Inovasi dan Kreativitas

“The business world would never stops reinventing itself, so the key to long-term, sustainable success in the rapidly changing world is perpetual and pervasive innovation.” (Stephen M. Shapiro)

Change the rule of the game! If you want to be a market leader, make your business look different. Menjadi seorang pebisnis memerlukan keberanian menghadapi resiko. Untuk itu penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan upaya dalam memanfaatkan peluang yang ada. Memiliki Kreativitas berarti kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang (creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problems and opportunities). Inovasi berarti kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to those problems and opportunities to enhance or to enrich people’s live) sedangkan menurut Levitt, kreativitas adalah thinking new things (berpikir sesuatu yang baru) dan inovasi adalah doing new things (melakukan sesuatu yang baru). keduanya jelas. Inovasi merupakan aplikasi praktis dari kreativitas.

Keberhasilan seorang wirausaha akan tercapai apabila berpikir dan melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama yang dilakukan dengan cara yang baru (thinking and doing new things or old thing in new ways). Pakar manajemen, Peter F Drucker, menyebutkan inovasi yang berhasil adalah hasil pencarian dengan penuh kesadaran dan bertujuan mengantisipasi munculnya peluang inovasi yang hanya ditemukan dalam segelintir situasi. Proses inovasi adalah mengenai cara perusahaan menghasilkan, melakukan evaluasi, dan mengimplementasikan solusi-solusi kreatif yang akhirnya memudahkan perusahaan mencapai dan memperbarui bisnisnya dalam konteks global. Mencetuskan inovasi dalam perusahaan bukanlah aktivitas yang mudah. Inovasi harus dikembangkan dengan pengelolaan interaksi dari berbagai proses dan didukung budaya untuk selalu bertanya. Inovasi bukan hanya tanggung jawab bagian R&D, tetapi harus menyebar di setiap sisi perusahaan dalam semua proses dan pikiran semua karyawan. Dari keterangan diatas apakah entrepreneurship perlu berciri sesuatu yang baru. Padahal dalam praktek sehari-hari, tampaknya wirausaha dalam arti luas tak perlu sesuatu yang baru. Banyak bisnis yang berhasil karena meniru bisnis orang lain (Me-too business) dan ternyata juga bisa menghasilkan uang yang memadai, terutama untuk bisnis tradisional dan UKM. Jelas anda perlu punya sikap entrepreneur! Bayangkan, kalau semua orang berpikir me-too, pada akhirnya bisnis anda akan mencapai stagnasi– tak lagi ada perkembangan yang berarti. Mungkin pada awalnya kesuksesan pada bisnis anda mungkin bisa dicapai hanya melalui cara konvensional. Akan tetapi segera setelah perusahaan Anda mencapai sukses, orang lain juga akan mempelajari kekuatan unik Anda dan menirunya (imitation).

Steven P Schnaars, dalam bukunya Managing Imitation Strategy menggolongkan imitasi beberapa tingkatan. 1. Counterfeits atau pembajakan. Perusahaan yang menjalankan strategi imitasi ini benar-benar menjual produk dengan dengan merek dan desain yang benar-benar sama sehingga sering disebut produk palsu. Imitasi semacam ini sudah tergolong kegiatan ilegal. 2. Knockoff atau Kloning. Perusahaan yang menjalankan strategi imitasi ini meniru produk yang sudah ada tetapi memiliki merek lain. 3. Design copy atau Trade Dress. Strategi ini merupakan kombinasi imitasi dan inovasi. 4. Creative Adaptation, peniru meniru produk yang sudah ada kemudian mengembangkannya atau mengadaptasinya kepada lingkungan yang baru. Peniru ini disebut Inovative Imitator Untuk itu perlu anda sadari di era global ini, persaingan di antara sesama pebisnis atau pengusaha sangat ketat dan variatif baik persaingan di skala lokal, regional, nasional maupun internasional. Maka pebisnis atau perusahaan menekankan pada inovasi yang penuh kreativitas yang akan bisa bersaing, bertahan, unggul, dan mempunyai nilai lebih. Nilai lebih tersebut yaitu wirausaha harus memiliki kemampuan dalam hal berhubungan dengan masyarakat lainnya (interaksi), kemampuan dalam hal memasarkan barang, keahlian mengatur, serta sikap terhadap uang.Perusahaan-perusahaan inovator sangat memperhatikan masalah pelatihan karyawan, pemberdayaan, dan juga sistem reward untuk meng-create daya pegas inovasi. Dalam pasar bebas, inovasi merupakan salah satu keunggulan bersaing. Banyak perusahaan yang profitabilitasnya di-drive oleh inovasi produk. Garudafood, misalnya, meski pendapatan terbesarnya dari kacang, juga memunculkan produk-produk baru, seperti Okky Jelly Drink. Begitu juga Dua Tang dengan Frutang-nya, Bintang Toedjoe dengan Extra Joss, Komix, dan sebagainya.

Stephen M. Shapiro, dalam bukunya yang berjudul 24/7 Innovation: A Blueprint for Surviving and Thriving in an Age of Change. Menyatakan apa kunci utama untuk sukses dan tetap bertahan? Jawabannya sederhana saja: perpetual & pervasive innovation, untuk mencapai kemampuan ini, perusahaan membutuhkan inovasi tanpa batas di setiap detak waktu yang ada, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. pervasive innovation adalah inovasi yang meresap di setiap sisi perusahaan, di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dalam 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Seolah inovasi adalah napasnya perusahaan. Untuk itu diperlukan kapabilitas yang akan membantu perusahaan menghasilkan kinerja yang optimal dalam aktivitas-aktivitas yang membutuhkan proses, orang, dan teknologi yang didefinisikan sebagai strategi.Inovasi tak selalu mengacu kepada sesuatu yang baru sama sekali. Okky Jelly Drink, misalnya, merupakan turunan dari Frutang dengan menambahkan jelly ke dalamnya. Sementara Frutang adalah turunan dari sirup Orson, yang diencerkan dan dikemas dalam gelas plastik ukuran kecil. Pampers dari P&G, misalnya, bukan murni temuan P&G, melainkan hasil konsolidasi Chux, produk tahun 1932, dan Chicopee Mills, salah satu unit bisnis Johnson & Johnson.

Menurut Sembel (2004) Agar inovasi dapat terlaksana, perusahaan perlu mengembangkan kapabilitas yang berintikan lima komponen penting yakni strategi, pengukuran, proses, orang, dan teknologi. Secara simultan, kapabilitas ini diharapkan dapat mengantar perusahaan besar atau kecil, lama atau baru, high tech atau low tech, menjadi pemimpin di industrinya, dan membantunya tetap bertahan dan berkembang dengan tetap mempertahankan keunggulan bersaing. Inovasi tidak muncul dengan sendirinya. Ia akan muncul ketika orang-orang bertanya mengenai hasil yang telah dicapainya dan memperbaiki proses penyelesaian pekerjaannya. Kerangka pikir inovatif terdiri dari sederetan pertanyaan yang dapat digabungkan menjadi tujuh kategori, yang disebut dengan “7R” (Rethink, Reconfigure, Resequence, Relocate, Reduce, Reassign, dan Retool).

Selain itu inovasi bisa dilakukan dengan cara shared knowledge Bill Gates, dalam bukunya Business @ the Speed of Thought, mengungkapkan bahwa shared knowledge-lah yang memiliki kekuatan mahadahsyat karena bisa mengubah informasi yang pasif menjadi aktif (memiliki kekuatan transformasi). Jika dimanfaatkan dengan optimal, shared knowledge bisa menjadi mesin uang. Contoh perusahaan yang berhasil misalnya Amazon.com. Perusahan bikinan Jeff Bezos ini berhasil mengalahkan kemapanan perusahaan-perusahaan besar, seperti Barnes and Noble. Dengan shared knowledge, Amazon.com memberikan secara cuma-cuma informasi kepada para pelanggan (pengunjung website) sebelum mereka memutuskan untuk membeli. Misalnya, resensi buku, daftar buku-buku sejenis, komentar pembaca mengenai buku tersebut, dan peringkatnya sebagai buku berkualitas.

Inovasi berhubungan dengan tren globalisasi. Globalisasi memberikan compressive advantage kepada para globalizers. Compressive Advantage adalah keuntungan tempat dan waktu yang makin efisien dalam melayani pasar global dengan dukungan inovasi. Kapabilitas andalan dalam menciptakan compressive advantage bukan lagi software atau hardware, melainkan brainware dan heartware, yaitu keterlibatan kompetensi inti dan emosional SDM dalam perusahaan. Komposisi brainware dan heartware yang tepat diperlukan oleh perusahaan di masing-masing industri untuk tampil sebagai pemenang.

Pendapat anda ?

One Response to “Inovasi dan Kreativitas”

  1. Steven Schnaars pada bukunya yang berjudul Managing Imitation Strategies: How Later Entrants Seize Markets from Pioneers, (1994) menekankan bagaimana beberapa perusahaan telah diuntungkan dan dibesarkan oleh produk imitasi, teknologi, atau cara dalam mengembangkan untuk memasuki pasar baru yang diciptakan oleh inovator. Dia mendukung imitasi sebagai strategi utama untuk melakukan bisnis dengan lebih baik dengan cara mendistribusikan produk yang identik atau kualitas superior dengan harga yang lebih rendah. Keuntungan yang lain adalah imitator juga dapat melampaui inovator dengan menambahkan fitur baru yang meningkatkan kualitas atau kinerja dari sebuah produk. Fitur tambahan yang baru dan harga yang lebih rendah dikatakan dapat menguntungkan konsumen dengan membuat barang dan jasa semakin praktis, berguna, terjangkau, dan mudah didapatkan. Schnaars (1994) berpendapat bahwa imitator harus membuat merek imitasi yang mempunyai nilai tambah dibanding dengan merek asli, misalnya dari segi harga yang lebih terjangkau, kualitas yang lebih baik, fitur tambahan yang berguna baik konsumen, maupun merek yang lebih mudah untuk didapatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: