KECEMBURUAN PROFESI

1. Keahlian Pandangan yang Komprehensif
Pandangan yang bersifat individual sering bersifat hanya satu sisi (parsial). Begitu pula dengan organisasi yang sukses dalam dunia kerja. Kesuksesannya selalu menjadi kesuksesan bersama dan bukan kesuksesan satu divisi tertentu. Karena itu, kita lebih membutuhkan pandangan seperti ini dalam lingkungan kerja. Sebab, sebuah lingkungan kerja tidak dapat berdiri hanya dengan satu divisi dari berbagai divisi yang ada. Satu hal yang tidak diragukan, adalah bahwa upaya untuk meraih pandangan yang komprehensif ini akan membuat motif-motif kecemburuan tertutup. Sebab kesuksesan itu bersifat kesuksesan kolektif, dan keberhasilan itu adalah keberhasilan kolektif, meskipun orang lain tahu dengan jelas bahwa yang memunculkan tujuan akhir itu hanyalah satu orang. Namun dibalik satu orang itu ada kerj keras kolektif dan koordinasi yang bersih dan indah, yang turut memberi andil dalam memunculkan tujuan akhir.

2. Minimnya Sumber dan Tidak Merata dalam Pendistribusian
“Minimnya sumber acap kali dianggap sebagai penyebab munculnya perselisihan dalam sebuah organisasi. Mungkin persolan ini tidak ada di kalangan manajemen tinggi. Sebab, pandangan mereka terhadap institusi yang mereka pimpin adalah pandangan yang bersifat progresif.
Krisis seperti ini sering terjadi dengan tidak adanya keadilan dalam pendistribusian yang sesuai dengan gilirannya, karena kekerasan dalam diskusi-diskusi, klaim kecerobohan, kegelisan jiwa, dan pembelaan diri di haadapan kecaman-kecaman pihak luar.

3. Kritik yang Keras
Demikian juga, kritik keras pun berperan besar dalam memicu timbulnya kecemburuan profesi di antara tim kerja. Jika kritik yang diarahkan itu sangat tajam, semua tim berusaha untuk menghindarinya.
Dengan kritik yang terlahir akibat tidak adanya pemahaman dan pengetahuan terhadap persoalan, tidak mengenal sebab-sebab munculnya persoalan, tidak adanya upaya merumuskan pemecahan yang representatif dalam memecahkan permasalahan, jauh dari focus terhadap kulit persoalan daripada pembenahannya.
4. Manajemen yang Buruk
Seharusnya manajer yang bijak adalah pemimpin yang baik dalam membantu setiap orang dalam tim kerjanya untuk mencapaitujuannya, serta baik dalam meramu jadwal-jadwal ini untuk menyalurkan kemampuan yang ada.
Demikian juga, direktur yang baik dalam memembentuk sebuah manajemen, akan selalu waspada dalam berbicara agar tidak terlalu memuji sosok tertentu atau menjatuhkan sosok yang lain ke level yang paling bawah. Para direktur itu selalu memlihara jiwa orang-orangnya semaksimal mungkin, agar kecemburuan yang membinasakan itu tidak sampai mengenai sosok-sosok yang berinteraksi dengan dirinya.

5. Lemah dalam Pengawasan
Berbagai penyakit muncul dalam sebuah lingkungan kerja akibat lemahnya sebuah pengawasan. Pengawasan yang efektif adalah sinyal kuat yang membuat kita maampu mengenali diri kita secara detail, dan mengenali sebab-sebab penyelewengan. Jika pengawasan itu lemah, maka akan banyak penyakit yang bermunculan.
Karena itu, seorang pemimpin seharusnya meletakkan dalam penilaiannya, atas operasional kerja dan situasi di mana pekerjaan itu diselesaikan. Ia tidak boleh tertipu dengan pencapaian tujuan, dimana dalam waktu yang sama, permasalah sedang melanda tim dan institusinya.

6. Membersihkan Ruh Individualitas
Seorang pemimpin harus pandai membaca bahasa situasi yang berkembang di dalam organisasinya, serta harus mengganti bahasa “Saya” dengan bahasa “Kami”. Dia pun harus memberikan arahan-arahan kesuksesan kelompok, keunggulan dan kemampuannya dalam menopang orang-orangnya secara kontinyu, demi mencapai sasaran akhir yang telah mereka capai.

7. Tidak Memahami Perbedaan Individual
Kita harus percaya, bahwa manusia berbeda dalam kekuatan dan kemampuan. Menimbang mereka hanya dari satu neraca saja dapat menzhalimi semua orang.
Namun demikian, seharusnya setiap orang dari semua individu yang terlibat dalam sebuah tim dapat merasakan keunggulannya dalam sisi tertentu. Sisi itulah yang membuat dirinya unggul dalam kelompok-kelompok yang lain. Karena itu, setiap keunggulan seharusnya dapat membantu kelompok dan menyempurnakannya, bukan malah sebaliknya, menjadi sesuatu yang membuat mereka keluar dari kelompok tersebut.

8. Lemah Pendidikan Keimanan
Jiwa seorang yang beriman tidak menilai hidup dengan penilaian yang sempit. Ia pun tidak akan merasa sesak dengan keberhasilan yang diraih oleh orang lain. Ia justru akan menilai bahwa hidup itu luas untuk semua orang.
Ia tidak melihat keleluasaan yang karenanya orang lain menjadi unggul, sebagai alasan bahwa keleluasaan itulah yang memutuskan kesuksesannya. Bahwa keimanan dapat mendidik jiwa, membersihkan dan melindunginya agar tidak melirikkan kedua matanya kepada selain dirinya, atau mengharapkan lenyapnya sesuatu yang dimiliki oleh mereka. Ia akan mencintai orang lain dan mencintai titik keunggulannya. Ia akan terpelihara dari menggunjing cacat dan keimanna orang lain. Ia akan menilai semua hal dari sisi yang berbeda. Bahkan, seandainya ia cemburu pun, kecemburuannya adalah kebaikan, dan persaingannya adalah persaingan yang sehat.

Sumber : ahmad Abdul Jawad, Bening Publishing, 2007
Posted by : Syafrizal Helmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: