Archive for March, 2008

Peranan IT terhadap Pengembangan Studi Mahasiswa

Posted in slide on March 31, 2008 by shelmi

Pemahaman Pentingnya IT bagi pengembangan mahasiswa. mulai dari perkembagan IT di Dunia Business. slide ini bahan Diskusi di HMJ Manajemen FE-UMSU, silahkan download di

Peranan IT terhadap Pengembangan Studi Mahasiswa

Spiritual Company

Posted in slide on March 31, 2008 by shelmi

Slide ini merupakan bahan diskusi dengan marketing Club FE USU. silahkan download di

Spiritual Company

Strategic Entrepreneurship

Posted in entrepreneur on March 31, 2008 by shelmi

Saat ini perubahan dalam dunia bisnis terjadi begitu cepat, hal ini dipicu oleh ledakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Produsen terus berlomba-lomba untuk menyenangkan konsumennya melalui terobosan baru, inovasi-inovasi, dan berbagai kemudahan lainnya, pendeknya consumen is not the king , but beyond the king. Akibatnya siklus umur produk juga semakin pendek bahkan tak jarang produsen melakukan  pembunuhan terhadap produk sendiri (product obscelence) yang penting usahanya /bisnisnya tetap menjadi leader bagi produk sejenis. Kondisi ini menyebabkan tingkat persaingan menjadi semakin ketat. Tiap perusahaan ingin tetap hidup (survive), berkembang dan mencapai tujuannya. Untuk dapat maju dan tumbuh tiap  perusahaan harus mampu bersaing. Oleh karena itu perusahaan mesti mempunyai strategi bersaing.  Persaingan tidak dapat dihindari, oleh karena itu mesti dihadapi. Di samping harus bersaing dengan perusahaan sejenis dan pemain lama, perusahaan juga harus menghadapi para pemain dan pendatang baru (new entrant), serta serbuan barang substitusi. Masih segar dibenak sebelum tahun 1998, pasar industri sepeda motor dikuasai oleh beberapa pemain saja, seperti Honda, Yamaha, Suzuki , Kawasaki dan Vespa. Namun sekarang ini, dengan masuknya pendatang baru dari Korea maupun Cina, maka jumlah merk sepeda motor menjadi sulit untuk dihapal, karena saking banyaknya. Demikian pula halnya dengan bisnis minuman dalam kemasan, Aqua menjadi merk generic, disusul dengan munculnya banyak merk lain yang mirip dengan Aqua.          Salah cara untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan melakukan perencanaan stratejik yang matang, yakni melakukan  aktivitas formulasi rencana jangka panjang bagi efektivitas pengelolaan peluang (opportunity) dan  tantangan lingkungan bisnis  sesuai dengan kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) , pendeknya adalah bagaimana suatu perusahaan mampu memprediksi,  mengantisipasi dan memanage masa depan yang turbulence and uncertainty.            Setidaknya ada 4 langkah  agar proses perencanaan stratejik yang dilakukan bisa berhasil.1.       Diagnosing the  organization. Pepatah Suntzu mengatakan bila kita dapat mengenali kekuatan dan kelemahan lawan niscaya peperangan akan kita menangkan.  Melakukan analisis SWOT berarti kita  bisa menentukan posisi perusahan,  apakah posisi bisnis kita leader atau follower.  2.       Analysing the industri.  menganalisa dampak industri terhadap pengembangan usaha . Porter mencatat banyak entrepreneur yang mengangap bahwa industri yang menarik adalah yang berkembang pesat atau menggunakan teknologi baru. Hal ini tentu saja keliru,  sesuai dengan hukum ekonomi semakin banyak pesaing tentu saja kemungkinan profit akan semakin kecil.3.       Creating a Vision. cara pandang jauh ke depan kemana perusahaan  harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif, dan inovatif. Visi yang baik setidaknya memenuhi tiga syarat utama yang tidak boleh tertinggal satupun. Pertama, harus berorientasi pada kegiatan. Kedua, harus terukur (measurable). Dan ketiga, harus mampu mengubah basis kompetisi. 4.       Developing strategies. memformulasikan strategi perusahan baik jangka panjang dan jangka pendek (tujuan, sasaran , kebijakan dan prioritas program). Menurut Higgins and Vinece  dalam setiap perusahaan ada tiga tingkatan strategi yakni Coorporate strategy, Business strategy, and Financial strategy”.  Entrepreneur dan inovasi           Schumpeter melihat entrepreneur adalah sebuah proses “destruktif yang kreatif” , dimana produk-produk  atau metode produksi yang sudah ada dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Oleh karena itu entrepreneuship berkaitan dengan penemuan, pendayagunaan peluang-peluang yang menguntungkan. Dengan kata lain fungsi spesifik dari entreprenur adalah inovasi. Inovasi berarti penciptaan nilai sebagai sumber keunggulan kompetitif. Tanpa inovasi cara/metode baru tidak akan pernah ditemukan.  Melalui inovasi, para entrepreneur akan terus melakukan ekspansi  memperluas daerah pemasaran, menambah jumlah pelanggan meningkatkan penjualan dan laba . Dalam perspektif strategic management , research and development (R&D) adalah bentuk lain dari inovasi.  Kenyataan ini diterima secara luas oleh perusahaan di Jepang, walaupun perekonomian menurun namun divisi R&D tidak akan pernah berhenti. Hal inilah yang menyebabkan Jepang menjadi salah satu pemain kunci dalam bidang pengembangan produk yang berbasiskan teknology.  Perusahaan –perusahaan terbaik di dunia saat ini seperti, Samsung Electronic , Sony, Xerox, Hewlet Packard, General Electric adalah perusahaan yang terus-menerus berkomitmen untuk memberikan solusi inovatif  bagi masalah-masalah pelanggan. Hal inilah yang menjadikan mereka terus mengembangkan riset demi keunggulan kompetitifnya Strategic entrepreneurship Sayangnya masih banyak yang menganggap bahwa perencanaan strategis hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar. Sebenarnya ini tidak terlalu benar, sebab perusahaan kecil juga dapat melakukan perencanaan strategic. karena kunci sukses suatu perusahaan tergantung pada kemampuan entrepreneur mengadakan adaptasi yang tepat terhadap lingkungan yang kompleks dan selalu berubah-ubah sehingga diperlukan suatu kerangka pengembangan strategi. Dalam pengembangan strategi ini setiap entrepreneur perlu menganalisis faktor- faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kinerjanya agar dapat digunakan sebagai pedoman strategi pengembangan industri. Porter menyatakan ada lima hal yang harus dikenali dan diperhitungkan dalam menentukan intensitas persaingan dan kemampulabaan dalam industri. yaitu : (1) ancaman dari para pendatang baru, (2) faktor pemasok, (3) faktor pembeli, (4) faktor produk substitusi, dan (5) faktor persaingan. Kekuatan yang paling besar akan menentukan dan menjadi sangat penting dari sudut pandang perumusan strategi          Oleh karena itu, seorang entrepreneur harus bisa menunjukkan atau menggali keunggulan-keunggulan strategis yang dimilikinya agar mempunyai inovasi untuk menghadapai persaingan sehingga keberhasilan yang menjadi tujuan perusahaan                                                               

Praktek outsourcing di Indonesia

Posted in HRD on March 31, 2008 by shelmi

Praktek outsourcing di Indonesia Outsourcing sudah banyak dipraktekan di dunia bisnis di Indonesia. Sebenarnya ide dan konsep outsourcing sudah dimulai lama sekali, saat suatu organisasi telah meminta suatu group di luar organisasi untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan secara internal. Penggunaan kata “outsourcing” sendiri sudah mulai dipakai sekitar tahun 1970 di dunia manufacturing. Sejak saat itu outsourcing mulai dikenal dan di implementasikan secara global. Satu sisi keberadaaan outsourcing akan sangat membantu pekerjaan perusahaan. Diluar negeri alasan utama melakukan outsourcing adalah untuk efisiensi biaya (yang artinya sebetulnya internal perusahaan memiliki kemampuan akan tetapi lebih mahal jika dikerjakan sendiri). Sedangkan di dalam negeri Alasan utama untuk melakukan outsourcing adalah karena tidak adanya sumber daya yang mampu mengerjakan. Kondisi ini terjadi banyak pada sektor IT. dimana beberapa perusahaan yang meng-outsource-kan komputer desktop-nya, karena trend IT yang terus berubah dan lifecycle product yang pendek Sektor perbankan misalnya dengan adanya kebijakan di dunia perbankan untuk menekan aset Bank. Banyak jasa outsourcer bermunculan misalnya, Industri car rental ; perusahaan tidak perlu dipusingkan oleh urusan transportasi dan services karena semuanya telah ditangani oleh Car rental yang telah menjadi bisnis rekanan perusahaan, industri security (keamanan) perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan urusan keamanan dan system, industri penyewaaan alat-alat kantor dan foto copy dan yang paling fenomenal adalah industri yang bergerak dibidang IT (teknologi dan informasi) Outsourcing menjadi dewa penyelamat bagi banyak industri dan perusahan. Mengapa ? Dengan outsourcing terjadi peningkatan produktifitas dan efficiency perusahaan. Bagaimana caranya ? dari sisi budgeting (anggaran) perusahaan akan lebih focus padapengunaan alokasi budget mereka, dari sisi operational perusahaan akan lebih focus mengerjakan core business mereka saja, dari sisi keuangan (finance) akan terjadi kemudahaan dan penghematan karena perusahaan tidak perlu lagi mengeluarkan investasi peralatan yang tidak sesuai dengan core business, biaya perawatan (maintainance) dsb, dari sisi SDM (human resources) perusahaan tidak lagi dipusingkan oleh rekruitmen, pelatihan dan pengembangan, bahkan dengan mudah mem “PHK” kan buruh. Pendeknya outsourcing sangat menguntungkan perusahaan. Bagaimana dari sisi karyawan (buruh)?, apakah buruh juga diuntungkan seperti perusahaan? Dalam kondisi ini ternyata keuntungan buruh tidak sebanding dengan keuntungan perusahaan. Sehingga membicarakan outsourcing menjadi fenomena yang menarik dalam dunia bisnis. Sejak diundangkannya UU No.13/2003, outsourcing pekerja menjadi menjamur. Hal ini disebabkan pengusaha dalam rangka efisiensi merasa aman jika buruh yang dioutsource adalah buruhnya perusahaan jasa pekerja. Disisi yang lain teryata outsourcing mengundang permasalahan baru yakni legal issue dimana status dari pada karyawan kurang jelas. apakah ia karyawan dari perusahaan itu atau ia karyawan dari perusahaan outsourcing? dan yang selanjutnya kemana ia harus mengajukan keberatan atas tindakan yang dilakukan oleh si employer. Dalam kondisi ini jika ada masalah buruh akan menjadi bulan-bulanan antara si outsourcing company dan si perusahaan. Mengapa bisa begini ? Ada dua pandangan, pandangan pertama perusahaan merasa tidak bertangungjawab. Sehingga yang bertanggung jawab terhadap buruh outsource tadi adalah perusahaan jasa pekerja. Perusahaan-perusahaan ini merasa diback up oleh pasal 6 ayat 2 a yang menyatakan bahwa antara perusahaan jasa pekerja harus ada hubungan kerja dengan buruh yang ditempatkan pada perusahaan pengguna. Pandangan yang kedua pihak buruh yang dioutsource juga merasa diback up oleh pasal 1 butir 15 yang menyatakan bahwa hubungan kerjanya bukan dengan perusahaan jasa pekerja melainkan dengan perusahaan pengguna. contohnya adalah Cleaning Services, Satpam dan Pengemudi. Dalam mekanisme outsourcing ini pemborong penyedia tenaga kerja memasok tenaga kerja kepada perusahaan pemberi kerja berdasarkan kontrak penyediaan jasa tenaga kerja. Kemudian Cleaning Services, Satpam, Pengemudi bekerja di perusahaan tersebut bukan dengan penyedia jasa tenaga kerja. Yang memberi upah, pekerjaan dan perintah bukan dengan perusahaan jasa pekerja melainkan perusahaan pengguna Prof.Dr. Aloysius Uwiyono, SH.,MH menyebutkan kedua pasal ini juga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pengusaha dan buruh apalagi outsourcing pekerja pada saat ini lagi ngetren. Banyak perusahaan memutuskan hubungan kerjanya dengan buruhnya untuk selanjutnya direkrut kembali melalui perusahaan jasa pekerja (outsourcing pekerja). Hal ini berarti bahwa melalui pasal 6 ayat 2 a UU No.13/2003 Pemerintah melegalkan bukan sekedar perbudakan modern melainkan juga termasuk human-trafficking. Suatu pelanggaran hak asasi manusia.

Outsourcing dan kepentingan ekonomi

Dinegara-negara berkembang seperti Indonesia dimana pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah sedang gencar-gencarnya. Akan terjadi kondisi yang paradox, misalnya fokus pembangunan adalah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat termasuk buruh. Tuntutan pemulihan ekonomi dari krisis multidimensional dan tuntutan peningkatan kesejahteraan buruh berjalan bersamaan. Difihak lain dengan alasan menarik investor untuk menanamkan investasinya dan mengatasi pengangguran, pemerintah akan membuat regulasi yang cenderung untuk memihak para pelaku bisnis kondisi ini sangat mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan. akhirnya tren hukum perburuhan akan diarahkan keberpihakannya kepada pelaku bisnis bukan kepada pekerja/buruh semata-mata. Dengan alasan pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya akan mengarahkan hukum perburuhan untuk melindungi pemilik modal. Hal ini berarti bahwa buruh dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya. Kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan, sehingga akan terjadi tarik menarik kepentingan dari kedua belah pihak. Pengusaha akan berusaha untuk tetap mempertahankan ketentuan yang mengatur Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dan outsourcing, di lain pihak buruh akan berusaha agar ketentuan Perjanjian Kerja Waktu tertentu dan outsourcing dihapuskan. Kasus – kasus ini banyak kita lihat misalnya polemik penetapan upah minimum propinsi dimana Pengusaha akan berusaha menekan besarnya upah minimum, di lain pihak pekerja akan berusaha meningkatkan upah minimum., peraturan tenaga kerja dsb. Belum lagi persolan lain akibat outsourcing, misalnya kolusi atau demi mendapatkan komisi, perusahaan yang ditunjuk melaksanakan outsorce bukan berdasarkan keahlian, kompetensi atau yang memperhatikan hak-hak pekerja Alternatif Mengatasi Problem outsorcing Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam melakukan outsourcing, agar praktek yang terjadi tidak hanya menguntungkan outsourcing company dan perusahaan dan merugikan buruh. Pertama sebelum menggunakan/ memakai jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing company) harus dilihat track recordnya, apakah hak-hak normatif buruh benar-benar diperhatikan ( dalam banyak kasus, gaji yang diberikan kepada buruh di potong lagi oleh outsourcing company, padahal outsourcing company telah mendapatkan komisi jasa dari perusahaan pengguna), atau tidak melanggar hak-asasi buruh. Kedua bagi perusahaan pengguna, pendekatan yang dilakukan sebaiknya pendekatan kemanusian bukan pendekatan undang-undang. Perusahaan harus menunjukkan kepeduliannya atas buruh outsourcing mereka dengan pelaksanaan program kesejahteraan dan kesehatan sehingga menciptakan perasaan aman dan ketenangan bagi karyawan di sebuah perusahaan. Ingat! Walaupun bukan karyawan tetap kehadiran mereka sangat penting, misalnya jika supir atau security atau frontliner yang bertugas tidak baik yang rugi tentu perusahaan itu sendiri. Ketiga perbaikan regulasi oleh pemerintah, apapun problemnya pemihakan kepada pemilik modal tanpa memperhatikan hak-hak normatif buruh tak dapat dibenarkan. Mengatasi pengangguran bukan dengan cara perbudakan. Keempat, Jadikan Serikat Buruh sebagai mitra, bukan lawan yang harus diawasi dan dicurigai. Dengan bermitra persoalan-persoalan yang ada disekitar buruh bisa didiskusikan dengan kepala dingin dan hati yang tenang. Semoga bermanfaat.

Posted in business on March 18, 2008 by shelmi

Ide Bisnis

Dalam dunia non linear, hanya ide-ide yang non linearlah yang menciptakan kekayaan baru (Gary Hamel, Leading the revolution)

Sebuah rencana bisnis bisa datang secara tiba-tiba (ide) baik melalui pengamatan maupun pengalaman, bisa juga melalui perencanaan yang matang. Ide-ide sering sekali muncul dalam bentuk untuk menghasilkan suatu barang dan jasa baru. Ide itu sendiri bukan peluang dan tidak akan muncul bila wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara terus-menerus. Banyak ide yang betul-betul asli, tetapi sebagian besar peluang tercipta ketika wirausaha memiliki cara pandang baru terhadap ide yang lama.

Gary Hamel dalam bukunya Leading the revolution (2000) mengungkapkan saat ini kita berada pada era revolusi dimana era kemajuan selalu dimulai dengan harapan dan diakhiri dengan kecemasan. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi perubahan yang bergerak secara linear (garis lurus). Tanda-tandanya terlihat seperti meningkatnya jumlah telepon seluler, meningkatnya pengguna internet dan munculnya para pemain baru dalam bidang bisnis yang sama sekali tidak diperhitungkan dan tiba-tiba merajai pasar seperti amazon.com, google atau e-bay.

Pelajaran apa yang bisa kita petik ? Artinya sejumlah pergeseran yang sudah tampak jelas bagi kita adalah pergeseran dari ekonomi industri menjadi knowledge-based economy, dari input-driven growth ke innovation-driven growth, dari scarcity of resources ke abundance of knowledge (Thurow, 1999), dari diminishing returns ke increasing returns, dari stability ke discontinuous change, dari perfecting the known ke imperfectly seizing the unknown (Prahalad, 1998) dan dari red ocean strategy ke blue ocean strategy (Kim dan Mouborgne, 2005).

Apa yang harus dimanfaatkan oleh pebisnis atau calon pebisnis. Munculnya ide-ide yang selama ini dianggap gila ( tak masuk akal) malah berhasil dipasar. Untuk itu jika anda memiliki sebuah rencana bisnis dan dianggap tidak masuk akal oleh orang lain jangan keburu menyerah. Simpan ide anda dengan baik, karena ide yang datang secara tiba-tiba (ide) baik melalui pengamatan maupun pengalaman, bisa juga melalui perencanaan yang matang akan cepat hilang bila tidak anda catat.

Ide-ide sering sekali muncul dalam bentuk untuk menghasilkan suatu barang dan jasa baru. Ide itu sendiri modal/ peluang bagi anda untuk berhasil dan ide anda harus dimatangkan melalui evaluasi dan pengamatan secara terus-menerus. ide baru juga bisa muncul ketika wirausaha memiliki cara pandang baru terhadap ide yang lama.

Dalam era revolusi bukan hanya pengetahuan baru yang menciptakan peluang dan kekayaan baru, namun pendalaman dan inovasi akan ide-ide lama juga akan menciptakan peluang dan kekayaan baru, demikian ungkap Gary Hamel. Sumber peluang potensial bisnis dapat digali dengan cara:

a. Menciptakan Produk Baru yang Berbeda (New Different product)

Dalam menciptakan produk baru yang benar-benar berbeda pebisnis sering mengalami hambatan baik hambatan pasar maupun hambatan ide. Ada banyak kisah sukses dan kisah kegagalan. Pemunculan Aqua misalnya sebagai produk air minum dalam kemasan juga pada awalnya di anggap sebagai ide gila. Bayangkan harga air minum pada saat itu lebih mahal dibanding dengan minyak. Sekarang para pengamat menganggap Aqua sebagai produk yang sangat sulit untuk dikalahkan. Walaupun semakin hari produk Aqua dikepung dengan munculnya produk AMDK baik secara lokal, regional atau dari perusahan besar tetap tidak menggoyahkan aqua sebagai pangsa pasar.

b. mencari peluang bisnis (Looking Oppurtunity)

Peluang bisnis bisa lahir dari mana saja misalnya pengalaman seseorang atau hobi. Misalnya kisah Agus Cahyadi, awalnya bekerja diperusahaan penerbitan sebagai manajer sirkulasi. Setelah melihat banyaknya majalah yang menjadi klien perusahaanya, akhirnya terpikir untuk membuka bisnis sablon. Ide ini muncul karena setiap majalah pasti membutuhkan promosi untuk setiap edisi baru mereka. Hasilnya tak sia-sia, berkat kerja keras dan usaha yang gigih usahanya berkembang. Beberapa perusahaan besar kini menjadi kliennya.

Selain contoh diatas saat ini muncul peluang-peluang bisnis baru yang sedang tren seperti tanaman hias, lapangan futsal, home schooling, digital printing, Wedding Organizer, bioskop mini, isi ulang tinta, sampai enceng gondok. yang terpenting adalah Ide-ide yang telah kita realisir akan menciptakan peluang bisnis karena peluang bisnis itu sebenarnya ada di sekitar kita dan banyak sekali macam bisnis yang bisa diraih. Namun, untuk menangkap peluang bisnis, diperlukan keberanian, kejelian dan kreativitas bisnis, dan kita harus betul-betul memahami kebutuhan masyarakat konsumen.

Beberapa keadaan yang dapat menciptakan peluang, yaitu: Produk baru harus segera dipasarkan dalam jangka waktu yang relatif singkat, Kerugian teknik harus rendah, Bila pesaing tidak begitu agresif untuk mengembangkan strategi produknya, Pesaing tidak memiliki teknologi canggih, Pesaing sejak awal tidak memiliki strategi dalam memperhatikan posisi pasarnya Perusahaan baru memiliki kemampuan dan sumber-sumber untuk menghasilkan produk barunya.

c. Menganalisa produk (Analyze your product)

Analisis ini penting untuk menciptakan peluang yang baik dalam menjalankan usahanya secara efektif dan efisien antara lain: (1) Menganalisa produk dan jasa yang telah ada dan yang akan ada. (2) Menganalisa daerah pasar yang dapat dilayani secara menguntungkan. (3) Mengakses kebutuhan dan keinginan konsumen yang sekarang maupun yang potensial dalam berbagai daerah pasar untuk dilayani. (4) Menganalisa kemampuan organisasi untuk melayani permintaan konsumen pada basis setelah penjualan. (5) Menggerakkan sumber-sumber organisasi untuk memuaskan kebutuhan konsumen. (6) Menganalisis struktur harga yang sesuai dengan penerimaan konsumen dan juga menyediakan pengoperasian bisnis yang aktif dalam hal keuntungan dan penghargaan pada pemilik.

Kemampuan ini bisa kita lihat perusahaan-perusahaan top dunia–IBM, Ford, Coca-Cola, Dell, GE–yang mampu me-maintain kinerja pertumbuhannya di tengah industri yang mulai jenuh dan menua. Noel Tichy. dalam buku larisnya, Control Your Destiny or Someone Else Will dan , Every Business is a Growth Business mengajarkan setua apa pun bisnis yang dimasuki, seorang growth leader akan tetap melihatnya sebagai growth business. “They always learn to look beyond their traditional definition of industry and markets,” kata Tichy. Mereka tak pernah kenal yang namanya batas pertumbuhan. Ketika para growth leader ini menemukan simtom adanya peluang, dengan cepat mereka melihat berbagai risiko, membangun skill dan kompetensi untuk mengeksploitasi peluang tersebut, dan akhirnya meloncat meninggalkan peluang-peluang lama yang tak relevan lagi, untuk masuk ke peluang yang baru.

Agar berhasil maka perlu dibangun growth mentality.. Pemimpin-pemimpin seperti Jack Welch (GE), Larry Bossidy (Allied Signal), Andy Grove (intel), atau Roberta Goizueta (Coca-Cola) menciptakan sense of urgency untuk terus tumbuh melalui growth mentality. Mereka memiliki ide yang jelas ke mana transformasi akan dijalankan. Mereka punya nilai-nilai yang akan menjadi acuan seluruh jajaran manajemen untuk menggerakkan perusahaan.

Bagaimana Pendapat anda ?

Menjaga Perusahaan Agar Tetap Bugar

Posted in business on March 18, 2008 by shelmi

Menjaga Perusahaan agar tetap bugar

Perusahan itu seperti makhluk hidup : lahir, tumbuh, kembang, sehat, tua, sakti-sakitan dan mati

Perusahaan dikatakan sakit jika perusahaan tersebut secara absolut dan substansi mengalami penurunan sumber daya dalam satu periode. Penurunan sumber daya bisa diukur melalui kinerja operasional (penjualan, laba, dividen, margin keuntungan, cash flow, harga saham, dll) serta kinerja strategis (pangsa pasar, urutan/posisi dalam industri, kualitas produk, biaya produksi, reputasi perusahaan, pelayanan konsumen, keunggulan teknologi dll).

Persoalaannya ukuran penurunan sumber daya seringkali dilihat berdasarkan kinerja operasional sehingga kesimpulan mejadi sering menyesatkan karena membaiknya kinerja operasional belum tentu membaiknya kinerja strategis. Secara ekonomis perusahaan dikatakan tidak sehat jika tingkat pengembalian investasi secara signifikan dan terus menerus lebih rendah dibandingkan investasi sejenis.

Walaupun ukurannya jelas, Untuk megenali gejala ketidaksehatan perusahaan bukanlah hal yang mudah. Karena gejala awal bukanlah gejala keuangan melainkan gejala non keuangan seperti meningkatnya jumlah komplain dan keluhan pelanggan, meningkatnya produk cacat, moral kerja karyawan yang rendah, gagalnya produk baru, lambannya pengambilan keputusan dsb. Biasanya sebelum tanda-tanda keuangan ini kelihatan para manajemen dan pemilik tidak mau mengakui bahwa perusahannya sakit. Mengakui persoalan sakit bukanlah hal mudah, bagi para manajer bisa berisiko atau berakibat buruk yakni diberhentikan oleh pemilik/pemegang saham. Diamnya eksekutif ini juga berharap bahwa perusahan akan kembali sehat dengan sendirinya.

Mengenali gejala ketidaksehatan juga seringkali dipengaruhi oleh sudut pandang. Orang dalam dan luar perusahaan seringkali menemukan gejala yang berbeda. Misalnya pemasok melihat keterlambatan dalam pembayaran merupakan ciri-ciri gejala tidak sehat, karyawan menganggap jika terjadi penurunan kesejahteraan merupakan ciri-ciri gejala tidak sehat, pemegang saham menganggap rendahnya/turunnya dividen merupakan ciri-ciri gejala tidak sehat dsb.

Weitzel dan Jhonson (1989) menyatakan proses ketidaksehatan mempunyai lima tahap yakni :

  1. Ditandai dengan meningginya tingkat persediaan barang, berkurangnya margin produk dan mengecilnya dana investasi. Pada tahapan ini perusahaan masih mampu menghasilkan laba sehingga manajemen perusahaan akan menolak jika dikatakan perusahaannya terkena gejala tidak sehat.
  2. Terjadi penurunan laba. Biasanya manajemen mengatakan bahwa kondisi pasar sedang sulit yang dipicu oleh faktor ekonomi atau kenaikan BBM. Kondisi ini hanya terjadi sekali saja dan tidak akan terulang.
  3. Mulai terjadi kerugian dalam proses operasi.
  4. Perusahaan mulai kerugian, aliran kas terganggu dan gangguan likuiditas serta solvabilitas. Pada tahap ini manajemen mulai sadar dan melakukan proses penyehatan perusahaan
  5. Perusahaan gagal disehatkan sehingga perusahaan terpaksa harus dilikuidasi atau di akusisi fihak asing.

Sedangkan Argenti (1974) dan Richardson (1994) menjelaskan beberapa model perusahaan sakit

  1. Model cebong, Tak pernah menjadi katak. Biasanya terjadi pada perusahaan yang ketika didirikan memang sudah sakit-sakitan. Ibarat bayi perusahaan ini telah memiliki cacat bawaan sejak lahir. Kemungkinan besar akan meninggal pada usia balita. Model perusahaan ini biasanya berumur pendek antara dua sampai lima tahun.

  1. Model katak tenggelam. Model perusahaan ini biasanya didirikan oleh suami – istri dan dibantu beberapa teman dekat. Sejak awal hanya satu orang yang benar-benar dominan menetukan arah perusahaan. Ia memiliki visi, ambisius, berkarakter dan memiliki energi yang melimpah untuk sukses. Dalam tempo relatif pendek perusahaan berhasil tumbuh dan dalam waktu cepat mencapai puncak prestasi. Dengan bantuan teman-teman pers, Perusahan terus meraih keberhasilan. Ambisi ini mulai tak terbendung. Perusahan terlalu percaya diri. Perusahaan terburu-buru untuk ekspansi dengan pinjaman modal dari fihak ketiga. Karena populer banyak fihak yang bersedia memberikan modalnya. Tanpa disadari perusahaan mulai over trading, kelebihan hutang dan akibatnya biaya produksi dan harga menjadi tinggi untuk menutupi hutang. Ternyata produk yang dijual tidak seperti yang dibayangkan. Volume penjualan memburuk, laba terus menurun dan kehilangan kepercayaan dari investor. Akhirnya perusahaan ini mati sebelum menjadi besar/dewasa.

  1. Model katak rebus : model ini hanya terjadi pada perusahaan yang telah dewasa atau telah berhasil berbisnis selama puluhan tahun. Biasanya skala perusahaan besar bahkan menglobal. Akibatnya kekuasaan dikelola secara otoriter.perusahaan alpa mengantisipasi perubahan lanskap bisnis. Akhirnya laba merosot dengan tajam.

Bibeault (1999) membedakan indikator ketidaksehatan dalam tiga bagian yakni : (a)Metode pemalan dengan matematika : pendekatan yang digunakan adalah Altman Z Skor. Kelemahannya metode ini menggunakan data yang relatif lama. (b) Indikator keuangan : misalnya penurunan margin dan peningkatan hutang, akan tetapi Indikator ini tidak dapat digunakan bagi perusahaan yang baru berdiri atau tahap pertumbuhan (c) Indikator Perilaku : misalnya kegagalan dalam komunikasi, rendahnya moral kerja, kantor terlihat kumuh dll.

Slatter dan Lovett (1999) menjelaskan ada 13 faktor penyebab ketidaksehatan perusahaan yakni : (1) Ketidakcakapan manajemen : biasanya ditandai dengan tidak fahamnya manajemen tentang perusahaan yang dikelola. Hal ini disebabkan kurangnya kompentensi manajerial dan kepemimpinan, visi yang sempit, kehilangan gairah (spirit), beban kerja yang semakin berat, manajemen yang birokratis, ketidakseimbangan dan ketidakpaduan tim eksekutif. (2) Ketidakcukupan pengendalian keuangan ; hal ini tandai dengan lemahnya pengawasan keuangan, pengawasan anggaran, peramalan aliran kas, akuntasi pertanggungjawaban dll (3) Kesalahan manajemen modal kerja ; hal ini tandai dengan kegagalan pengelolaan modal kerja. Biasanya karena penjualan tidak selalu dibayar tunai, piutang dagang sulit ditagih dan hutang dagang menumpuk. (4) Kebijaksanaan keuangan : hutang yang terlalu besar. Kaidah manajemen menyatakan jumlah hutang dianggap normal jika tidak lebih dari dua kali modal sendiri. (5) Struktur biaya yang tinggi : perusahaan dikatakan tidak memiliki keunggulan biaya jika perusahaan tersebut gagal memperoleh struktur biaya yang lebih rendah dibanding pesaing. Secara sederhana ada enam sebab munculnya kegagalan perusahaan mendapatkan keunggulan biaya yakni : (a) rendahnya skala ekonomi dan kegagalan kurva belajar, (b) kegagalan perusahaan dalam menguasai sumber daya dan dana strategis (c) efek samping diversifikasi (d) struktur organisasi dan gaya manajemen (e) operasi perusahaan yang tidak efisien (f) kebijaksanaan pemerintah yang tidak kondusif. (6) Kegagalan program pemasaran : kegagalan ini ditandai dengan rendahnya efektifitas promosi, kurang agresifnya tenaga penjualan dan buruknya pelayanan purna jual. (7) Proyek besar : Kondisi ini terjadi biasanya pada saat perusahaan sedang tumbuh dan berkembang sehingga pertumbuhan perusahaan dilakukan secara agresif terutama karena diversifikasi usaha. Karena perusahaan belum cukup berpengalaman dibidang usaha baru, perusahaan keliru dalam memproyeksi aliran kas. Biaya ditaksir terlalu rendah dan pendapatan ditaksir terlalu tinggi. (8) Akuisisi : ada tiga sebab utama mengapa akuisisi mengalami kegagalan yang pada ujungnya dapat membawa perusahaan menjadi sakit. (a) perusahaan salah melakukan akuisisi yakni perusahaan yang tidak lagi mengalami keunggulan bersaing baik keunggulan biaya atau keunggulan diferensiasi. Biasanya perusahaan tertarik karena harga murah yang ditawarkan dan berharap dapat membangun kembali perusahaan. (b) Perusahaan telah mengeluarkan sejumlah uang yang besar untuk dapat mengakuisisi perusahan. (c) kesalahan manajemen pasca akuisisi. Biasanya kegagalan terjadi pada proses penyatuan kultur perusahaan. (9) Pertumbuhan yang terlampau cepat. Biasanya terjadi ketidakseimbangan yang diakibatkan manajemen merasa sudah hebat. Hutang diambil semakin besar, ketika terjadi sedikit saja kesalahan perhitungan maka perusahaan akan mengalami kesulitan likuiditas. (10) Ketidakberdayaan dan kebingungan organisasi. Hal ini ditandai dengan lambatnya manajemen dalam mengambil keputusan, lambat mengambil peluang dan tidak mengenali hambatan. (11) Intensitas persaingan. Tingginya intensitas perusahaan memasuki fase hyper competitive. Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan harga dan kualitas sebagai satu-satunya keunggulan bersaing. Perusahaan harus mengandalkan inovasi. (12) Perubahan pasar. Bergesernya selera konsumen, perubahan perilaku, harus menjadi perhatian perusahan. (13) Pergerakan harga komoditi. Naiknya harga minyak di pasaran dunia, naiknya harga listrik merubah secara signifikan harga bahan baku dipasaran.

Slatter (1999) Menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan agar perusahaan menjadi sehat,

1. Pergantian Manajemen : secara riil pucuk pimpinan baru diharapkan akan mampu membawa perubahan strategis yang komprehensif bukan sekedar operasional tambal sulam. Pergantian ini secara simbolik juga menunjukkan hukuman sebagai akibat kegagalan pimpinan lama.  (2) Sentralisasi Pengendalian Keuangan : melakukan efisiensi anggaran dengan prinsip kurangi lemaknya bukan ototnya. Pengetatan drastis biasanya dilakukan pada biaya-biaya yang tidak langsung berhubungan dengan proses produksi, seperti bujet promosi, penelitian dan pengembangan, humas dsb. (3) Perubahan struktur organisasi. Hal ini dilakukan untuk melakukan kordinasi akibat memburuknya komunikasi, kerjasama antar departemen dsb dan pengendalian manajemen (4) Reduksi Aset : melakukan divestasi aset-aset yang tidak begitu vital bagi pengembangan usaha. Biasanya hal ini dilakukan agar perusahaan mendapatkan dana segar. (5) Restrukturisasi hutang dan portofolio investasi. Manajemen perlu melakukan negoisasi ulang tentang penjadwalan kembali pembayaran hutang, pengurangan besarnya bunga, pemotongan hutang (hair cut) kepada fihak kreditur/perbankan (6) Reorientasi produk melalui pengurangan atau penambahan lini item produk serta perubahan segmen konsumen yang dilayani. (7) Peningkatan program pemasaran.

Inovasi dan Kreativitas

Posted in business on March 3, 2008 by shelmi

“The business world would never stops reinventing itself, so the key to long-term, sustainable success in the rapidly changing world is perpetual and pervasive innovation.” (Stephen M. Shapiro)

Change the rule of the game! If you want to be a market leader, make your business look different. Menjadi seorang pebisnis memerlukan keberanian menghadapi resiko. Untuk itu penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan upaya dalam memanfaatkan peluang yang ada. Memiliki Kreativitas berarti kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang (creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problems and opportunities). Inovasi berarti kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to those problems and opportunities to enhance or to enrich people’s live) sedangkan menurut Levitt, kreativitas adalah thinking new things (berpikir sesuatu yang baru) dan inovasi adalah doing new things (melakukan sesuatu yang baru). keduanya jelas. Inovasi merupakan aplikasi praktis dari kreativitas.

Keberhasilan seorang wirausaha akan tercapai apabila berpikir dan melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama yang dilakukan dengan cara yang baru (thinking and doing new things or old thing in new ways). Pakar manajemen, Peter F Drucker, menyebutkan inovasi yang berhasil adalah hasil pencarian dengan penuh kesadaran dan bertujuan mengantisipasi munculnya peluang inovasi yang hanya ditemukan dalam segelintir situasi. Proses inovasi adalah mengenai cara perusahaan menghasilkan, melakukan evaluasi, dan mengimplementasikan solusi-solusi kreatif yang akhirnya memudahkan perusahaan mencapai dan memperbarui bisnisnya dalam konteks global. Mencetuskan inovasi dalam perusahaan bukanlah aktivitas yang mudah. Inovasi harus dikembangkan dengan pengelolaan interaksi dari berbagai proses dan didukung budaya untuk selalu bertanya. Inovasi bukan hanya tanggung jawab bagian R&D, tetapi harus menyebar di setiap sisi perusahaan dalam semua proses dan pikiran semua karyawan. Dari keterangan diatas apakah entrepreneurship perlu berciri sesuatu yang baru. Padahal dalam praktek sehari-hari, tampaknya wirausaha dalam arti luas tak perlu sesuatu yang baru. Banyak bisnis yang berhasil karena meniru bisnis orang lain (Me-too business) dan ternyata juga bisa menghasilkan uang yang memadai, terutama untuk bisnis tradisional dan UKM. Jelas anda perlu punya sikap entrepreneur! Bayangkan, kalau semua orang berpikir me-too, pada akhirnya bisnis anda akan mencapai stagnasi– tak lagi ada perkembangan yang berarti. Mungkin pada awalnya kesuksesan pada bisnis anda mungkin bisa dicapai hanya melalui cara konvensional. Akan tetapi segera setelah perusahaan Anda mencapai sukses, orang lain juga akan mempelajari kekuatan unik Anda dan menirunya (imitation).

Steven P Schnaars, dalam bukunya Managing Imitation Strategy menggolongkan imitasi beberapa tingkatan. 1. Counterfeits atau pembajakan. Perusahaan yang menjalankan strategi imitasi ini benar-benar menjual produk dengan dengan merek dan desain yang benar-benar sama sehingga sering disebut produk palsu. Imitasi semacam ini sudah tergolong kegiatan ilegal. 2. Knockoff atau Kloning. Perusahaan yang menjalankan strategi imitasi ini meniru produk yang sudah ada tetapi memiliki merek lain. 3. Design copy atau Trade Dress. Strategi ini merupakan kombinasi imitasi dan inovasi. 4. Creative Adaptation, peniru meniru produk yang sudah ada kemudian mengembangkannya atau mengadaptasinya kepada lingkungan yang baru. Peniru ini disebut Inovative Imitator Untuk itu perlu anda sadari di era global ini, persaingan di antara sesama pebisnis atau pengusaha sangat ketat dan variatif baik persaingan di skala lokal, regional, nasional maupun internasional. Maka pebisnis atau perusahaan menekankan pada inovasi yang penuh kreativitas yang akan bisa bersaing, bertahan, unggul, dan mempunyai nilai lebih. Nilai lebih tersebut yaitu wirausaha harus memiliki kemampuan dalam hal berhubungan dengan masyarakat lainnya (interaksi), kemampuan dalam hal memasarkan barang, keahlian mengatur, serta sikap terhadap uang.Perusahaan-perusahaan inovator sangat memperhatikan masalah pelatihan karyawan, pemberdayaan, dan juga sistem reward untuk meng-create daya pegas inovasi. Dalam pasar bebas, inovasi merupakan salah satu keunggulan bersaing. Banyak perusahaan yang profitabilitasnya di-drive oleh inovasi produk. Garudafood, misalnya, meski pendapatan terbesarnya dari kacang, juga memunculkan produk-produk baru, seperti Okky Jelly Drink. Begitu juga Dua Tang dengan Frutang-nya, Bintang Toedjoe dengan Extra Joss, Komix, dan sebagainya.

Stephen M. Shapiro, dalam bukunya yang berjudul 24/7 Innovation: A Blueprint for Surviving and Thriving in an Age of Change. Menyatakan apa kunci utama untuk sukses dan tetap bertahan? Jawabannya sederhana saja: perpetual & pervasive innovation, untuk mencapai kemampuan ini, perusahaan membutuhkan inovasi tanpa batas di setiap detak waktu yang ada, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. pervasive innovation adalah inovasi yang meresap di setiap sisi perusahaan, di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dalam 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Seolah inovasi adalah napasnya perusahaan. Untuk itu diperlukan kapabilitas yang akan membantu perusahaan menghasilkan kinerja yang optimal dalam aktivitas-aktivitas yang membutuhkan proses, orang, dan teknologi yang didefinisikan sebagai strategi.Inovasi tak selalu mengacu kepada sesuatu yang baru sama sekali. Okky Jelly Drink, misalnya, merupakan turunan dari Frutang dengan menambahkan jelly ke dalamnya. Sementara Frutang adalah turunan dari sirup Orson, yang diencerkan dan dikemas dalam gelas plastik ukuran kecil. Pampers dari P&G, misalnya, bukan murni temuan P&G, melainkan hasil konsolidasi Chux, produk tahun 1932, dan Chicopee Mills, salah satu unit bisnis Johnson & Johnson.

Menurut Sembel (2004) Agar inovasi dapat terlaksana, perusahaan perlu mengembangkan kapabilitas yang berintikan lima komponen penting yakni strategi, pengukuran, proses, orang, dan teknologi. Secara simultan, kapabilitas ini diharapkan dapat mengantar perusahaan besar atau kecil, lama atau baru, high tech atau low tech, menjadi pemimpin di industrinya, dan membantunya tetap bertahan dan berkembang dengan tetap mempertahankan keunggulan bersaing. Inovasi tidak muncul dengan sendirinya. Ia akan muncul ketika orang-orang bertanya mengenai hasil yang telah dicapainya dan memperbaiki proses penyelesaian pekerjaannya. Kerangka pikir inovatif terdiri dari sederetan pertanyaan yang dapat digabungkan menjadi tujuh kategori, yang disebut dengan “7R” (Rethink, Reconfigure, Resequence, Relocate, Reduce, Reassign, dan Retool).

Selain itu inovasi bisa dilakukan dengan cara shared knowledge Bill Gates, dalam bukunya Business @ the Speed of Thought, mengungkapkan bahwa shared knowledge-lah yang memiliki kekuatan mahadahsyat karena bisa mengubah informasi yang pasif menjadi aktif (memiliki kekuatan transformasi). Jika dimanfaatkan dengan optimal, shared knowledge bisa menjadi mesin uang. Contoh perusahaan yang berhasil misalnya Amazon.com. Perusahan bikinan Jeff Bezos ini berhasil mengalahkan kemapanan perusahaan-perusahaan besar, seperti Barnes and Noble. Dengan shared knowledge, Amazon.com memberikan secara cuma-cuma informasi kepada para pelanggan (pengunjung website) sebelum mereka memutuskan untuk membeli. Misalnya, resensi buku, daftar buku-buku sejenis, komentar pembaca mengenai buku tersebut, dan peringkatnya sebagai buku berkualitas.

Inovasi berhubungan dengan tren globalisasi. Globalisasi memberikan compressive advantage kepada para globalizers. Compressive Advantage adalah keuntungan tempat dan waktu yang makin efisien dalam melayani pasar global dengan dukungan inovasi. Kapabilitas andalan dalam menciptakan compressive advantage bukan lagi software atau hardware, melainkan brainware dan heartware, yaitu keterlibatan kompetensi inti dan emosional SDM dalam perusahaan. Komposisi brainware dan heartware yang tepat diperlukan oleh perusahaan di masing-masing industri untuk tampil sebagai pemenang.

Pendapat anda ?