Jurus 2: Rancanglah DNA Sedini Mungkin

Menikmati khayalan
Rasa-rasanya, tiada masa yang paling indah selain masa kanak-kanak, kita bebas berbuat apa pun, tanpa takut melanggar norma-norma. Kita bebas berkhayal apapun, tanpa takut bertentangan dengan hukum alam. Jadi, tidaklah mengherankan jika anak-anak ditanya tentang cita-cita, maka jawabannya amat beragam. Bahkan, kadang-kadang lebih tepat disebut dengan khayalan daripada cita-cita.
Akan tetapi, jangan salah! Tidak terkira karya agung dan pencapaian besar manusia yang berasal dari khayalan masa kecil mereka. Anda pernah mendengar Space Ship One? Itu adalah nama pesawat super cepat luar angkasa milik swasta pertama di dunia. Pesawat ini memenangkan Ansari X Prize sebesar sepuluh juta dolar Amerika Serikat, setelah berhasil terbang setinggi 112 km sembari membawa dua penumpang, kemudian kembali mendarat dengan selamat.
Kesuksesan ini menandai era penerbangan sipil ke ruang angkasa. Bagi Burt Rutan, pembuat pesawat Space Ship One, Ansari X Prize hanyalah sebuah penghargaan formal. Di atas segalanya, yang membuatnya paling bahagia adalah ia telah berhasil mewujudkan impian masa kecilnya. Dulu, sewaktu Sputnik diluncurkan, ia masih berusia 14 tahun. Ketika itu, ia yakin suatu hari nanti ia dapat naik pesawat ke luar angkasa, bahkan berlibur ke bulan. Namun ia juga sadar, khayalan itu tidak akan menjadi kenyataan kalau ia ikut ngantre menjadi astronot NASA. Singkat kata ia pun menciptakan Space Ship One.
Nah, bagaimana dengan anda? Masih ingat khayalan anda sewaktu bocah dulu? Saya yakin pasti cita-cita anda tidak tanggung-tanggung. Tetapi jangan pernah takut untuk mewujudkan khayalan anda. Karena sesungguhnya kesuksesan itu berawal dari pikiran anda.
Menikmati Impian
Kalau khayalan lebih bersifat abstrak, maka impian lebih bersifat konkret. Lantas, samakah impian dengan mimpi? Tentu saja tidak! Impian hadir saat anda benar-benar sadar. Sementara, mimpi hanya hadir ketika anda tidak sadar. Memang, bahasa inggris saja kesusahan untuk membedakannya. Baik impian maupun mimpi, sama-sama dinamakan dengan dream.
Pertanyaak selanjutnya, pentingkah impian bagi seorang pelaku bisnis? Salah seoran mentor saya mengajarkan, seperti apa anda nantinya tidak ditentukan oleh keadaan anda saat ini, tetapi lebih ditentukan dengan impian anda saat ini. Dengan kata lain, impian itu tidak saja penting, tetapi sngat penting! Namun ironisnya, meski impian itu belum diperjualbelikan, alias masih gratis, betapa banyak betapa banyak pelaku bisnis yang tidak membekali diri dengan impian. Sadarlah, tampa impian, anda hanya akan berjalan di tempat. Dan tahukah anda bahwa itu berarti and ate;ah “berdosa” pada masa depan anda sendiri.
Meniikmati tangisan
Ketika masa sma dulu, saya sering pergi nonton film dengan teman-teman sekelas. Salah satu film lama yang masih membekas di benak saya adalah Analyze This. Terlihat di sana bagaimana gembong criminal yang gagah, tetapi malah menangis tersedu-sedu ti tengah suatu baku tembak antarmafia. Hm, pria kok cengeng? Barangkali itulah yang terlintasa di benak kita. Hm, jangan buru-buru menghakimi. Bisa jadi tangisan sesekali seperti ini adalah akar dari kekuatan, bukan kelemahan.
Di sini kita berbicara tentang power of crying. Tengklah kenyataan. Manusia-manusia yang menciptakan perubahan besar dalam sejarah hamper selalu pernah menangis, bahkan sering menangis. Dari birokrat, atlet, seniman, professional, hingga ulama sekalipun, semuanya sempa menangis. Konon, pelatihan-pelatihan yang sanggup membuat menangis sangatlah ditunggu-tunggu. Jadi, nothin’s wrong with crying. Jika ada yang menjadi masalah maka itu adalah apa yang kita tangisi. Ketika kita teringat impian-impian yang kita yakini, ketika kita teringat akan nilai-nilai yang kita percayai, ketika kita teringat orang-orang yang kita kasihi, dan ketika kita teringat akan kesalahan-kesalahan yang kita sesali, maka bukan mustahil menangis menjadi hal yang lumrah dan dan alamiah. Akan tetapi, kalaulah kita mengucurkan air mata karena kehilangan, kegagala, atau kebuntuan, maka itu adalah sinyal kegagalan. Kita harus malu karenanya!
“menangislah bila harus menangis.” Demikianlah cuplikan lirik dari dewa. Namun, bukan sembarang meneteskan air mata! Sejenak dan sesekali, menangislah demi impian-impian, nilai-nilai, orang-orang yang terkasihi, dan penyesalan-penyesalan. Percaya;ah, kita tidak pernah menjadilemah karenanya. Justru sebaliknya! Setelah itu, kita seolah-olah memperoleh suatu pencerahan, kelegaan dan kekuatan itu semua patut dinikmati.
Jika sepanjang hidup kita tidak pernah menangis satu kali pun, tidak menutup kemungkinan bahwa hati kita sudah mengeras. Betul-betul membeku, betul-betul membatu. Ujung-ujungnya hati yang keras ini dapat menjerumuskan kita untuk tidak lagi mengakui nilai-nilai, tidak lagi memedulikan orang – orang yang terkasih, dan tidak lagi merasakan penyesalan-penyesalan. Hal itu perlu kita waspadai!
Menikmati ketakutan
Sebagai penutup bab ini, saya ajak anda bercengkrama dengan skateboard. Kebetulan sewaktu kuliah di Malaysia, saya suka sekali memainkannya. Padahal tidak gampang untuk menguasai papan seluncur tersebut. Saya sendiri sudah berulang kali terjatuh, sehingga akhirnya terkilir bahkan terluka. Oleh karena cukup berbahaya, tidak mengherankan jika sedikit remaja yang memainkannya.
Menurut saya semasa itu, justru disitulah letak keseruannya. Semakin berbahaya, yah semakin seru! Iya ‘kan? Bersama dengan teman-teman, saya pun beraksi di berbagai tempat, dari kampus, jalan raya, pusat perbelanjaan, pokoknya di mana saja. Begitu tamat kuliah, skateboard pun saya tinggalkan. Akan tetapi, bagin saya, ada satu pelajaran yang tak terlupakan dari permainan skateboard. Saya jamin hal inisangat bermakna dan bermanfaat bagi anda sebagai pelaku bisnis. Apakah itu? Keberanian.
Dalam artian yang lebih jauh, keberanian di sini dapat ditafsirkan sebagai keberanian untuk mencoba, keberanian untuk mengambil risiko, dan keberanian untuk menghadapi kegagalan. Terus terang saja, kedewasaan usia terkadang membuat anda takut terhadap banyak hal. Berbeda dengn bayi. Ia malah berani melakukan apa pun. Padahal, modalnya Cuma dua, yaitu ketidaktahuan dan keingintahuan. Tentu saja anda sebagai pelaku bisnis tidak mesti senaif itu. Anda memerlukan perhitungan. Itu pasti!
Namun, perhitungan yang berlebihan juga dpat mengikis keberanian. Itu namanya kalah sebelum berperang! Parahnya lagi, perhitungan-perhitungan juga dapat mendorong anda untuk melakukan pembenaran-pembenaran atas kelemahan-kelemahan anda. Satu hal yang paling tidak saya sukai, terlalu banyak perhitungan akan memperlambat action. Lagi pula kegagalan tidak perlu disesali. Bukankah pepatah mengatakan, “kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Jadi, untuk apa takut gagal?

sumber : Ippho Santosa, 10 jurus terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: