Kecerdasan Finansial

APakah kecerdasan finansial lebih menyerupai bakat atau pembawaan sejak lahir? Kecerdasan finansial bukanlah bakat. Kecerdasan finansila bisa dipelajari,bisa diasah, disempurnakan, dipertajam terus- menerus. Jika tidakdiasaah terus,iaakan cepat usang. Apakah kecerdasan finansial semata-mata hanya berfokus pada uang? Tidak. Kecerdasan finansial sesungguhnya berfokus pada manusia.

Fokus pada Tujuan yang Jelas
Sebelum menempa diri menjadi cerdas secara finansial, anda harus memiliki tujuan yang jelas. Berikut ini daftar tujuan wajar yang anda bisa gunakan:
1. Ingin menikmati masa tua yang mudah, dan tidak membebani cucu-cucu.
2. Ingin bebas secara finansial. (bisa memenuhi kebutuhan hidup normal tmpa harus bekerja secara fisik).
3. Menjadi kaya (memiliki banyak aset yang produktif).
4. Bisa menolong orang lain.
5. Ingin membahagiakan keluarga.
Semua itu adalah contoh-contoh tujuan yang jelas dan cukup spesifik. Yang perlu dicatat, kecerdasan finansial adalah senjata yang akan sangat merusak jika berada ditangan orang salah. Jadi anda tidak boleh memilikitujuan yang buruk. Tema finansial bukan semata-mata dunia rasional, melainkan normatif. Kekayaan akan menjadi mulia kalau ditujukan untuk sesuatu yang positif bagi umat manusia.

PersepsiMengenai Uang
Perbaharuilah persepsi mengenai uang. Uang bukan segalanya. Kita bekerja bukan semata-mata demimendapatkan uang. Kita bekerja untuk melayani sesama. Kitabekerja, berfikir, bertindak, untuk kebaikan bersama. Uang adalah konsekuensi. Kalau kita bekerja dengan baik, berdasarkan tujuan yang baik, maka hasilnya akan yang baik pula.
Uang bukan tujuan . uang adalh sarana mencapai tujuan. Yang trpenting adalah apakah anda memiliki Rp 1 milyar saat ini, melainkan apa yang akan anda lakukan dengan uang Rp 1 milyar saat ini (kalau uang itu sudah benar-benar ada ditanga anda).
90% orang merencanakanhal-hal konsumtif begitu mendapatkan Rp 1 milyar tunai. Mereka berfikir tentang liburan mewah ke Eropa, naik kapal pesiar, mobil mewah, busana rancangan desainer, pesta, dll.jarang yangpunya rencana untuk membagi dua uang tersebut: separuh untuk beramal dan separuh untuk modal kerja.
Persepsi Mengenai Bekerja
Anda juga harus mengubah persepsi mengenai bekerja. Sekali lagi, bekerja jangan untuk cari uang. Uang addalah konsekuensi. Bekerjaadalah menciptakan nilai tambah yang bermamfaat bagi semua pihak. Bagi diri anda sendiri, bekerja adalahbelajar. Dimanapun anda bekerja, pasti ada sistem dimana uang diciptakan. Nah, pelajarilah sistem itu. Jadi, kelak anda bekerja tidak untuk mencari uang, tetapi menciptakan uang.

Antusiasme
Menjadi kaya dan bebas secara finansial merupakan perjalanan panjang yang tak kenal henti. Ibarat seorang pelari merathon, anda memerlukan langkah-langkah konsisten dalam jangka panjang. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya.
Disinilah antusiasme berperan penting. Anda harus memelihara antusiasme tersebut dalam jangka panjang. Jangan pernah kehilangan gairah. Hanya dengan rasa ketertrikan yang tinggi, rasa ingin tahu yang begitu besar, anda bisamenemukansuatu cara mengakumulasikan aset yang efektif.

Kesenangan Belajar
Mengasah kecerdasan finansial membutuhkan kesenanga belajar terus-menerus. Jagalah agar kesenangaitu tidak menguap. Selalu menggali hal-hal baru, cara baru, mencari tentang fenomena baru, adalah hal-hal yang bisa mengasah terus kecerdasan anda. Teruslahberfikir mengenai caraanda berfikir.
Dunia berubah perilaku manusia juga berubah. Kalau kita percaya bahwa kecerdasan finansial adalah sesuatu yang menyangkut perilaku manusia, maka tidak ada ruang sedikitpun untuk mengistirahatkan otak.
Kecerdasan finansial bukanlah berapa aset yang telah anda akumulasi. Melainkan seberapa canggih carayang anda temukan, sistem yang anda bangun, dan pola berfikiryang anda terapkan.

Pendidikan skolastikdan profesional tidak mengajari kita cerdas secara finansial. Kita belajar kita belajar akunting disana. Namun kita disiapkan untuk jadi book- keeper bagi aset-aset orang lain. Kita tidak belajar untuk mengembangbiakkan aset sendiri. Para guru dan dosen mengajari kita bekerja untuk mencari uang, bukan menciptakan uang.
Disekolah kita belajar menjadi pegawai yang baik, taat, loyal, dan produktif. Dikampus, kita dipersiapkan menjadi skrup-skrup dari mesin uang milik orang lain. Diberbagai kursus terang-terangan kita dilatih bekerja untuk orang lain. Tak satupun yang mengajari kita bebas secara finansial. Itulah kelemahan sistem pendidikan kita sekarang.
Tapi, hanya karena sekolah tidak menyediakan tempat bagi kecerdasan finansial didalam kurikulum, apakah lantas kita tidak mempelajarinya?kita tetap harus mempelajarinya. Mungkin secara langsung didunia nyata. Mungkin juga kita mempelajarinya secara empirik, dengan pengalaman kongkrit. Atau, mungkin kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman orang lain, entah pengalaman gagal atau sukses.

Belajar dari Dunia Nyata
Banyak orang cerdas secara finansial seelah bertahun-tahun berkecimpung dialam nyata. Mereka tahunikmatnya passive income, lantas terus mencoba meningkatkan aset produktif untuk memperbesar pipa saluran kekayaan. Mungkin awalnya tidak sengaja, tetapi setelah berhasil menemukan polanya, mereka menjadi ketagihan.
Memang, tidak semua pengalaman itu manis. Ada pulayang harus lebih dulu jatuh bangun dan babak belur, sebelum akhirnya bisa membalik kegagaln menjadi kesuksesan. Walaupun harus jatuh bangun terlbih dahulu, mereka masih lebih mendingan dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Para pemilik bisnis dari berbagai perusahaan yang arus kasnya positif, pemilikproperti yang disewakan, pemilik mobil ataubarang-barang lain yang disewakan ;mungkin saja merupakan orang-orangyang mempelajari kecerdasan finansial dari tindakan nyata mereka sehari-hari. Mereka bertransaksi, menjual, membeli, dan melakukan dealing setiap saat. Kadang-kadang rugi. itu biasa. Asalkansaja secarakeseluruhan arus kasnya masih positif. Merekapun akhirnya mampu mengompensasi kerugian disatu transaksi dengankeuntungan pada transaksi lain.
Mereka menggunakan trial and error, learning by doing untuk membangun kecerdasan finansial mereka. Nilai plusnya, mereka benar-benar bisa merasakan dan menghayati proses yang sedang dilakukan. Negatifnya, tentu saja, harusmenanggung learning cost yang tidak kecil.

Belajar dari Menthor
Kelompokyang kedua ini secara konseptual sudah memahami prinsip-prinsip kecerdasan finansial. Mereka hanya membutuhkan contoh nyata, yaitu seseorang yang mereka kenal, yang bisa berinteraksi langsung. Belajar dari menthor memang bisa mengeleminasi kemungkinan gagal.setidaknya, ada yang bisa diajak ngomong kalau mau bermanuver kalau mau menjual atau membeli aset. Ada yang memberi petunjuk-petunjuk berdasarkan pengalaman nyata.
Namun disisi lain, belajarlangsung dari menthor jugaada ruginya. Yang paling riskan adalah besar kemungkinan murid yang meng-copy sang guru. Entah strateginya, way of life, maupun nilai-nilai dalam berbisnis. Kalau yang ditiru merupakan sosokyang sempurna luar dalam (cerdas sekaligus eis). Tapi bagaimana kalausang guru ternyata suka berprilaku tidak etis dalam berbisnis, walaupun dia cerdas luar biasa?.
Hal lain yang harus diperhitungkan adalah besarnya kemungkinan untuk menjadi follower seumur hidup. Sehingga tidak berani untuk menerapkan ide-ide orisinal sendiri, atau kurang percaya diri untuk bersikap kreatif. Padahal, perubahan yang kian cepat menuntut kita untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi.

Belajar dari Ahlinya
Anda bisa belajar dari kursus-kursus singkat mengenai kecerdasan finansial. Anda bisa mengikuti short course, training atau seminar mengenai bagaimana meraih kebebasan finansial dalam waktu dingkat. Anda bisa berinteraksi langsung dengan sang pembicara, yang mungkin saja pemotivasi terkenal atau pakar dibidang ilmu menjadi kaya.
Keuntungannya, anda bisa berdialog langsung dengan mereka. Anda bisa menyerap ilmunya. Anda bisa tertular motivasinya yang meledak-ledak. Anda akan tergerak untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang disarankan oleh pembicara. Bukanlah semanga adalah satu jenis “virus” yang menular?.
Ruginya sang pembicara tidak berfokus pada diri anda. Ada ratusan peserta seminar lainnya. Sang ahli hanya mencoba merumuskan resep yang bersifat generik. Padahal, penerapan berbagai strategi finansial harusmempertimbangkan karakter khusus masing-masing orang. Jadi belum tentu apa yang dibicarakan sang pembicara secara berapi-api itu bisa anda lakukan secara sempurna.
Kelemahan lainnya, tidak semua pakar benar-benar mampu menerapkan teori dalam praktiknya. Banyakpakar atau pengamat bisnis yang tak becus mengelolaperusahaan banyak pula penasihat financial yang hidupnya justru terbelit hutang. Jadi, berhati-hatilah.

Belajar dari Buku
Anda juga bias belajar dari buku.belakangan inibanyak buku beredar mengenai kecerdasan financial parapenulis menyajikan berbagai resep, rumus, dan kiat praktis. Baik dengan gaya bahasa simple praktis dan mudah dicerna, sampai kalimat-kalimat akademis yang sulit dimengerti. Dari uraian dengan kosa kata sehari-hari yang gampang dikunyah, sampai rumus-rumus dan angka yang rumit seperti bikin bom nuklir.
Seperti halnya ikut training atau seminar tentang pengelolaan kekayaan pribadi, belajar dari buku juga banyak kelemahannya. Teori dan trik yang ada di buku, kadang-kadang tidak realistis. Apalagi jika ditulis oleh penulis asing, yang memiliki pengalaman nyata diluar negri. Sebabdunia bisnis dan perekonomian di indonesiamemiliki corak yang berbedadengan amerika serikat. Policyekonominya berbeda, inflasi dan suku bunganya beda, dan prilaku manyarakatnya ( konsumen ) jelas sangat berbeda.

Lakukan Sekarang
Cermati bagaimana uang diciptakan. Amati bagaimana asset berpindah tangan. Seraplah ilmu mengenai kecerdasan financial. Entah melalui pengalaman nyata, pola menthoring, menyerap ilmu sang guru, atau membaca buku, yang jelas ada banyak cara untuk mengasah kecerdasan financial anda.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: