Menjaga Perusahaan Agar Tetap Bugar

Menjaga Perusahaan agar tetap bugar

Perusahan itu seperti makhluk hidup : lahir, tumbuh, kembang, sehat, tua, sakti-sakitan dan mati

Perusahaan dikatakan sakit jika perusahaan tersebut secara absolut dan substansi mengalami penurunan sumber daya dalam satu periode. Penurunan sumber daya bisa diukur melalui kinerja operasional (penjualan, laba, dividen, margin keuntungan, cash flow, harga saham, dll) serta kinerja strategis (pangsa pasar, urutan/posisi dalam industri, kualitas produk, biaya produksi, reputasi perusahaan, pelayanan konsumen, keunggulan teknologi dll).

Persoalaannya ukuran penurunan sumber daya seringkali dilihat berdasarkan kinerja operasional sehingga kesimpulan mejadi sering menyesatkan karena membaiknya kinerja operasional belum tentu membaiknya kinerja strategis. Secara ekonomis perusahaan dikatakan tidak sehat jika tingkat pengembalian investasi secara signifikan dan terus menerus lebih rendah dibandingkan investasi sejenis.

Walaupun ukurannya jelas, Untuk megenali gejala ketidaksehatan perusahaan bukanlah hal yang mudah. Karena gejala awal bukanlah gejala keuangan melainkan gejala non keuangan seperti meningkatnya jumlah komplain dan keluhan pelanggan, meningkatnya produk cacat, moral kerja karyawan yang rendah, gagalnya produk baru, lambannya pengambilan keputusan dsb. Biasanya sebelum tanda-tanda keuangan ini kelihatan para manajemen dan pemilik tidak mau mengakui bahwa perusahannya sakit. Mengakui persoalan sakit bukanlah hal mudah, bagi para manajer bisa berisiko atau berakibat buruk yakni diberhentikan oleh pemilik/pemegang saham. Diamnya eksekutif ini juga berharap bahwa perusahan akan kembali sehat dengan sendirinya.

Mengenali gejala ketidaksehatan juga seringkali dipengaruhi oleh sudut pandang. Orang dalam dan luar perusahaan seringkali menemukan gejala yang berbeda. Misalnya pemasok melihat keterlambatan dalam pembayaran merupakan ciri-ciri gejala tidak sehat, karyawan menganggap jika terjadi penurunan kesejahteraan merupakan ciri-ciri gejala tidak sehat, pemegang saham menganggap rendahnya/turunnya dividen merupakan ciri-ciri gejala tidak sehat dsb.

Weitzel dan Jhonson (1989) menyatakan proses ketidaksehatan mempunyai lima tahap yakni :

  1. Ditandai dengan meningginya tingkat persediaan barang, berkurangnya margin produk dan mengecilnya dana investasi. Pada tahapan ini perusahaan masih mampu menghasilkan laba sehingga manajemen perusahaan akan menolak jika dikatakan perusahaannya terkena gejala tidak sehat.
  2. Terjadi penurunan laba. Biasanya manajemen mengatakan bahwa kondisi pasar sedang sulit yang dipicu oleh faktor ekonomi atau kenaikan BBM. Kondisi ini hanya terjadi sekali saja dan tidak akan terulang.
  3. Mulai terjadi kerugian dalam proses operasi.
  4. Perusahaan mulai kerugian, aliran kas terganggu dan gangguan likuiditas serta solvabilitas. Pada tahap ini manajemen mulai sadar dan melakukan proses penyehatan perusahaan
  5. Perusahaan gagal disehatkan sehingga perusahaan terpaksa harus dilikuidasi atau di akusisi fihak asing.

Sedangkan Argenti (1974) dan Richardson (1994) menjelaskan beberapa model perusahaan sakit

  1. Model cebong, Tak pernah menjadi katak. Biasanya terjadi pada perusahaan yang ketika didirikan memang sudah sakit-sakitan. Ibarat bayi perusahaan ini telah memiliki cacat bawaan sejak lahir. Kemungkinan besar akan meninggal pada usia balita. Model perusahaan ini biasanya berumur pendek antara dua sampai lima tahun.

  1. Model katak tenggelam. Model perusahaan ini biasanya didirikan oleh suami – istri dan dibantu beberapa teman dekat. Sejak awal hanya satu orang yang benar-benar dominan menetukan arah perusahaan. Ia memiliki visi, ambisius, berkarakter dan memiliki energi yang melimpah untuk sukses. Dalam tempo relatif pendek perusahaan berhasil tumbuh dan dalam waktu cepat mencapai puncak prestasi. Dengan bantuan teman-teman pers, Perusahan terus meraih keberhasilan. Ambisi ini mulai tak terbendung. Perusahan terlalu percaya diri. Perusahaan terburu-buru untuk ekspansi dengan pinjaman modal dari fihak ketiga. Karena populer banyak fihak yang bersedia memberikan modalnya. Tanpa disadari perusahaan mulai over trading, kelebihan hutang dan akibatnya biaya produksi dan harga menjadi tinggi untuk menutupi hutang. Ternyata produk yang dijual tidak seperti yang dibayangkan. Volume penjualan memburuk, laba terus menurun dan kehilangan kepercayaan dari investor. Akhirnya perusahaan ini mati sebelum menjadi besar/dewasa.

  1. Model katak rebus : model ini hanya terjadi pada perusahaan yang telah dewasa atau telah berhasil berbisnis selama puluhan tahun. Biasanya skala perusahaan besar bahkan menglobal. Akibatnya kekuasaan dikelola secara otoriter.perusahaan alpa mengantisipasi perubahan lanskap bisnis. Akhirnya laba merosot dengan tajam.

Bibeault (1999) membedakan indikator ketidaksehatan dalam tiga bagian yakni : (a)Metode pemalan dengan matematika : pendekatan yang digunakan adalah Altman Z Skor. Kelemahannya metode ini menggunakan data yang relatif lama. (b) Indikator keuangan : misalnya penurunan margin dan peningkatan hutang, akan tetapi Indikator ini tidak dapat digunakan bagi perusahaan yang baru berdiri atau tahap pertumbuhan (c) Indikator Perilaku : misalnya kegagalan dalam komunikasi, rendahnya moral kerja, kantor terlihat kumuh dll.

Slatter dan Lovett (1999) menjelaskan ada 13 faktor penyebab ketidaksehatan perusahaan yakni : (1) Ketidakcakapan manajemen : biasanya ditandai dengan tidak fahamnya manajemen tentang perusahaan yang dikelola. Hal ini disebabkan kurangnya kompentensi manajerial dan kepemimpinan, visi yang sempit, kehilangan gairah (spirit), beban kerja yang semakin berat, manajemen yang birokratis, ketidakseimbangan dan ketidakpaduan tim eksekutif. (2) Ketidakcukupan pengendalian keuangan ; hal ini tandai dengan lemahnya pengawasan keuangan, pengawasan anggaran, peramalan aliran kas, akuntasi pertanggungjawaban dll (3) Kesalahan manajemen modal kerja ; hal ini tandai dengan kegagalan pengelolaan modal kerja. Biasanya karena penjualan tidak selalu dibayar tunai, piutang dagang sulit ditagih dan hutang dagang menumpuk. (4) Kebijaksanaan keuangan : hutang yang terlalu besar. Kaidah manajemen menyatakan jumlah hutang dianggap normal jika tidak lebih dari dua kali modal sendiri. (5) Struktur biaya yang tinggi : perusahaan dikatakan tidak memiliki keunggulan biaya jika perusahaan tersebut gagal memperoleh struktur biaya yang lebih rendah dibanding pesaing. Secara sederhana ada enam sebab munculnya kegagalan perusahaan mendapatkan keunggulan biaya yakni : (a) rendahnya skala ekonomi dan kegagalan kurva belajar, (b) kegagalan perusahaan dalam menguasai sumber daya dan dana strategis (c) efek samping diversifikasi (d) struktur organisasi dan gaya manajemen (e) operasi perusahaan yang tidak efisien (f) kebijaksanaan pemerintah yang tidak kondusif. (6) Kegagalan program pemasaran : kegagalan ini ditandai dengan rendahnya efektifitas promosi, kurang agresifnya tenaga penjualan dan buruknya pelayanan purna jual. (7) Proyek besar : Kondisi ini terjadi biasanya pada saat perusahaan sedang tumbuh dan berkembang sehingga pertumbuhan perusahaan dilakukan secara agresif terutama karena diversifikasi usaha. Karena perusahaan belum cukup berpengalaman dibidang usaha baru, perusahaan keliru dalam memproyeksi aliran kas. Biaya ditaksir terlalu rendah dan pendapatan ditaksir terlalu tinggi. (8) Akuisisi : ada tiga sebab utama mengapa akuisisi mengalami kegagalan yang pada ujungnya dapat membawa perusahaan menjadi sakit. (a) perusahaan salah melakukan akuisisi yakni perusahaan yang tidak lagi mengalami keunggulan bersaing baik keunggulan biaya atau keunggulan diferensiasi. Biasanya perusahaan tertarik karena harga murah yang ditawarkan dan berharap dapat membangun kembali perusahaan. (b) Perusahaan telah mengeluarkan sejumlah uang yang besar untuk dapat mengakuisisi perusahan. (c) kesalahan manajemen pasca akuisisi. Biasanya kegagalan terjadi pada proses penyatuan kultur perusahaan. (9) Pertumbuhan yang terlampau cepat. Biasanya terjadi ketidakseimbangan yang diakibatkan manajemen merasa sudah hebat. Hutang diambil semakin besar, ketika terjadi sedikit saja kesalahan perhitungan maka perusahaan akan mengalami kesulitan likuiditas. (10) Ketidakberdayaan dan kebingungan organisasi. Hal ini ditandai dengan lambatnya manajemen dalam mengambil keputusan, lambat mengambil peluang dan tidak mengenali hambatan. (11) Intensitas persaingan. Tingginya intensitas perusahaan memasuki fase hyper competitive. Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan harga dan kualitas sebagai satu-satunya keunggulan bersaing. Perusahaan harus mengandalkan inovasi. (12) Perubahan pasar. Bergesernya selera konsumen, perubahan perilaku, harus menjadi perhatian perusahan. (13) Pergerakan harga komoditi. Naiknya harga minyak di pasaran dunia, naiknya harga listrik merubah secara signifikan harga bahan baku dipasaran.

Slatter (1999) Menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan agar perusahaan menjadi sehat,

1. Pergantian Manajemen : secara riil pucuk pimpinan baru diharapkan akan mampu membawa perubahan strategis yang komprehensif bukan sekedar operasional tambal sulam. Pergantian ini secara simbolik juga menunjukkan hukuman sebagai akibat kegagalan pimpinan lama.  (2) Sentralisasi Pengendalian Keuangan : melakukan efisiensi anggaran dengan prinsip kurangi lemaknya bukan ototnya. Pengetatan drastis biasanya dilakukan pada biaya-biaya yang tidak langsung berhubungan dengan proses produksi, seperti bujet promosi, penelitian dan pengembangan, humas dsb. (3) Perubahan struktur organisasi. Hal ini dilakukan untuk melakukan kordinasi akibat memburuknya komunikasi, kerjasama antar departemen dsb dan pengendalian manajemen (4) Reduksi Aset : melakukan divestasi aset-aset yang tidak begitu vital bagi pengembangan usaha. Biasanya hal ini dilakukan agar perusahaan mendapatkan dana segar. (5) Restrukturisasi hutang dan portofolio investasi. Manajemen perlu melakukan negoisasi ulang tentang penjadwalan kembali pembayaran hutang, pengurangan besarnya bunga, pemotongan hutang (hair cut) kepada fihak kreditur/perbankan (6) Reorientasi produk melalui pengurangan atau penambahan lini item produk serta perubahan segmen konsumen yang dilayani. (7) Peningkatan program pemasaran.

3 Responses to “Menjaga Perusahaan Agar Tetap Bugar”

  1. minta tolong yah kasih ide nya

    contoh perusahaan model cebong, model katak tenggelam, dan model katak rebus…

    secepat nya

    thank

    yuuukkk

  2. Iwul well Says:

    Thanks atas ilmunya ya…..

  3. bisa tlong kasih contoh perusahaanya gak ? untuk tugas nih makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: