KONFLIK DAN PERUBAHAN BUDAYA

A. KONFLIK ORGANISASI

1. Pengertian Konflik

Konflik dalam organisasi telah didefinisikan oleh berbagai ahli antara lain sebagai berikut.

a. S.P. Robbins mendefinisikan konflik sebagai suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa ada pihak lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan oleh pihak pertama.

b. Adam Ibrahim Indrawijaya mendefinisikan konflik:

1. Segala macam bentuk hubungan antarmanusia yang bersifat berlawanan.

2. Segala macam bentuk pertikaian yang terjadi dalam organisasi, baik antarseseorang dengan seorang lainnya, seseorang dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok maupun antara kelompok dengan organisasi atau mungkin pula antara perorangan dengan organisasi secara keseluruhan.

2. Jenis-Jenis Konflik Organisasi

Menurut Pandji Anoraga et al., ada lima jenis konflik dalam kehidupan organisasi, yaitu sebagai berikut.

a. Konflik dalam diri individu.

Hal ini terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan, seperti pekerjaan tidak sesuai dengan bidang keahlian seseorang atau kuantitas dan kualitas pekerjaan melebihi kemampuan seseorang.

a. Konflik antarindividu dalam organisasi yang sama.

Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan kepribadian baik antarkaryawan maupun antarkaryawan dan atasan.

c. Konflik antara individu dan kelompok.

Berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka, seperti hukuman individu oleh kelompok karena melanggar norma-norma organisasi/kelompok.

d. Konflik antarkelompok dalam organisasi.

Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan kepentingan dalam organisasi.

e. Konflik antarorganisasi.

Konflik yang timbul karena adanya persaingan antarorganisasi seperti persaingan produk, kerja, teknologi, dan sebagainya.

3. Proses Konflik

Menurut S.P. Robbins, proses konflik dalam suatu organisasi mengalami lima tahap, yaitu tahap oposisi dan ketidakcocokan potensial, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku, dan hasil.

a. Komunikasi

Salah satu mitos utama yang kebanyakan kita sandang adalah komunikasi yang buruk merupakan alasan utama dan konflik-konflik. Seandainya kita bisa berkomunikasi satu sama lain, kita dapat menghapuskan perbedaan pendapat kita. Jadi, komunikasi yang buruk bisa merangsang kesalahpahaman.

b. Struktur

Struktur yang dimaksudkan adalah variàbel-variabel yang berpotensi menimbulkan konflik, seperti ukuran, derajat spesialisasi dalam tugas yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan yurisdiksi, kecocokan anggota, tujuan, gaya kepemimpinan, sistem imbalan dan derajat ketergantungan antara kelompok sam dengan kelompok lain.

c. Variabel pribadi

Faktor variabel pribadi mencakup nilai individual tiap orang dan karakteristik kepribadian yang menyebabkan idiosinkrasi (kekhasan) dan perbedaan individual.

Tahap 2. Kognisi dan Personalisasi

Pada tahap ini, konflik perlu didefinisikan untuk menempuh suatu jalan panjang menuju penetapan jenis hasil yang mungkin menyelesaikannya. Misalnya, persepsi mengenai pengangkatan, apakah kenaikan pangkat atau kenaikan jabatan.

Tahap 3. Maksud

Maksud merupakan keputusan untuk tidak bertindak dalam suatu cara tertentu. Banyak konflik terjadi karena suatu pihak menghubungkan maksud yang keliru pada pihak yang lain. Di samping itu, kadang-kadang ada kemelesetan antara maksud dan perilaku, sehingga perilaku tidak selalu mencerminkan dengan tepat maksud-maksud orang.

Tahap 4. Perilaku

Tahap perilaku mencakup pemyataan, tindakan dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik.

Perilaku ini biasanya secara terang-terangan berupaya untuk melaksanakan maksud-maksud tiap pihak. Tetapi perilaku-perilaku ini mempunyai suatu kualitas rangsangan yang terpisah dan maksud-maksud. Sebagai hasil salah perhitungan atau tindakan yang tidak terampil, kadangkala perilaku terang-terangan menyimpang dan maksud-maksud yang orisinal

Tahap 5. Hasil

Hasil suatu konflik bisa fungsional dalam arti menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok dan bisa pula disfungsional dalam arti merintangi kinerja kelompok.

a. Hasil fungsional konflik

Konflik dapat bersifat konstruksif bila konflik itu memperbaiki kualitas keputusan, merangsang kreativitas dan inovasi, mendorong perhatian dan keinginan anggota kelompok, menyediakan media untuk menyampaikan masalah dan meredakan ketegangan, serta menumpuk suatu lingkungan evaluasi diri dan perubahan.

b. Hasil disfungsional

Konflik disfungsional dapat mengurangi efektivitas kelompok. Konflik ini menghambat komunikasi, mengurangi keterpaduan kelompok dan dikalahkannya tujan kelompok terhadap keunggulan pertikaian antara anggota-anggota.

4. Penyebab dan Akibat Konflik Organisasi

Setidak-tidaknya ada tujuh penyebab utama terjadinya konflik organisasi, yaitu sebagai berikut.

a. Perbedaan pendapat

Perbedaan pendapat dapat menimbulkan suatu konflik karena masing-masing pihak merasa dirinya paling benar.

b. Salah paham

Salah paham merupakan salah satu yang dapat menimbulkan konflik. Salah paham ini bisa terjadi karena pihak satu tidak mengetahui maksud dan tujuan pihak lain, serta kurang komunikasi.

c. Salah satu atau kedua belah pihak merasa dirugikan

Jika salah satu pihak dianggap merugikan yang lain atau masing-masing merasa dirugikan pihak lain, akan dapat menyebabkan orang merasa tidak senang.

d. Perasaan yang terlalu sensitif

Karena perasaan yang terlalu sensitif yang menurut sebagian orang dianggapnya wajar, tetapi pihak lain merugikan.

e. Konflik yang disebabkan struktur

Konflik ini dapat berupa ukuran/besamya organisasi dan spesialisasi, ketidakjelasan yurisdiksi, gaya kepemimpinan tertutup, sistem imbalan yang merugikan, dan derajat ketergantungan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

f. Perilaku yang tidak menyenangkan

Perilaku yang tidak menyenangkan ini bisa dilakukan oleh perorangan, kelompok, manajer, dan pimpinan organisasi. Perilaku perorangan atau kelompok yang tidak sesuai dengan norma-norma organisasi bisa menyebabkan konflik dalam organisasi.

g. Konflik yang disebabkan faktor luar organisasi

Konflik ini terjadi karena pihak luar organisasi/perusahaan melakukan intervensi terhadap suatu organisasi.

Sumber : Drs. H. M Pabunda Tika, MM, Ph.D,

BUDAYA ORGANISASI dan PENINGKATAN KINERJA PERUSAHAAN

About these ads

3 Responses to “KONFLIK DAN PERUBAHAN BUDAYA”

  1. mas ini blog nya bagus bagus..
    tapi ko ga ditaro tool untuk bookmarkin ya :(

    taro widget nya dong dari http://www.addthis.com
    biar banyak yang dateng

  2. tak ada hidup di dunia maka sedang hilangnya konflik di dunia ini jika masih ada manuisa yang hidup di dunia maka semaking terjadi konlfik di dunia ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: