Knowledge worker (1)

Knowledge worker

Munculnya era informasi dan komunikasi membuat peluang2 muncul dengan sangat banyak. Dalam mengelola karyawan (talent) perusahaan dituntut untuk lebih hati2 agar dapt mempertahankan alent terbaiknya.

Disisi lain, para karyawan yang memiliki talenta melihat ini sebuah peluang dan tidak perlu lagi mempertahakan loyalitas buta kepad perusahaan, sepanjang ada lapangan pekerjaan yang lebih menantang, fasilitas yang lebih baik, gaji yang besar dan karir yang menjanjikan mereka (para talent) akan pindah walaupun pihak perusahaan sudah mengeluarkan banyak investasi untuk mendidik dan mengembangkannya.

seoarang teman saya berkata, kita ini karyawan coy, kalau ada perusahaan yang menawarkan lebih mengapa tidak?, tak heran kita akan banyak menjumpai orang-orang muda yang sudah berpengalaman kerja di banyak perusahaan. Bahkan tiap tahun ganti perusahaan. Tantangan terbesar perusahaan saat ini adalah meningkatnya produktivitas pekerja pengetahuan (knowledge worker) dan pekerja jasa (service worker)

Peter F Drucker, menyebut orang seperti ini adalah orang2 yang mampu mengelola diri sendiri, mampu mengembangkan diri sendiri .dan mampu memosisikan diri. Menurutnya cara yang paling baik untuk jadi orang seperti ini adalah melalui analisis umpan balik

Analisis umpan balik bukanlah alat baru, alat ini ditemukan disekitar abad ke-14 oleh seorang ahli Teologi Jerman dan sekitar 150 tahun kemudian di kembangkan oleh Jhon Calvin dan Ignatius dari Loyola. Jika diterapkan selama 2 atau 3 tahun akan menunjukkan letak kekuatan anda

Analisis umpan balik diikutiimplikasi berupa beberapa tindakan yakni :pertama : letakkan diri anda ada kekuatan anda, kedua tingkatkan kekuatan anda ketiga temukan kenagkuhan intelektual yang melumpuhkan ketidaktahuaan anda.

Banyak dari kita menganggap bahwa keahlian kita adalah hal yang paling penting. Kita merasa bidang ilmu kita yang paling hebat, sehingga kita membangga-banggakan kehebatan ilmu kita. Padahal hal tersebut menunjukkan ketidaktahuan dan kedangkalan ilmu kita.

Pada saat yang sama umpan balik juga memperlihatkan pentingnya sopan santun dalam organisasi. Peter drucker menyebut sopan santun sebagai ”minyak pelumas” dalam sebuah organisasi. Jika seseorang yang cerdas selalu gagal dalam bekerja sama maka hal ini mengindikasikan kurangnya sopan santun. Daniel goleman menybutkan hal ini kecerdasan emosional. Tak heran jika belakangan ini kita mendengar pentingnya kecerdasan emosi. Bahkan orang yang memiliki kecerdasan emosi akan lebih sukses dibanding yang hanya memiliki kecerdasan intelektual.
diposting oleh : syafrizal Helmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: