dan menjadikan ejekan itu xebagai cambuk motivasi bagi dirinya untuk bangkit kembali.
Kedua, kemerosotan layak dijadikan bahan pembelajaran. Dengan mengetahui akar penyebabnya, paling tidak kesilapan yang sama tak akan terulang, baik untuk bisnis tersebut atau bisnis lainnya. Toh, keledai, hewan yang dicap dungu, tidak pernah terperosok dua kali ke lubang yang sama. Keledai pun belajar dari setiap kesalahan.
Ketiga, kerendahhatian. Bayangkan apa jadinya jika semua upaya kita selalu membuahkan hasil? Salah-salah kita akan bergumam dalam hati, “Hei, lihatlah saya! Tak terkalahkan!” wah, ujung-ujungnya kita bisa menjadi mekhluk yang sombong. Dengan adanya kegagalan demi kegagalan, manusia bakal lebh rendah hati dan lebih dekat dengan Tuhan-nya.
Hikmah ke empat, sebagai entrepreneur saya paham betul bahwa kemerosotan tak ubahnya bagai bumbu dalam bisnis. Jika kita terus menerus berhasil, perjalanan bisnis kita akan terasa hambar. Lagi pula, bagaimana kita tahu sesuatu itu manis, apabila kita tidak pernah mencicipi sesuatu yang pahit sebelumnya? Sejenak coba anda perhatikan orang-orang yang telah sukses. Tatkala berkisah, mereka menceritakan masa-masa pahit mereka dengan penuh kebanggaan. Memang itulah bumbu kehidupan.
Hikmah yang terakhir, kreativitas pun turut terasah dengan andanya kemerosotan. Tentulah otak kita akan serta merta berfikir, “bagaimana dengan sumber-sumber yang tersisa dan tidak seberapa ini, saya bisa naik kembali?” tidak jarang, dengan sedikit kreativitas, turnaround energy akan malah melambungkan bisnis ke taraf yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Menikmati contekan
Pada bagian ini, saya mengajak anda untuk menikmati contekan. Tepatnya, menyibak beragam hikmah di balik mencontek. Apa saja, ya? Ternyata banyak juga. Mulai dari melatih keberanian sampai dengan merangsanh krteativitas. Belum lagi hal-hal sederhana seperti membiasakan calculated risk, memmbiasakan speed reading, dan membiasakan second opinion.
Nah, kalau mencontek di sekolah itu di larang, maka mencontek beyond school malah digalakkan.namun bukan sembarang mencontek, melainkan mencontek sesuatu yang worthed untuk di contek. Untuk lebih jelasnya, mari kita berkenalan dengan Cristian Dior, Piere Cardin, dan Jean Paul Gaultier.
Pertama-tama, mari kita lihat Jean Paul Gaultier. Ia lahir pada tahun 1952 di Prancis. Sebelum mengibarkan namanya, perancang yang identik dengan sentuhan street style ini ternyata pernah bekerja di studio desain milik Piere Cardin.
Sekarang mari kita lihat Piere Cardin. Ia lahir pada tahun 1922 di italia dan di besarkan di Prancis. Sepanjang hayatnya ia lebih dipandang sebagai pebisnis daripada sebagai desainer. Terbukti, namanya yang terkesan mentereng telah di lekatkan di lebih dari 600 jenis produk. Di manakah ia mengasah kemampuan desain dan bisnisnya secara professional? Salah satunya ketika ia menjabat sebagai pimpinan di studio desain Cristian Dior pada tahun 1946. Tiga tahun kemudian, barulah ia membangun usaha atas nemanya sendiri.
Terakhir kita lihat pula Cristian Dior. Ia lahir pada tahun 1905 di Prancis dan meninggal pada tahun 1957 di Italia. Hingga detik ini, namanya masih dikultuskan sebagai legenda dalam dunia fashion. Di manakah ia menimba ilmu merancang pakaian? Salah satunya ketika ia berkarier di fashion house-nya Robert Piquet pada tahun 1938. Delapan tahun kemudian, barulah ia mendirikan House of Dior.
Inilah yang saya maksud mencontek yang worthed untuk dicontek. Jean Paul Gaultier sempat meniru Pierre Cardin. Pierre Cardin sempat meniru Cristian Dior. Cristian Dior sempat meniru Robert Piquet. Yah, mau diapain lagi, sudah menjadi kodrat menusia meniru manusia-manusia sebelumnya. Walaupun Cuma satu persen. Di sini saya tidak bercerita tentang meniru rancangan. Malainkan meniru jejak langkah atau semacamnya.
Begitu pula dengan anda. Jika anda berhasrat untuk membuka kafe, maka bekerja di FB-nya hotel berbintang adalah awal yang bijak. Jika anda berhasrat untuk menjadi pemasok spare-part mesin tertentu, maka berkarier di perusahaan Mukakuning (satu kawasan industry di Batam) adalah awal yang bijak. Jika anda berhasrat untuk membuka kursus, maka berprofesi sebagai dosen di kampus adalah awal yang bijak. Mengapa? Percayalah, di tempat-tempat sedemikian, anda dapat mencontek sesuatu yang worthed untuk dicontek. Yah, sebagai bekal untuk masa depan anda.
Saya pribadi, setelah sekian lama mencontek, sempat merenung, “Di manakah saya mendapat contekan yang paling berharga?” kemudian batin saya menjawab, “Contekan paling berharga justru berada dalam diri sendiri.” Tepatnya, pengalaman pribadi. Tidak ada contekan yang kebih berharga daripada itu.

sumber : Ippho Santosa, 10 jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: