BUDAYA ORGANISASI

Budaya Perusahaan (BP) adalah aplikasi BO terhadap badan usaha (perusahaan). Lebih spesifik lagi, jika BO diaplikasikan pada lingkungan manajemen organisasi, lahirlah konsep Budaya Manajemen (BM).

Menurut Teori Organisasi, organisasi sebagai alat untuk mengupayakan dan memenuhi kebutuhan manusia yang semakin meningkat dengan alat pemenuh yang semakin terbatas, mempunyai tiga fungsi, dan oleh karena itu mempunyai tiga sosok, yaitu:

  1. sebagai alat untuk menciptakan nilai tambah setinggi-tingginya, namun hal itu menimbulkan kesenjangan sosial yang dalam.
  2. terdapat mekanisme untuk mengurangi kesenjangan tersebut melalui intervensi sah lembaga-lembaga Negara terhadap proses dan produk fungsi pertama.
  3. sebagai alat untuk mengontrol perjalanan fungsi pertama dan fungsi kedua.

Dengan demikian, terdapat tiga sosok organisasi berturut-turut, yaitu:

  1. organisasi ekonomi-bisnis atau perusahaan
  2. organisasi publik
  3. organisasi sosial

Pengertian

Geert Hofstede mendefinisikan budaya sebagai “ collective programming of the mind” atau collective mental program. Jika metodologi Hofstede digunakan, maka dapat diidentifikasi tiga tingkat budaya, yaitu universal, koleftif (kelompok), dan individual (pribadi).

Fungsi Budaya

  1. Sebagai identitas dan citra suatu masyarakat. Identitas ini terbentuk oleh berbagai faktor seperti sejarah, kondisi dan sisi geografis, sistem-sistem sosial, politik dan ekonomi, serta perubahan nilai-nilai di dalam masyarakat, perbedaan dan identitas budaya (kebudayaan) dapat mempengaruhi kebijaksanaan pemerintahan di berbagai bidang.
  2. Sebagai pengikat suatu masyarakat. Kebersamaan adalah faktor pengikat yang kuat seluruh anggota masyarakat.
  3. Sebagai sumber. Budaya merupakan sumber aspirasi, kebanggan, dan sumberdaya. Budaya dapat menjadi komoditi ekonomi, misalnya wisata budaya.
  4. Sebagai kekuatan penggerak. Karena budaya terbentuk melalui proses belajar-mengajar maka budaya itu dinamis, resilient, tidak statis, tidak kaku.
  5. Sebagai kemampuan untuk membentuk nilai tambah.
  6. Sebagai pola perilaku. Budaya berisi norma tingkah laku dan menggariskan batas-batas toleransi sosial.
  7. Sebagai warisan. Budaya disosialisasikan dan diajarkan kepada generasi berikutnya.
  8. Sebagai substitusi (pengganti) formalisasi.
  9. Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan. Dilihat dari sudut ini, pembangunan seharusnya merupakan proses budaya.
  10. Sebagai proses yang menjadikan bangsa kongruen dengan Negara sehingga terbentuk nation-state.


Maraknya pasar SDM asing di Indonesia tidak semata-mata karena kekurangan SDM domestik yang ketrampilan dan keahliannya setara, melainkan kareana BO SDM asing lebih cocok dengan manajemen modern yang menuntut profesionalisme dan kemampuan berbisnis global ketimbang BO SDM domestik yang masih tradisional, paternalistik, resisten, dan tidak terbuka. Belum lagi muatan politiknya. SDM asing membawa serta budaya pribadi, budaya kelompok, atau budaya organisai asalnya, masing-masing bermuatan nilai dari luar, masuk ke dalam organisasi atau perusahaan setempat.

Bisnis executive search dan head hunter juga semakin gencar dilakukan oleh konsultan SDM professional dan perorangan dari suatu perusahaan ke perusahaan lain. Bonus yang tinggi bagi mereka yang berhasil menggaet SDM handal dari perusahaan lain ke perusahaan kliennya merupakan daya tarik yang kuat untuk bisnis ini. Tetapi lepas dari bisnis executive search dan head hunter tersebut, SDM bermutu dari luar diharapkan mampu menghembuskan iklim baru dan segar di dalam organisasi dan menyumbangkan nilai-nilai baru dan relevan bagi proses pembentukan dan pembaruan BO.lainnya adalah pihak-pihak yang berkepentingan seperti pemegang saham, karyawan dari berbagai subkultur, manajemen, pelanggan, pemerintah, bank, mitra usaha, pesaing, oposan, musuh-dagang dan sebagainya.

Bagi Indonesia, sumber utama BSI sesungguhnya adalah masyarakat budaya Indonesia yang bhinneka sifatnya. Kebhinnekaan itu terlihat pada heterogenitas etnik, kemajemukan budaya, dan keanekaragaman potensi dan kondisi geografis.Masyarakat sebagai sumber nilai dapat menyumbangkan BSI ke dalam OSI dan OSO tanpa harus memasukinya secara pribadi, yaitu melalui berbagai media massa dengan mempergunakan teknologi informasi yang semakin canggih dan nyais tak terbatasi oleh waktu dan tempat. Masyarakat diharapkan melakukan hal ini dalam kedudukannya sebagai konsumen atau distribusi produk-produk organisasi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: