Archive for the finance Category

Jenis-jenis Persediaan

Posted in finance on May 5, 2009 by shelmi

Jenis-jenis persediaan dalam suatu perusahaan menurut fungsinya dapat dibedakan atas:
1. Bath Stock/Lot Size Inventory adalah persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.

Keuntungannya:
a. Potongan harga pada harga pembelian.
b. Efisiensi produksi.
c. Penghematan biaya angkutan.

2. Fluctuation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.

3. Anticipation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan, penjualan, atau permintaan yang meningkat.

Setiap jenis persediaan memiliki karakteristik tersendiri dan cara pengelolan yang berbeda, sehingga dapat dilihat dari jenis dan posisi barang. Persediaan menurut jenis dan posisi barang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis:
1. Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang-barang berwujud, seperti besi, kayu, serta komponen-komponen lain yang dugunakan dalam proses produksi.
2. Persediaan bagian produk atau komponen-komponen rakitan (purchased parts/components), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahan lain yang secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap dijual atau dikirim kepada pelanggan.

Dalam Manajemen persediaan, barang-barang dapat dibagi menurut beberapa sudut pandang/pendekatan, yang antara lain dapat disampaikan sebagai berikut:
1. Menurut jenis
a. barang umum (general materials), barang jenis ini biasanya cukup banyak, pemakainnya tidak tergantung dari peralatan, harganya relatif lebih kecil. Dan penentuan kebutuhannya relatif gampang.
b. Suku cadang (spare parts), barang jenis ini macamnya sangat banyak, harganya biasanya lebih mahal, pemakaiannya tergantung dari peralatan, dan penentuan kebutuhannya lebih sulit.

2. Menurut harga
a. Barang berharga tinggi (high value items), barang ini biasanya berjumlah sekitar hanya 10% dari jumlah item persediaan, namun jumlah nilainya mewakili sekitar 70% dari seluruh nilai persediaan, dan oleh sebab itu memerlukan tingkat pengawasan yang tinggi.
b. Barang berharga menengah (medium value items), barang ini biasanya berjumlah kira-kira 20% dari jumlah item persediaan, dan jumlah nilainya juga sekitar 20% dari jumlah nilai persediaan, sehingga memerlukan tingkat pengawasan cukup saja.
c. Barang berharga rendah (low value items), berlawanan dengan barang berharga tinggi, jenis barang ini biasanya berjumlah kira-kira 70% dari seluruh pos persediaan, namun nilai harganya hanya mewakili 10% saja dari seluruh nilai barang persediaan, sehingga hanya menerlukan tingkat pengawasan rendah.

3. Menurut frekuensi penggunaan.
a. Barang yang cepat pemakaiannya atau pergerakannya (fast moving items), barang ini frekuensi penggunaannya dalam 1 tahun lebih dari sekian bulan tertentu, misalnya lebih dari 4 bulan, sehingga barang jenis ini memerlukan frekuensi perhitungan pemesanan kembali yang lebih sering.
b. Barang lambat pemakaian atau pergerakannya (slow moving items), barang yang frekuensi penggunaannya dalam 1 tahun kurang dari sekian bulan tertentu, misalnya dibawah 4 bulan, sehingga barang jenis ini memerlukan frekuensi perhitungan pemesanan kembali yang tidak sering.

4. Menurut tujuan penggunaan
a. Barang pemeliharaan, perbaikan, dan operasi (MRO materials), barang ini sifatnya habis pakai, digunakan untuk keperluan pemeliharaan, perbaikan, atau reparasi dan operasi dan kalau pada suatu saat persediaan habis, operasi masih dapat berjalan sementara.
b. Barang program (program materials), barang yang sifatnya juga habis pakai, jumlah kebutuhannya sesuai dengan tingkat produksi/kegiatan perusahaan yang bersangkutan. Dan kalau pada suatu saat persediaan habis, kegiatan peusahaan akan langsung berhenti.

5. Menurut jenis anggaran.
a. Barang Operasi (operating materials), barang yang digunakan untuk keperluan operasi biasa, yang dianggarkan dalam anggaran operasi, dan apabila digunakan sebagai biaya, dan proses persetujuan anggarannya biasanya lebih cepat dan sederhana.
b. Barang investasi (capital materials), barang yang biasanya berbentuk peralatan dan digunakan untuk penambahan, perluasan, dan pembangunan proyek, atau sebagai asset perusahaan, dianggarkan dalam anggaran investasi, bukan dalam anggaran operasi, dan dibukukan dalam akun aset perusahaan, sedangkan biayanya dihitung dengan metode penyusutan sesuai dengan metode perhitungan yang telah ditentukan, dan proses persetujuan anggarannya biasanya lebih sulit dan lama.

6. Menurut cara pembukuan perusahaan.
a. Barang persediaan (stock items), jenis barang yang setibanya barang tersebut dari proses pembelian, dibukukan dalam akun “persediaan barang perusahaan” dan barangnya sendiri disimpan digudang persediaan. Setelah barang tersebut digunakan oleh suatu bagian, baru dibebankan pada akun bagian yang bersangkutan. Penggunaan barang ini berulang-ulang, sehingga memang perlu disediakan digudang.
b. Barang dibebankan langsung (direct charged materials), jenis barang yang setelah dibeli langsung dikirimkan dan dibebankan kebagian yang akan menggunakan. Barang jenis ini memang biasanya tidak disediakan dalam persediaan, karena jarang sekali digunakan.

7. Menurut hubungannya dengan produksi
a. Barang Langsung (direct materials), jenis barang yang langsung digunakan dalam produksi, yang akan menjadi bagian dari produk akhir. Jadi bahan mentah, bahan penolong, barang setengah jadi, dan barang komoditas (barang jadi) termasuk dalam kategori ini.
b. Barang tidak langsung ( indirect materials), jenis barang yang tidak ada huungannya dengan proses produksi, namun diperlukan untuk memelihara mesin dan fasilitas yang digunakan dalam proses produksi. Yang termasuk dalam kategori ini adalah barang suku cadang, barang umum dan barang proyek.
Untuk dapat mengetahui besarnya persediaan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Besarnya persediaan pengaman ( safety stock)
Menurut Freddy Rangkuti “persediaan pengaman adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan/barang (stock out)”.
Ada beberapa factor yang menentukan besarnya persediaan pengaman, yaitu:
a. Penggunaan bahan baku rata-rata. Hal ini perlu diperhatikan karena ketika kita mengadakan pemesanan pengganti maka pemenuhan permintaan dari langganan sebelum barang yang dipesan datang harus dapat dipenuhi dari stock yang ada atau yang disimpan.
b. Faktor waktu. Lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan bahan-bahan yang dipesan sampai pada bahan diterima digudang pesediaan.
c. biaya-biaya yang digunakan

2. Economic Order Quantity (EOQ)
Jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah. Menurut Bambang Riyanto “ EOQ adalah jumalh kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal ”.
Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita hanya memperhatikan biaya variable dari penyediaan persediaan tersebut.

3. Reorder Point
Suatu titik dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus dilakukan kembali, sehubungan dengan adanya leadtime dan safety stock.

Perencanaan dan Pengendalian Persediaan

Posted in finance on May 5, 2009 by shelmi

1. Perencanaan

Suatu rencana adalah langkah realistis yang telah ditentukan sebelumnya, rencana memuat rincian kagiatan untuk mencapai tujuan. Rencana harus menetapkan kriteria penilaian dan standart pengukuran serta memberi peluang bagi kreativitas dan fleksibilitas. Dalam merencanakan kita harus memperhitungkan berbagai kondisi yang terjadi diperusahaan, Perencanaan juga harus saling berhubungan untuk memperbaiki profitabilitas

Perencanaan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan, bagaimana harus dilaksanakan, kapan dan bagaimana alternatif untuk mencapai tujuan, termasuk biaya-biaya yang akan terjadi juga harus diukur. Untuk merencanakan besarnya jumlah persediaan, perlu mempertimbangkan biaya-biaya variabel berikut ini :

1. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs), yaitu terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang disimpan semakin besar. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah:
o Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya).
o Biaya modal (opportunity cost of capital), yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan.
o Biaya Keuangan.
o Biaya perhitungan fisik.
o Biaya asuransi persediaan.
o Biaya pajak persediaan.
o Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan.
o Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.

2. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs atau procurement costs), biaya-biaya ini meliputi :
• Pemprosesan pesanan dan biaya ekspedisi.
• Upah.
• Biaya telepon.
• Pengeluaran surat menyurat.
• Biaya pengepakan dan penimbangan.
• Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan.
• Biaya pengiriman ke gudang.
• Biaya utang lancar dan sebagainya.

3. Biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost. Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri oleh perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyimpanan untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :
• Biaya mesin-mesin menganggur.
• Biaya persiapan tenaga kerja langsung.
• Biaya penjadwalan.
• Biaya ekspedisi dan sebagainya.

4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan ( shortage costs) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :
• Kehilangan penjualan.
• Kehilangan pelanggan.
• Biaya pemesanan khusus.
• Biaya ekspedisi.
• Selisih harga.
• Terganggunya operasi.
• Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya.

Biaya kekurangan bahan sulit diiukur dalam prakteknya, terutama karena kenyataan biaya ini sering merupakan opportunity costs yang sulit diperkirakan secara objektif.

2. Pengendalian
Pengendalian meliputi langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan dan juga untuk memastikan bahwa seluruh bagian organisasi berfungsi sesuai tujuan organisasi. Pengendalian menurut Dlenn. Welsch Ronald W Hilton Paul (1995), adalah suatu proses untuk memastikan tindakan yang efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Pengendalian ini mencakup ; 1) Penetapan sasaran dan standart, 2) Membandingkan hasil dengan sasaran dan standart, 3) Mendorong keberhasilan dan memperbaiki kekurangan

Ada dua tujuan utama dalam pengendalian internal atas persediaan antaralain mengamankan persediaan dan melaporkan secara tepat dalam laporan keuangan. Pengendalian persediaan harus dimulai segera setelah persediaan diterima. Laporan penerimaan yang sudah diberi nomor sebelumnya harus diisi oleh departemen penerimaan perusahaan untuk menetapkan tanggung-gugat (account-ability) awal atas persediaan. Untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima sesuai yang dipesan, setiap laporan penerimaan harus cocok dengan pesanan pembelian.

Pengendalian internal juga bersifat :
1. Preventif (pencegahan), pengendalian preventif dirancang untuk mencegah kesalahan atau kekeliruan pencatatan.
2. Detektif, ditujukan untuk mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang telah terjadi.
3. Meningkatkan efisiensi dengan melaksanakan kebijakan dan prosedur untuk melakukan peningkatan yang mungkin dicapai.

Suatu sistem pengendalian internal merupakan bagian dari sebuah sistem pengendalian manajemen. Sistem pengendalian manajemen meliputi pengendalian administratif seperti anggaran untuk perencanaan dan pengendalian operasi, dan pengendalian akuntansi seperti prosedur pengendalian internal mengenai pemisahan tugas orang yang menghitung kas dari tugas orang yang memiliki akses terhadap pencatatan piutang.

LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Posted in finance on March 3, 2009 by shelmi

Pada mulanya laporan keuangan pada suatu perusahaan hanyalah sebagai penguji, dan pekerjaan bagian pembukuan. Akan tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan bukan hanya sebagai alat penguji saja tetapi juaga sebagai dasar untuk menentukan dan menilai posisi keuangan perusahaan tersebut.

Laporan keuangan pada dasarnya dinyatakan sebagai hasil dari proses akuntansi yang dpat digunakan sebgai alat komuniksai antara data keuangan atau kegiatan suatu perusahaan dengan pihak – pihak yang berkepentingan dengan data dan kegiatan perusahaan tersebut. Pengertian laporan keuangan

Menurut Warren ( 2005 : 24 ) : “Laporan Keuangan adalah Laporan Akuntansi yang menghasilkan informasi tentang keadaan suatu perusahaan sekaligus merupakan alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak – pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut “.

Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi kuantitatif , laporan keuangan sekurang – kurangnya disusun dan disajikan setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pemakai. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi Neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam berbagai cara. Data – data yang di sajikan dalam laporan keuangan berkaitan satu sama lain secara fundamental. Oleh sebab itu laporan keuangan disajikan untuk maksud – maksud dan tujuan – tujuan tertentu.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan ( 2004 : 4 ayat 12 ) : “ Tujuan Laporan Keuangan ialah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dan pengambilan keputusan ekonomi.”

Menurut Skousen (2001 : 9 ) : “Laporan keuangan menyediakan informasi keuangan mengenai suatu badan usaha yang akan dipergunakan oleh pihak – pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan didalam pengambilan keputusan ekonomi”.

Dapat diartikan bahwa laporan keuangan ditujukan untuk menaksir jumlah yang harus dikorbankan, meramalkan, membandingkan, dan untuk menilai perubahan potensi sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan dimasa depan, melalui suatu analisa yang tepat dalam pengambilan keputusan, dalam memprediksi kapasitas perusahaan dalam merumuskan efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.

Laporan keuangan dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan ( progress report ) secara periodik, sehingga pimpinan perusahaan dapat mengambil kebijaksanaan–kebijaksanaan sesuai dengan hasil– hasil yang dicapai pada periode sebelumnya.

Laporan Keuangan secara umum disajikan dalam tiga bentuk sesuai dengan relevansi dan kaitan data yang telah dibentuk. Adapun ketiga bentuk laporan keuangan tersebut adalah neraca, laporan rugi laba, dan laporan perubahan modal atau laba ditahan dan tambahan lain seperti laporan arus kas.

1. Neraca

Menurut Djarwanto ( 2001 : 15 ) : “ Neraca adalah suatu laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, dan modal sendiri dari suatu perusahaan tertentu pada tanggal tertentu. Biasanya pada saat buku ditutup yakni akhir bulan, akhir triwulan, dan akhir tahun.”

Suatu neraca ditujukan untuk menunjukan posisi keuangan pada suatu tanggal tertentu. Biasanya pada waktu buku – buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau satu tahun kalender. Dalam penyajianya pos–pos perkiraan neraca harus disajikan sesuai dengan ketentuan dan pengelompokan yang lazim yaitu sebagai berikut :

a. Aktiva dikelompokan berdasarkan urutan likuiditas atau kelancaran

aktiva

b. Kewajiban kelompokan berdasarkan urutan jatuh tempo

a. Modal dikelompokan atas dasar sifat kekekalan.

Untuk dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu. Neraca mempunyai tiga unsur utama yaitu aktiva, kewajiban, dan ekuitas. Masing–masing unsur ini dapat disubklasifikasikan sebagai berikut :

Aktiva

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004 : 16.2 ) “ Aktiva adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun“.

    1. Aktiva Lancar .

Menurut Soemarso (2004 : 228 )“Aktiva lancar yaitu kas dan aktiva- aktiva lain atau sumber – sumber yang diharapkan akan direalisasi menjadi uang kas Dalam Jangka waktu 1 ( satu ) tahun atau dalam satu siklus kegiatan normal perusahaan”. Seperti Kas, Investasi dalam efek, Surat berharga, Piutang dagang, Persediaan, Pembayaran dimuka. Investasi Jangka Panjang.

    1. Aktiva Tetap

“Aktiva Tetap adalah aktiva bernilai besar yang digunakan untuk kegiatan perusahaan, bersifat tetap atau permanen dan tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal”. Seperti Tanah, peralatan operasi perusahaan, Bangunan, Kendaraan, Mesin. Aktiva ini kecuali tanah akan berkurang nilainya oleh karena digunakan dalam kegiatan perusahaan.

Kewajiban / Hutang

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia ( 2004 : 13 ayat 49b ) :

“ Kewajiban merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaianya diharapkan mengakibatkan arus kas keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi.”

Berdasarkan jangka waktu pengembalianya atau pelunasanya hutang dibedakan menjadi :

a. Hutang jangka pendek atau hutang lancar

“Merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu yang normal, umumnya satu tahun atau semenjak neraca itu di susun, atau hutang yang jatuh temponya pada siklus akuntasi yang sedang berjalan”.

Yang termasuk kedalam hutang lancar adalah hutang dagang, wessel bayar, penghasilan yang ditangguhkan, hutang deviden, hutang pajak, hutang jangka panjang yang telah jatuh tempo.

b. Hutang jangka panjang

Menurut Soemarso (2004 : 230 ) “Hutang yang jatuh temponya lebih dari satu tahun digolongkan kedalam kewajiban jangka panjang”.

c. Kewajiban lain – lain

Yaitu kewajiban yang tidak dapat dikategorikan kedalam salah satu klasifikasi kewajiban tersebut. Misalnya hutang kepada direktur.

Ekuitas / Modal

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia ( 2004 : 12 ayat 49c ) : modal adalah residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban.” Dalam neraca besarnya modal sendiri dihitung dengan mengurangkan keseluruhan hutang perusahaan dari total aktiva. Yang termasuk kedalam golongan modal adalah modal saham, cadangan, laba ditahan, laba berjalan”

2. Laporan Rugi Laba

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia ( 2004 : 6.4 ayat 20 ) : “ Laporan Laba Rugi adalah laporan yang menunjukkan sumber dan penggunaan kas dan setara kas setiap periode, termasuk jumlah kumulatif sejak pendirian.”

Walaupun belum ada keseragaman tentang susunan laporan rugi laba bagi tiap – tiap perusahaan namum prrinsip –prinsip berlaku umum yang tetap dipergunakan.

Menurut Munawir (2000 : 26 ) : “ Susunan Laporan laba rugi adalah sebagai berikut :

1. Bagian pertama menunjukkan penghasilan yang diperoleh dari

usaha pokok perusahaan ( penjualan barang dagangan dengan memberikan service ) di ikuti dengan hgarga pokok barang / service yang dijual, sehingga diperoleh laba kotor.

2. Bagian kedua menunjukkaan biaya biaya operasionil yang terdiri dari biaya penjualan dan biaya administrasi / biaya umum ( operating expense )

3. Bagian ketiga menunjukkan hasil –hasil yangdiperoleh di luar operasi pokok perusahaan, yang di ikuti biaya – biaya yang terjadi diluar usaha pokok. Perusahaan ( non operating / financial income and expense )

4. bagian keempat menunjukkan laba atau rugi yang insidentil

( extraordinary gain or loss ) sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan.