CARA CERDAS CARI UANG

Dalam buku ini, pengarang memberikan input suatu pemikiran bagi mereka yang mau bekerja, bosan dengan pekerjaannya, atau ingin beralih profesi dari satu profesi ke profesi yang lain. Di buku ini kita bisa melihat dua alternative profesi : menjadi karyawan atau menjadi wirausahawan. Pertama adalah karyawan. Karyawan belum tentu dapat mencukupi penghidupannya sehari – hari. Karyawan dihadapkan pada rutinitas sehari – hari, harus menaati peraturan tertentu dalam perusahaan dan harus patuh kepada perintah atasan.Padahal dalam masyarakat kita, memiliki pekerjaan seperti menjadi karyawan merupakan suatu kebanggan tersendiri dan umumnya menjadi kebanggan keluarga. Berbeda dengan wirausahawan yang bekerja bukan atas dasar perintah seseorang, tetapi atas dasar keinginannya sendiri. Wirausahawan dapat bekerja menuruti waktu yang diinginkannya, selama tidak mengganggu jalannya usahanya.
Perhitungan persaingan pencari pekerjaan dewasa ini, dianalogikan pengarang seperti deret hitung ( lapangan kerja ), dan pencari kerja ibarat deret ukur. Artinya, bila lowongan kerja itu 4 + 4 = 8, jumlah pencari kerja menjadi 4 x 4 = 16. Demikian seterusnya. Bila mind set para pencari kerja tidak pernah berubah, sudah pasti angka pengangguran di negeri ini tidak akan terkendali. Hal ini diperburk dengan kenyataan bahwa banyak Perguruan Tinggi di negeri ini yang masih sering menyelenggarakan bimbingan karier bagi para mahasiswanya hanya dengan menghadirkan para profesional yang notabene merupakan karyawan perusahaan. Oleh karena itu, tips2 yang diberikannya pun hanya berkisar bagaimana menulis surat lamaran yang baik, menghadapi wawancara kerja, menghasapi psikotes, dan hal – hal semacam itu. Jarang ada Perguruan Tinggi yang menghadirkan pengusaha – pengusaha sukses ntuk membagikan pengalamannya berbisnis dan memberikan tip- tip untuk memulai bisnis agar bias sukses.
Sebuah data tentang pencari kerja terdidik, dipaparkan pula dalam buku ini, contohnya : Dari jumlah pencari kerja di Jawa Tengah, yang mencapai 300.000 – 500.000 orang per tahun, hanya 7% yang bisa terserap di lapangan kerja (Suara Merdeka, Senin, 28 November 2005). Sementara yang 93 % lagi menjadi pengangguran. Selain itu, data dari Kompas, Jum’at, 22 September 2006 memaparkan tahun 2000 jumlah penganggur lulusa universitas sebanyak 277.000 orang (akademi = 184.000). Hal ini menunjukkan bahwa lulusan universitas belum tentu mudah mendapatkan pekerjaan. Bandingkan dengan mereka yang memutuskan sebagai wirausahawan, mereka tidak perlu repot menulis surat lamaran, mengantri berjam – jam, untuk mendapatkan pekerjaan yang terkadang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Wirausahawan dapat memuaskan diri dengan pekerjaannya karena sesuai dengan minat dan bakatnya.
Wirausahawan juga harus memikirkan hal – hal berikut :
a. Keinginan dan Keberanian
b. Intuisi
c. Kemampuan untuk Terus Hidup

Menurut teori Maslow, manusia memliki kebutuhan dasar yang sama. Masing – masing orang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan cara bekerja. Dalam hirarki manapun dalam teori ini, manusia selalu ingin yang terbaik.
Kuadran 1 : Bekerja untuk bertahan hidup
Kuadran 2 : Bekerja untuk mendapatkan rasa aman
Kuadran 3 : Bekerja agar eksistensi dirinya diakui orang lain
Kuadran 4 : Bekerja demi prestise
Kuadran 5 : Bekerja untuk memperoleh pemenuhan diri

Beberapa tips untuk memulai bekerja, baik berja sebagai karyawan maupun sebagai wirausahawan :
1. Berdoa
2. Berkeinginan megubah jalan hidup
3. Berniat bekerja
4. Memilih bidang kerja atau bisnis
5. Memulai kerja atau bisnis dengan perencanaan
6. Mulai dari bawah / kecil dan secara bertahap ditingkatkan / diperbesar
7. Meningkatkan ilmu dan belajar dari orang yang telah sukses di bidangnya
8. Memperluas pergaulan seluas – luasnya (networking)
9. Memperbaiki kekurangan – kekurangan dalam kerja / bisnis maupun perilaku serta memperbanyak amal dan ibadah.

# Kekurangan dan Kelebihan setiap Pilihan
Dalam buku kedua dari seri Rich Dad, yang berjudul Rich Dad’s The Business School for People Who Like Helping People, Robert T. Kiyosaki menguraikan tentang empat macam orang yang terdapat dalam dunia bisnis dan perbedaan nilai inti mereka.

1. E = Employee
2. S = Self Employee
3. B = Business owner
4. I = Investor

Mereka yang memperoleh penghasilan dari sebuah pekerjaan dan memperoleh gaji tetap dari perusahaan atau bisnis yang tidak kita miliki, uang kita mengalir dari kuadran E.
Contohnya : satpam, penjaga gedung, ataupun direktur utama, sejauh status mereka adalah karyawan.
Kalau kita hidup dari komisi atau menerima uang dari pekerjaan yang dihitung perjam, kita mungkin berada di kuadran S.
Contohnya : pengacara, dokter, bisnis keluarga, konsultan, dll.
Mereka ini orang yang kuat dan ulet yang senang mengerjakan sendiri usahanya.
Jika penghasilan kita berasal dari bisnis yang kita sendiri tidak perlu terlibat langssung, kita berada di kuadran B.
Jika penghasilan kita berasal dari investasi, kita berada di kuadran I.
Ada kemungkinan seseorang bisa memperoleh penghasilan lebih dari satu kuadran. Misalnya seorang karyawan suatu perusahaan yang mempunyai bisnis salon di rumahnya, dan masih banyak lagi.

# Kenyamanan dalam Bekerja
a. Sebagai Employee
Banyak orang beranggapan bahwa bekerja sebagai karyawan dijamin akan memiliki kenyamanan dalam hidup. Setiap bulan menerima gaji, bonus, komisi, tunjangan, dana pension, dan lain – lain. Banyak orang lupa bahwa semua itu harus dibayar dengan menaati peraturan perusahaan, meniti karier dari awal, adanya kemngkinan budaya dan lingkungan kerja yang tidak memberikan kepuasan, bahkan harus mengalami stress karena beban kerja yang terlalu berat.
Kita dituntut loyal pada perusahaan karena meningkatnya produktivitas perusahaan sangat bergantung pada produktivitas dan kinerja karyawannya. Risiko terberat adalah bahwa kita bisa diberhentikan sewaktu – waktu (PHK) dengan berbagai alasan.

b. Sebagai Self – Employed
Bekerja sebagai self employed atau wirausahawan mengharuskan kita mengelola sendiri bisnis kita. Bila tidak, kita tidak mendapatkan penghasilan.Oleh sebagian orang (terutama mereka yang bekerja sebagai karyawan), profesi ini dianggap tidak memberikan kenyamanan dalam hidup karena tidak adanya penghasilan yang tidak tetap, tidak ada bonus, tunjangan, maupun fasilitas. Bila usaha kita bangkrut, kita pasti akan mendapatkan kesulitan dalam hidup. Bagi mereka yang bekerja di kuadran ini, menganggap mereka memiliki kebebasan waktu alias tidak terikat harus pergi dan pulang ke kantor pada jam – jam tertentu. Besar kecilnya penghasilan pun ditentuukan oleh jerih payahnya sendiri.
Contohnya adalah penyanyi, musikus, pelukis, MC, advokat. Wirausahawan bisa “membuat” sendiri fasilitas, bonus, maupun tunjangan bagi dirinya sendiri. Tentu saja dengan cara dia harus bekerja cerdas (work smart) untuk mengelola usaha / bisnisnya guna mendapatkan hasil yang diinginkannya, sehingga akhirnya dia bisa mengalokasikannya ke dalam tunjangan bonus maupun fasilitas bagi dirinya.

c. Sebagai Business Owner
Dibandingkan dengan seorang self employed, sseorang business owner (pengusaha) menjalankan bisnisnya dengan lebih bebas. Karena seorang business owner telah membuat suatu “system” dalam bisnisnya sehingga usahanya tidak harus selalu bergantung pada kehadirannya. Biasanya seorang business owner memiliki seseorang yang dipercaya untuk mengelola bisnisnya.
Memang seorang business owner lebih bebas mengatur jam kerjanya karena dia memiliki seorang “manajer” yang bisa mengelola bisnisnya bila dia meninggalkan pekerjaanya. Namun bukan berarti bahwa bisnisnya tetap berjalan lancar. Bila sang “manajer” melakukan kesalahan fatal yang membuat rugi atau bahkan bangkrut bisnis yang dipercayakan padanya kerugian tersebut harus ditanggung oleh sang business owner juga.

d. Sebagai Investor
Seorang investor ( pemodal ) adalah orang yang menanamkan modal (duit ) nya bagi terciptanya suatu bisnis ( usaha ). Sebagai investor, dia tidak harus mengelola bisnisnya. Bisnis yang dimodalinya diharapkan bisa berjalan lancar dan menguntungkan sehingga dia bisa mendapatkan pembagian keuntungan ( profit ) berupa passive income tanpa dia harus bersusah payah memikirkan bagaimana bisnisnya harus berjalan mulus.

Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya tidak ada kenyamanan yang hakiki dalam bekerja. Tinggal kita sendiri yang harus memilih mau berada di kuadran mana kita. Semuanya memiliki risiko akan tidak adanya kenyamanan. Hanya kita sendirilah yang bisa menciptakan kenyamanan dalam setiap pilihan kita. Kuncinya adalah kita harus cerdas dalam mengelola waktu ( time management ).

Diposkan oleh : Syafrizal Helmi
Sumber ; CARA CERDAS CARI UANG MENJADI KARYAWAN ATAU WIRAUSAHAWAN ?, DONNY, S – WARDHANA, PT KAWAN PUSTAKA, 2007

About these ads

2 Responses to “CARA CERDAS CARI UANG”

  1. jadi karyawan buat modal usaha, tapi pekerjaan tetap jangan ditinggalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers

%d bloggers like this: